NAMIRA kini telah abadi pada pembaringan terakhirnya di Kabupaten Pangkep. Cewek berusia 19 tahun itu merupakan satu dari enam korban meninggal dunia dalam kebakaran di Jalan Tinumbu Lorong 166 B, Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tello. Namun, kebersamaannya semasa hidup akan terus dikenang oleh sahabat-sahabatnya.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
DI MATA teman-temannya, almarhumah Namira adalah sosok yang tak pernah marah. Ia suka bercanda dan melucu. Setidaknya itulah kenangan sahabatnya, Rismawati dan Mawaddah Amir.
“Dia itu tidak pernah marah. Apalagi sama kita. Baik sekali orangnya. Suka bercanda. Melucu juga. Makanya kita waktu tahu kalau Namira sudah tidak ada, langsung drop. Syok sekali,” tutur Rismawati yang juga merupakan teman kelasnya.
Rismawati dan Mawaddah adalah sahabat Namira sejak pertama kali masuk di Akademi Kebidanan (Akbid) Yapma Makassar. Mereka adalah mahasiswi angkatan 2015 di kampus itu.
Sekitar tiga tahun lalu mereka berkenalan. Hingga hayat Namira pun, mereka masih tetap menjalin persahabatan. Karenanya, keduanya begitu terpukul ketika mendengar sahabatnya itu telah pergi untuk selama-lamanya.
Hampir tiap hari ketiganya berkumpul bersama di indekos milik Rismawati di Jalan Kemauan, Makassar. Apapun ia ceritakan. Keluh kesah mereka, sampai curhatan mengenai kekasih hati. Hal itu masih terngiang betul di ingatan mereka tentang kebersamaan yang dilalui.
Rismawati dan Mawaddah sesekali meneteskan air mata saat bercerita kepada BKM tentang Namira. Mereka terlihat begitu terpukul. Karena seharusnya kemarin, Selasa (7/8) mereka yudisium bersama. Dan pada 6 September 2018 nanti, mereka juga melakukan prosesi wisuda bersama.
“Iya, harusnya kita hari ini (kemarin) yudisiumki sama-sama. Bulan depan bisaki pakai toga juga sama-sama,” kata Risnawati sambil mengusap matanya yang sembab.
Mereka tak memiliki firasat sama sekali akan kepergian sahabatnya ini. Hanya saja, ditambahkan Mawaddah, Namira selama sebulan sebelum kejadian, selalu membawakannya nasi. Katanya nasi itu dibuat oleh neneknya, dan Namira mau kalau nasi itu dimakan bersama oleh sahabatnya.
“Satu bulananmi ini Namira selalu bawa nasi ke kos. Dia bilang neneknya yang buat. Dia bilang sama neneknya, dia tidak mau makan di rumah karena nanti tidak habis. Makanya dia bawa ke kos untuk makan sama-sama kita,” kenang Mawaddah.
Rismawati dan Mawaddah pun masih sempat bersama Namira saat malam sebelum kejadian. Mereka masih bersama hingga Namira pulang tepat pukul 22.00 Wita.
Rismawati juga mengatakan jika di hari saat kebakaran terjadi, Namira sebenarnya telah berjanji ingin menemui mereka untuk mengerjakan revisi KTI penyelesaiannya. Namun apa bisa dikata, takdir berkehendak lain.
Pada hari rencana pertemuan itu, teman-temannya menemui Namira di kamar mayat dengan kondisi yang telah hangus terbakar. Rismawati, Mawaddah, serta teman-teman sekelasnya yang lain pun langsung syok melihat Namira hari itu.
Pengalaman bersama yang tak bisa dilupa dari Rismawati dan Mawaddah saat bersama Namira, adalah kala mereka dan teman-temannya yang lain melakukan pendakian ke Gunung Bulusaraung. Yang tak bisa terlupakan adalah bagaimana mereka terus membujuk Namira untuk sampai di puncak gunung.
“Tidak bisa saya lupa itu waktu sama-samaki naik ke Gunung Bulusaraung. Dia sempat ngambek karena dan mau balik ke rumahnya saja. Lama dibujuk, dan akhirnya samaki sampai di puncak,” carita Rismawati dan Mawaddah yang lagi-lagi meneskan air mata.
Di mata dosen-dosennya, Namira dikenal sebagai mahasiswi yang ceria dan sopan. Begitulah yang dikatakan oleh dosen pembimbingnya Narfin.
Narfin sudah selama tiga tahun ini menjadi pembimbing labskill Namira. Baginya, Namira adalah anak yang rajin. Tak pernah sekalipun ia terlambat saat Narfin mengajar. Selalu tepat waktu. Semua ujian dan tugas-tugasnya juga selalu dikerjakan dengan baik.
“Tugas-tugasnya semua selalu dikerja. Ujian labskillnya juga lulus. Pokoknya dia itu tidak ada blacklist. Semua nilainya masuk,” kata Narfin.
Dosen lainnya yang merupakan koordinator kelas, Karneli juga menilai Namira adalah mahasiswi yang begitu baik. Namira di mata Karneli adalah sosok yang manja namun selalu ceria.
“Anak itu kalau ada masalahnya tentang kuliah, selalu datang ke kita. Dia curahkan semua kendalanya selama perkuliahan dan selalu minta solusi. Baik sekali anaknya,” tutur Karneli. (nug/rus/b)

