pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

”Dia Peluk Kakiku dan Bilang; Jangan Tinggalkanka”

PERISTIWA kebakaran maut di Jalan Tinumbu telah dua hari berlalu. Namun, kisah pilu dari keluarga yang ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh enam orang sekaligus dalam kejadian itu, terus bermunculan dan menjadi cerita haru.
Kali ini datang dari Hamzah Subair. Ia adalah bapak dari Hijaz, bocah umur 2,5 tahun yang meninggal dalam kebakaran, Senin dini hari (6/8). Hijaz menemui ajal dengan cara tragis bersama kakek, nenek tante serta dua sepupunya.
Mengenakan jubah berwarna biru, Hamzah tampak tertunduk dalam diam di lokasi kebakaran, Rabu (8/8). BKM mencoba menghampirinya. Ia mulai berbicara dan mengenang anak bungsunya.
Menurut Hamzah, ia terakhir kali bersama putra kecilnya itu pada hari Jumat (4/8), atau tiga hari sebelum kebakaran terjadi. Ada tutur kata dari sang anak yang begitu berbekas dan selalu tergiang di telinga Hamzah.
Dengan mata berkaca-kaca, Hamzah tak pernah menyangka hari Jumat itu merupakan perjumpaan terakhirnya dengan Hijaz sebelum dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Karena harus berangkat ke Papua untuk mencari nafkah, Hamzah meninggalkan Hijaz. Ibunda Hijaz telah lebih dulu meninggal dunia, sehingga ia dirawat oleh kakek dan neneknya.
”Waktu saya hendak tinggalkan rumah untuk berangkat ke Papua, dia (Hijaz) langsung memeluk kakiku. Saya langsung berhenti waktu itu. Dia bilang; jangan tinggalkanka,” tuturnya, dan kali ini ada air bening menetes dari sudut matanya.
Diapun langsung memeluk erat sang buah hati. Karena, permintaan itu merupakan yang pertama kali terucap dari mulut mungil si kecil.
Hamzah sempat sesekali berbalik memandangi anaknya sambil mengusap air matanya, untuk kemudian beranjak pergi. Kala itu, dirinya tidak pernah tahu kalau ini merupakan pertanda bahwa Hijaz akan pergi untuk selama-lamanya.
”Cuti saya sudah habis, jadi harus kembali ke Papua. Selama di sini, saya selalu ajak anakku jalan-jalan. Ibunya sudah meninggal sejak Hijaz masuk usia dua bulan. Dia sakit, tapi tidak diketahui apa penyakitnya,” terang Hamzah.
Demi kesembuhan istrinya waktu itu, Hamzah berupaya mengobatinya. Salah satunya membelikannya obat di sebuah apotek Jalan Yos Sudarso. Dia mengajak serta sang istri. Namun, di apotek tersebut istri Hamzah tiba-tiba pingsan. Tak lama dalam perawatan medis, wanita itu pun berpulang.
Betapa sedihnya Hamzah ditinggal pergi oleh wanita yang dicintainya. Apalagi setelah adanya seorang bayi buah dari cinta mereka. Namun, Hamzah berusaha ikhlas dan menerima ujian yang menimpa keluarganya lebih dua tahun silam.
”Ini cobaan yang diberikan Tuhan. Saya harus menjadi ibu dan bapak dari anakku,” imbuhnya.
Di saat Hijaz mulai bertumbuh, cobaan itu kembali datang. Hamzah kembali harus kehilangan orang yang dicintainya. Tidak hanya satu. Tapi enam sekaligus.
Informasi tentang peristiwa tragis itu diperoleh Hamzah pada Senin sebuh (6/8) pukul 05.00 Wita. Kedua orang tuanya, saudara, bersama ponakan dan anaknya tewas dalam insiden kebakaran tersebut.
Walau baru tiga hari di Papua, Hamzah mesti kembali lagi ke Makassar. Meninggalkan pekerjaannya untuk melihat orang-orang yang dicintainya terakhir kalinya.
Atas peristiwa yang menimpa keluarganya dan diduga ada unsur kesengajaan di dalamnya, Hamzah berharap petugas kepolisian bisa mengusutnya hingga tuntas.
”Kami sekeluarga menyerahkan sepenuhnya kepada aparat untuk mengusut tuntas peristiwa ini. Karena kuat dugaan kebakaran ini disengaja,” tandasnya. (ish/rus)



×


”Dia Peluk Kakiku dan Bilang; Jangan Tinggalkanka”

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar