LUTIM, BKM — Umat hindu di Kabupaten Luwu Timur memperingati dharmasantih di Wantilan Pura Agung Amertasari, Desa Taripa Kecamatan Angkona, Sabtu (21/4) kemarin.
Ketua panitia I Gede Widarta mengatakan, pelaksanaan nyepi adalah konsep memulai dari nol dan kembali pada nol. Konsep memulai dari nol sebagai konsep nyepi sebagai keheningan (nol) kemudian setelah pelaksanaan nyepi kembali pada nol yaitu mencapai moksatam jagadhita.
“Dalam konteks pencapaian jagadhita (kesejahteraan) pada kehidupan nyata maka dilaksanakanlah dharma santi pada awal tahun baru saka yang bertujuan untuk menjaga harmonisasi manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dalam konteks kesejahteraan alam nyata perlu kita melakukan interkoneksi dengan lingkungan dengan masyarakat sehingga pada saat memulai yang baru kita memulai dengan acara dharma santih.
“Kegiatan dharmasanti desa taripa merupakan dharmasanti yang pertama kalinya diadakan di desa taripa,” ungkapnya.
Bupati Luwu Timur, HM Thorig Husler mengapresiasi acara Dharma Santih kal ini. Menurutnya, jika dalam ajaran Islam, Dharma Santih itu sama dengan Halal Bihalal.
“Pada dasarnya sama, jadi disini bisa kita melihat bahwa tidak ada persatuan tanpa adanya keberagaman atau perbedaan,” ungkapnya.
(alp/C)
Umat Hindu Peringati Dharmasantih
×

