MAKASSAR, BKM — Hari masih pagi, Jumat (6/4). Mentari baru beranjak naik dari peraduannya. Aktivitas yang berbeda dari biasanya terlihat di lingkungan kantor gubernur Sulsel Jalan Urip Sumohardjo, Makassar.
Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berkantor di tempat ini sudah ramai berdatangan. Mereka lalu beramai-ramai menuju ke lapangan upacara yang berada di bagian belakang gedung perkantoran yang cukup luas ini.
Tak berselang lama, satu persatu pejabat pemprov mulai berdatangan. Barisan pun lalu diatur. Apel akbar segera dimulai.
Ribuan ASN dari seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Sulsel tumpah ruah di sini. Tak terkecuali, mantan Sekretaris Provinsi Sulsel Abdul Latief yang secara khusus datang dari Pinrang.
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo yang akan memimpin apel akbar ini, tiba di lokasi. Suasana penuh haru langsung terasa. Jalannya apel penuh khidmat.
Wajar jika hal itu terjadi. Sebab, ini merupakan apel terakhir yang dipimpin SYL sebagai gubernur. Ia akan mengakhiri tugasnya pada 8 April besok, setelah satu dekade mewakafkan dirinya untuk mengurus masyarakat Sulsel.
Seperti biasa, Syahrul memberi sambutan. Bukan tertulis, melainkan lisan yang sudah menjadi kebiasaannya selama ini.
Apel yang semula khidmat, berangsur diliputi kesedihan. Tetesan air mata dari ASN tak lagi terbendung.
Dengan penuh perasaan, Syahrul menyampaikan rasa terima kasih, harapan serta permohonan maaf jika selama 10 tahun memimpin Sulsel, ada salah atau khilaf yang dilakukan.
Gubernur Sulsel dua periode itu mencoba mencairkan suasana dengan beberapa candaan. Namun tak mampu menutupi keharuan yang tercipta.
“Kalian adalah saudara saya. Sahabat saya. Kalian adalah teman saya. Kalian adalah segalanya bagi saya. Dan hari ini adalah hari terakhir saya memparipurnakan tugas saya,” kata SYL memulai arahannya dengan nada bergetar.
SYL menyampaikan, Senin nanti (19/4), dirinya sudah melaksanakan serah terima jabatan (sertijab) kepada pelaksana tugas (plt) gubernur.
Ia ingin menyampaikan beberapa hal. Namun, lagi-lagi kata-katanya tertahan oleh rasa haru. Demikian juga para peserta apel.
“Tentu saya ingin menyampaikan banyak hal. Tapi pasti tidak bisa saya rangkum dalam bahasa yang tepat,” ujarnya.
Ia meminta agar peserta apel akbar tidak menangis. Sebab dirinya akan terpengaruh.
“Jangan menangis. Karena kalau kamu menangis, saya juga ikut menangismi,” ucapnya sambil menyeka sudut matanya.
SYL kemudian menyebutkan apa yang diraih Sulsel karena hadirnya para aparat ASN dan masyarakat yang baik. Selama 10 tahun, telah ditorehkan prestasi nasional dan internasional dengan total 244 penghargaan. Pertumbuhan ekonomi naik 500 persen.
Ia memotivasi, agar cita-cita menjadikan Sulsel sebagai provinsi terbaik dilanjutkan, walaupun dirinya sudah tidak memimpin Sulsel.
“Kalian adalah bagian dari proses perjalanan. Apakah kalian sudah di puncak? Tidak. Kalian harus meneruskan lebih kuat lagi dari apa yang ada. Ini baru berproses,” tandasnya.
Di bagian lain pernyataannya, Syahrul mengaku ingin mengakhiri jabatannya dengan baik. “Tikungan itu bukan akhir dari perjalanan,” imbuhnya.
Dalam sepuluh tahun, ia bangga dengan kinerja aparatur negara yang ikut membantunya. “Hari ini, saya akan tinggalkan kalian. Saya mau dengar kabarnya besok lebih baik,” sebutnya.
Usai upacara, SYL bersilaturahmi bersama seluruh pegawai yang ada. Istrinya Ayunsri Harahap mendampingi Syahrul. (rhm/rus)
Syahrul: Jangan Menangis!
×

