MAKASSAR, BKM — Jumat malam (20/4) pukul 21.20 Wita di sebuah ATM Center. Seorang perempuan berhijab yang memegang helem dan tas di punggung terlihat masuk.
Ia kemudian menyimpan helemnya di lantai. Di belakangnya menyusul seorang bocah perempuan berbaju biru dan celana sebetis. Ia tak mengenakan alas kaki. Wanita berjilbab itu lalu membalik tasnya dan mengambil kartu ATM miliknya.
Tak lama berselang masuk lagi seorang perempuan yang juga berhijab dan masih mengenakan helem. Di belakangnya mengikut seorang anak perempuan berbaju biru muda dengan lengan warna merah. Celananya ukuran selutut dan tidak memakai alas kaki.
Dua perempuan pengunjung ATM itupun lalu bertransaksi. Di saat bersamaan, dua bocah yang mengikutinya juga beraksi. Mereka berpura-pura menawarkan barang yang dijualnya, sambil jari-jarinya memencet ATM. Aksi bocah ingusan tersebut tak menimbulkan kecurigaan dari dua perempuan pemegang kartu.
Usai melakukan transaksi, kedua perempuan itupun keluar meninggalkan ATM. Seorang bocah wanita mengikut keluar. Satu lainnya masih berada di dalam ATM center.
Ternyata, ada yang ditunggunya. Tak lama kemudian keluar uang dari mulut mesin ATM. Bukan hanya satu, melainkan dari dua mulut mesin ATM yang mengeluarkan uang hampir dalam waktu yang bersamaan. Bocah perempuan itupun langsung mengambil uang tersebut dan membawanya pergi.
Aksi keduanya terekam kamera CCTV (Closed Circuit Television) yang terpasang di ATM center tersebut. Belakangan diketahui, lokasi kejadian berada di depan pondok pesantren IMMIM Jalan Perintis Kemerdekaan. Masuk dalam wilayah hukum Polsek Tamalanrea.
Rekaman berdurasi 01.54 menit itupun kemudian tersebar secara masif dan menjadi viral di dunia maya. Petugas Resmob Polsek Tamalanrea lalu bergerak melakukan penyelidikan.
Hasilnya, dua bocah itupun berhasil diamankan, Kamis (26/4). Mereka adalah WE yang berusia 11 tahun, dan RS berumur 9 tahun. Keduanya warga Jalan Perintis Kemerdekaan IV, Kelurahan Tamalanrea Jaya, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar.
”Berdasarkan rekaman CCTV ATM Center di lokasi kejadian, anggota resmob kemudian melakukan penyelidikan. Tempat tinggal dua anak yang sering nongkrong di sekitar ATM itu didatangi. Mereka lalu diamankan,” ujar Kapolsek Tamalanrea Kompol Syamsuddin Bachtiar, kemarin.
Kedua bocah itupun kemudian menjalani pemeriksaan. Kepada polisi, dia mengakui perbuatannya.
”Mereka awalnya berada di sekitar ATM center. Saat ada pengunjung yang masuk ke dalam untuk bertransaksi, keduanya mengikut dan berpura-pura menawarkan bawang jualannya,” terang Kompol Syamsuddin lagi.
Memanfaatkan kelengahan nasabah, tambah Kapolsek, pelaku kemudian menekan petunjuk nominal uang yang tertera di layar ATM. Akibatnya, transaksi lanjutan berlangsung pada saat pemilik kartu meninggalkan mesin ATM. Uang yang keluar dari mesin ATM lalu dibawa kabur pelaku.
”Uang yang diambil senilai ratusan ribu. Sudah habis dipakai untuk belanja,” tandasnya.
Pengakuan lainnya, kedua bocah tersebut sudah tiga kali melakukan aksi serupa di bulan April ini. Yang pertama di sebuah ATM dalam kampus Unhas. Mereka menguras uang korban Rp3,7 juta.
Selanjutnya, pertengahan April, keduanya beraksi di ATM center depan pesantren IMMIM Jalan Perintis Kemerdekaan. Total uang yang digasak sebesar Rp800 ribu.
Aksi lainnya seperti dilaporkan korban Febrianti ke Polsek Tamalanrea. Ia mengaku uang miliknya yang dikuras sebesar Rp 500 ribu. Laporannya terlampir dengan nomor LP/522/IV/2018/Restabes/Sek Tamalanrea.
”Modus dalam setiap aksinya selalu sama,” ujar Kapolsek.
Dibawa ke Rumah Aman
Usai diamankan aparat Polsek Tamalanrea, dua bocah wanita itu kemudian dibawa ke Mapolrestabes Makassar. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar Tenri A Palallo telah menemui keduanya di kantor polisi.
”Saya sekarang ada di polrestabes bertemu Pak Kapolrestabes dan Pak Kasat terkait dua anak yang diamankan terkait kasus pembobolan ATM,” ujar Tenri melalui sambungan telepon selular, Kamis sore (26/4).
Kepada BKM, Tenri menyatakan aspirasinya terhadap atensi Kapolrestabes Makassar Kombes Irwan Anwar dalam kasus ini. Selanjutnya, WE dan RS akan dibawa ke rumah aman milik DPPPA Kota Makassar.
Selaku pihak yang banyak mengurusi masalah perempuan dan anak di Kota Makassar, Tenri mengaku sangat prihatin dengan kasus terbaru ini. Apalagi dari hasil penelusurannya, ternyata ibu dari salah satu anak yang terlibat dalam pembobolam ATM tersebut masih berusia 28 tahun.
”Menyedihkan, ibunya masih muda. Usia 28 tahun. Kemungkinan dari pernikahan dini,” kata Tenri. (jul/rus)

