MAKASSAR, BKM — Setelah menempuh perjalanan lebih 1.000 kilometer dari Kota Makassar, jurnalis Fajar Group dan relawan Yayasan Kemanusiaan Fajar (YKF) akhirnya tiba di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Kamis (4/10) pukul 19.55 Wita.
Suasana malam di Kota Palu pascadilanda gempa bumi dan tsunami cukup mencekam. Hanya puing-puing sisa material bangunan yang tersisa.
Kota yang dulunya ramai, kini seolah menjadi kota mati. Situasi ini semakin mencekam akibat tidak adanya pencahayaan lampu selain dari lampu-lampu kendaraan yang melintas. Aliran listrik di Kabupaten Donggala, dan Kota Palu terputus semenjak terjadi gempa magnitudo 7,4, pekan lalu.
Hanya lilin dan lampu minyak menjadi pelita pengungsi korban gempa dan tsunami. Adapun bangunan memiliki pencahayaan lampu karena menggunakan genset. Pengungsi saat ini diminta untuk tidur di luar gedung. Memasang tenda dan beralaskan tikar. Mereka diimbau untuk tidak tidur dalam rumah dan gedung.
Sejumlah perkantoran dan lapangan dijadikan sebagai tempat pengungsian korban gempa bumi dan tsunami dari berbagai daerah di Sulteng. Seperti di halaman kantor RRI dan halaman Masjid Agung Darussalam.
Gempa bumi serta tsunami di Kabupaten Donggala, Sigi, dan Kota Palu, tidak hanya merusak jalan-jalan protokol dengan meretakkannya, bersama rumah penduduk. Tapi bencana ini berdampak juga pada susahnya mendapat bensin atau Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU kota tersebut.
Untuk mendapatkan BBM, warga setempat harus sabar antre berjam-jam dan bahkan berhari-hari. Caranya dengan menyimpan jarigen di depan SPBU dengan mengikatnya menggunakan tali.
“Susah sekali dapat bensin di sini (Kota Palu) dengan langsung beli di SPBU. Saya biasanya simpan jerigen depan SPBU. Bisa satu atau dua hari barus dapat giliran diisi. Ada eceran dijual, tapi mahal bisa sampai Rp40.000,” ucap Iwan kepada wartawan BKM Arif Alqadry di Palu, Jumat (5/10).
Usai melaksanakan salat jumat kali pertama pasca gempa bumi dan tsunami, Iwan menyebut bantuan yang sangat dibutuhkan warga saat ini adalah berupa makanan dan air mineral. Untuk pakaian, korban-korban gempa sudah banyak menerima dan memiliki pakaian hasil sumbangan.
“Sumbangan berupa pakaian sudah banyak. Ini sekarang kami butuhkan makanan dan air minum. Kekeringan dan kelaparan di tempat pengungsian. Ini yang kita harapkan,” tambahnya.
Pada salat Jumat kali pertama pascagempa bumi dan tsunami di Kota Palu, masalah kemusyrikan dibahas dalam khutbah. Dihadapan puluhan jamaah, ritual mistis yang masih sering dilakukan sebagian kelompok serta mengarah kepada musyrik menjadi pembahasan.
BKM ikut melaksanakan salat Jumat di halaman masjid. Ini untuk mencegah jatuhnya korban akibat tertimpa reruntuhan material bangunan yang mengalami kerusakan. (arf/rus)
Kemusyrikan Dibahas di Khutbah Salat Jumat
×

