MAKASSAR, BKM — Tak mau menyia-nyiakan waktu yang tersisa, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo secara khusus meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo-1 di Desa Lengke-lengkese, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Rabu (4/4).
PLTB ini akan menjadi pembangkit listrik tenaga angin terbesar kedua di Sulsel setelah PLTB Sidrap. PLTB Sidrap sendiri merupakan PLTB terbesar di Indonesia.
Dengan investasi sebesar USD 160,7 juta, PLTB Tolo-I akan dipasang 20 turbin angin dengan masing-masing kapasitas 3,6 megawatt (MW). Sehingga total kapasitas pembangkit mencapai 72 MW.
Tak kurang dari 60 baling-baling akan dikirim ke lokasi proyek hingga akhir April 2018. Model turbin yang dipasang di PLTB ini memakai jenis Siemens DD On-Shore 3,6 WTG. Dua unit transformator Siemens selesai dipasang dengan kapasitas masing-masing 45 MVA.
Nantinya, pembangkit berbasis angin tersebut akan terkoneksi dengan jaringan transmisi sebesar 150 KV. Sebanyak 4 dari 10 tower transmisi 150 KV telah selesai dibangun, yang akan terinterkoneksi melalui gardu induk Jeneponto.
Energi listrik PLTB Tolo-I dihasilkan dari kecepatan angin sebesar 6 m/s yang merupakan potensi angin cukup besar untuk dikembangkan secara komersial. Penandatangan jual-beli atau Power Purchase Agreement (PPA) diteken oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) bersama PT Energi Bayu Jeneponto sejak tanggal 14 November 2016, dengan harga jual listrik 10,89 USD cent/KWH.
Berdasarkan PPA tersebut, proyek akan selesai dan Commercial Operation Date (COD) pada 14 November 2019. Hadirnya PLTB Tolo-I Jeneponto akan melengkapi keberadaan PLTB Sidrap untuk meningkatkan kontribusi energi berbasis angin di Indonesia, disamping semakin meningkatkan kehandalan kelistrikan di Sulawesi Selatan, yang saat ini rasio elektrifikasinya telah mencapai 99,12 persen.
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo berharap PLTB Tolo-1 sudah bisa diujicobakan dua hingga tiga bulan ke depan.
Usai meninjau PLTB Tolo-1, Syahrul melakukan penandatanganan Komitmen Bersama Pembangunan PLTB di Kabupaten Takalar. SYL mengatakan, ini menjadi tonggak sejarah lahirnya budaya baru energi di Kabupaten Takalar.
Menurutnya, penyediaan energi baru dan energi terbarukan wajib ditingkatkan oleh pemerintah sesuai kewenangannya.
PT PLN (Persero) Wilayah Sulselrabar telah mewujudkan energy berkeadilan melalui peningkatan ratio elektrifikasi. Di mana pada tahun 2017 lalu, rasio elektrifikasi sebesar 97,18 persen, rasio desa kelistrikan di Sulawesi Selatan sebesar 92,3 persen. Untuk Kabupaten Takalar, rasio elektrifikasinya sudah mencapai 100 persen.
Syahrul melanjutkan, pertambahan kebutuhan energi listrik sebesar 8 persen setiap tahun dan pertumbuhan ekonomi 7,2, maka beberapa tahun lalu meskipun sempat over kapasitas 200 MW, sekarang ini tinggal 70,7 MW. Dan jika tidak ada pembangkit baru, maka kemungkinan kita akan mengalami defisit listrik yang berujung pada pemadaman bergilir.
“Kami akan menyampaikan kepada pemerinta pusat melalui Rencana Umum Energi Daerah (RUKD) agar memberi dukungan kepada PT PLN Sulselrabar agar dapat meningkatkan sistem kelistrikan, sehingga dapat menampung lebih banyak energi intermiten seperti tenaga bayu dan tenaga surya, serta mengurangi impor energi berbasis fosil seperti batubara dan diesel,” kata Syahrul.
Direktur Konstruksi PT Energi Bayu Jeneponto Peter Oliver sangat berterima kasih kepada gubernur, yang selama ini memberi ruang dan kemudahan untuk hadirnya PLTB Tolo-1.
Dia bahkan menyebut Syahrul sebagai Bapak Energi Terbarukan di Sulsel, karena orang nomor satu Sulsel itu sudah merintis dan mendorong hadirnya energi listrik terbarukan. (rhm/rus)
Di PLTB Tolo-1, Disebut Bapak Energi Terbarukan di Sulsel
×

