MAKASSAR, BKM — Ada harapan untuk kelanjutan proyek kereta api Trans Sulawesi di daerah ini. Untuk melanjutkan pembangunannya, pemerintah mengambil skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).
Program pembangunan jalur ketera api Provinsi Sulsel termasuk dalam proyek strategis nasional, dan masuk dalam 30 proyek infrastruktur prioritas berdasarkan Permenko Bidang Perekonomian Nomor 12 Tahun 2015.
Khusus untuk pengadaan tanah skema KPBU, dananya disiapkan dari APBN dan APBD. Tahap pelaksanaan pengadaan tanah oleh Kantor Wilayah (Kanwil) ATR/BPN Provinsi Sulawesi Selatan, bersama dengan Kantor ATR/BPN Kabupaten Maros, Pangkep, Barru dan Parepare saat ini sementara berjalan.
Untuk tahap I, 30 km telah selesai 100 persen. Tahap II, Parepare sepanjang 10,5 km sementara dalam tahap pengumuman hasil pengukuran, inventarisasi, dan identifkasi. Sementara di Kabupaten Barru sepanjang 40 km. Pengadaan lahannya telah mencapai 95 persen.
Tahap III, sementara dilakukan identifikasi dan inventarisasi. Sedangkan tahap IV, menunggu hasil review BPKP untuk proses
pembayaran.
Direktur Lalulintas dan Angkutan Kereta Api (LLAK) Zulmafendi, menjamin jika proyek ini akan dirampungkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
“Insyaallah bisa dioperasikan awal tahun 2019 untuk 44 km dari arah Barru-Parepare,” ungkap Zulmafendi.
Dia menjelaskan, pembangunan proyek kereta api ke depan dilakukan dengan model segmen yang dibagi dalam segmen A, B, C, dan D. Segmen C merupakan trayek dari Maros hingga ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Sementara segmen B dari trayek utama Maros masuk ke Semen Bosowa. Segmen C dari trayek utama di Pangkep ke Semen Tonasa. Sementara segmen D, dari trayek utama di Barru ke Pelabuhan Garongkong.
“Sengaja kita membagi per segmen agar pengerjaannya bisa terbagi. Biayanya juga diperkirakan bisa lebih efisien,” tambah Zulmafendi.
Dia menargetkan, trayek kereta api sepanjang 112 km dari Makassar-Parepare, baik untuk penumpang dan barang sudah bisa dipergunakan tahun 2021 mendatang.
Untuk tahap pertama dilakukan lelang untuk jalur pendukung atau belok (siding tracks) sepanjang 13,9 km. Jalur ini akan menghubungkan jalur utama dengan dua pabrik semen, yaitu Semen Bosowa dan Tonasa.
Dia mengatakan, pembangunan jalur tersebut sudah lelang ini diikuti oleh 24 perusahaan. Enam di antaranya merupakan perusahaan dalam negeri. Pengumuman dan proses penandatanganan kontrak senilai Rp1,2 triliun dilakukan November ini.
“Mereka akan membangun siding track. Kedua, melakukan perawatan dari segmen F ke B selama 20 tahun, tapi bukan sebagai pengelola. Ketiga, memberikan fasilitas operasi dan menyediakan fasilitas untuk depo,” katanya usai FGD pembangunan kereta api Makassar-Parepare di Hotel Claro, Rabu (18/7).
Zulmafendi melanjutkan, khusus untuk jalur utama mulai segmen A, B, C, D dan E tetap akan dikerjakan oleh pemerintah. Di mana untuk tahap pertama akan dioperasikan sekitar 44 km di daerah Barru dan Pangkep awal tahun 2019.
Saat ini telah selesai 14 km, dengan progres 84,7 persen dari target 44 km. Untuk operator yang akan melayani angkutan perintis penumpang ini juga akan dilelang. Ini merupakan pertama kalinya operator KA ditangani oleh swasta.
“Pembangunan tetap akan dilanjutkan sampai 2020. Untuk angkutan barang akan beroperasi awal tahun 2021. Operator angkutan penumpang ini harus memiliki gerbong, lokomotif dan SDM,” jelasnya.
Sebagai angkutan perintis, pihaknya akan mengoperasikan dua kereta. Masing-masing kereta akan memiliki satu lokomotif dan 3 gerbong dengan kapasitas penumpang 300 orang.
Khusus pembangunan stasiun kereta api, pihaknya sementara mengusulkan penetapan lokasi ke pemerintah daerah. Dirjen Perkeretaapian berharap, pemda bisa membuat akses jalan ke stasiun.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulsel Jufri Rahman, berharap pemerintah pusat bisa meyakinkan Pemprov Sulsel jika proyek ini bisa berlanjut terus alias tidak mandek.
Dia menegaskan, meskipun pekerjaan kereta api dilakukan KPBU, namun tetap memperhatikan masyarakat sekitar untuk direkrut sebagai tenaga kerja lokal.
“Kami sangat berharap banyak pada proyek ini. Jangan sampai kami hanya bisa menyanyi naik kereta api saja, ” ungkapnya.
Dia juga memastikan sudah saatnya kereta api hadir di Sulsel sebagai moda transportasi alternatif. Mengingat saat ini pertambahan volume kendaraan cukup drastis, sementara perkembangan jalan tidak naik signifikan. (rhm/rus)
Kereta Api Sulsel Berlanjut dengan Skema KPBU
×

