pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Naik Motor Toraja-Makassar untuk Legalisir Ijazah

MAKASSAR, BKM — Seorang petani asal Kabupaten Tana Toraja mampu menembus 15 besar seleksi calon komisioner KPU setempat. Henok Payung Langi namanya.
Pria kelahiran Tana Toraja, 29 Mei 1970 ini tidak minder bertarung dengan peserta seleksi lainnya. Tahapan wawancara sebagai proses akhir seleksi telah dilaluinya.
BKM menemui Enos –sapaan akrabnya– di sela-sela mengikuti wawancara oleh panitia seleksi (pansel) di Grand Asia Hotel, Jalan Boulevard, Makassar, Selasa (17/4).
Menurut Enos, di kampung halamannya Tana Toraja ia berprofesi sebagai petani. Sawah tadah hujan yang digarapnya. Pekerjaan tersebut bukan penghalang baginya untuk bersaing menjadi komisioner di lembaga pelaksana pemilu Tana Toraja.
”Saya petani yang menggarap sawah dan menanam padi. Sawahnya tadah hujan. Dalam setahun hanya bisa panen sekali. Kalau beruntung, bisa dua kali. Selain itu, tidak ada kegiatan lagi,” ujar Enos.
Namun, Enos berbeda dengan petani pada umumnya. Sebab dia punya pengalaman kerja dan latar belakang pendidikan yang berbeda.
Sebelum kembali ke kampungnya di Tana Toraja, Enos pernah tercatat sebagai honorer di koperasi Polda Sulsel.
Pekerjaan itu digelutinya selama 11 tahun. Namun, karena status di tempat kerjanya ini tidak jelas, Enos pun memutuskan untuk pulang kampung.
Sementara untuk pendidikan, Enos merupakan seorang sarjana. Ia mengenyam pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin angkatan 1990. Menyelesaikan kuliah di bulan Desember 1995 pada jurusan administrasi negara.
”Saya pernah bekerja sebagai tenaga honorer di koperasi Polda Sulsel selama 11 tahun. Sempat berusaha agar bisa terangkap menjadi pegawai. Tapi setelah saya cek, ternyata data tidak lengkap sehingga tidak terproses. Itu yang membuat saya keluar dan meninggalkan Makassar kembali ke Toraja,” tuturnya.
Enos mengaku tak pernah malu dengan profesinya sebagai petani. Gagal meraih peluang untuk menjadi seorang pegawai, dia lalu berpikir memanfaatkan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah.
”Saya tidak mau ilmu di bangku kuliah tak digunakan. Makanya saya ikut seleksi ini,” terangnya memberi alasan.
Dia punya penilaian dan pandangan terhadap pelaksanaan pemilu. Menurutnya, ada masalah klasik yang terjadi dalam setiap perhelatan pesta demokrasi ini. Salah satunya pengamanan yang membutuhkan biaya begitu besar.
”Padahal, pendekatan kepada masyarakat itu solusinya. Bukan menjadikan pemilu sebagai momok yang menakutkan. Pemilu hendaknya menjadi hal yang menggembirakan. Bersama-sama berdemokrasi dan hasilnya untuk semua. Apapun hasilnya, itu kemenangan bersama. Bagi yang kalah, harus legowo,” terangnya.
Khusus bagi pendukung yang hendak menyalurkan aspirasinya, menurut Enos, kenapa tidak duduk bersama guna memberikan saran kepada calon. Bukannya menggelar aksi di jalan dan saling gontok-gontokan.
Selama 30 menit menjalani tes wawancara kemarin, Enos menyebut perlu adanya
”Itu yang saya sampaikan pada timsel. Disini dibutuhkan inovator, yang punya ide-ide untuk menghadapi pemilu. Motivasi itu yang membuat saya maju ikut seleksi,” tambah Enos usai wawancara selama 30 menit dengan pansel.
Ayah dua anak ini mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Yang sulung duduk di bangku kelas 3 SMP, sementara si bungsu kelas 1 SMP.
Enos memiliki keluarga yang sangat mendukung, mengerti dan mendoakan kelulusannya “Semoga bapak lulus. Itu anak saya yang doakan,” imbuhnya.
Sebelumnya, lima tahun lalu Enos juga ikut seleksi calon komisioner KPU Tana Toraja. Hanya saja, ia sampai ada tahap 10 besar.
”Butuh pengorbanan ikut seleksi ini. Pada saat mengurus kelengkapan syarat administrasi, saya naik motor dari Toraja ke Makassar hanya untuk legalisir ijazah. Semoga ini ada hikmahnya,” harap Enos. (jun/rus)



×


Naik Motor Toraja-Makassar untuk Legalisir Ijazah

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar