GEMPA bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng), khususnya Kota Palu, Donggala, dan Sigi menyisakan kisah tak terlupakan bagi mereka yang lolos dari maut. Salah satunya adalah Dian, warga Jalan Malonda, Kelurahan Tipo, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu.
Sepekan usai tragedi, ibu yang ditemani seorang anaknya datang ke Pantai Talise, Kecamatan Palu Timur. Memang, silih berganti warga berdatangan ke lokasi ini. Mereka ingin melihat langsung seperti apa kondisinya pascabencana.
Tak sedikit dari mereka mencari bangkai kendaraannya yang hancur dan tertimbun puing-puing material bangunan akibat disapu gelombang tsunami setelah gempa bumi.
Dian terlihat berdiri di atas sebuah jembatan. Bola matanya menatap puing bangunan yang menimbun kendaraan yang ada di tepi pantai. Ketika ditanya tujuannya datang ke tempat inu, Dian berujar, dirinya ingin mencari kendaraannya yang tersapu gelombang tsunami. Sekaligus mengenang dirinya bisa lolos dari maut.
“Ini gempa dan tsunami Palu paling kuat. Saya tidak pernah menyangka bisa keluar dan selamat dari kejadian ini,” ujarnya memulai pembicaraan.
Dalam penuturannya, Dian berkisah, kala itu ia bersama keluarga dan teman-temannya berkumpul dalam suatu acara di Pantai Talise. Suaminya juga ikut hadir mendampinginya menghadiri acara di pinggir pantai tersebut.
Berangkat dari rumahnya dari Jalan Malonda, Dian tiba di Pantai Talise pukul 15.30 Wita dengan menggunakan sepeda motor dan rombongan. Tanpa firasat apapun dan tanda-tanda bakalan terjadi gempa bumi dan tsunami, dia bersama teman-temanya memarkir motor di tepi pantai. Bahkan memesan meja untuk berkumpul.
Canda dan tawa dari rombongannya, seketika berubah menjadi kepanikan disertai teriakan histeris meminta tolong. Kira-kira pukul 17.20 Wita, guncangan dirasakan. Tapi tidak terlalu lama.
Setelah sempat berhenti, guncangan kembali terjadi. Kali ini yang dirasakan cukup lama. Seperti diayun-ayun.
Orang-orang sudah banyak berlarian. Dengan tergopoh-gopoh, tidak sedikit mereka yang lari terjatuh. Ketika semua orang berlari, sempat Dian masih terpaku. Sukar untuk menggerakkan kakinya untuk ikut berlari.
Untungnya, suami Dian melihat dan datang mendekat. Kemudian menarik tangannya dan mengajaknya lari bersama-sama, dengan genggaman tangan begitu kuat.
Seiring langkah cepat kakinya, satu persatu bangunan runtuh. Disaksikan langsung dari matanya. Sesekali dia tunduk ke bawah. Menangis dan teriak menyaksikan bangunan-bangunan yang runtuh.
Suasana sangat mencekam ketika semua lampu mati. Di mana-mana teriakan minta tolong dari semua arah yang terdengar di telinganya. Tidak banyak yang bisa dilakukan Dian dan suaminya. Kecuali lari dan menghindari gedung atau bangunan.
“Sempat saya mau naik di gedung Samsat. Tapi pas saya ada di depannya, gedung yang dinaiki banyak orang tiba-tiba runtuh. Saya tunduk dan nangis. Tidak tahu saya mau ke mana lagi. Saat itu genggaman tangan suami kembali kuat dan menarik saya untuk berlari,” kenangnya sambil suara agak tertahan.
Saat tangannya ditarik oleh suaminya, dia menoleh ke belakang. Tampaklah gelombang tinggi kira-kira tiga meter menghampiri pantai. Langkah kakinya kembali bergerak. Dia pun mendengar suara hantaman gelombang yang sudah menghantam tepi pantai.
“Saya coba tenang, tapi tidak bisa. Di mana-mana suara tangis. Suara orang-orang menyebut tsunami. Juga suara runtuhan bangunan. Saya lemas, tapi suami saya terus tarik saya untuk lari,” tambahnya.
Dengan tenggorokan dan bibir kering yang memucat, dia terus berlari. Entah mau ke mana. Di pikirannya cuma lari dan lari, menjauh jauh dari pantai.
Tidak terasa, langkah kaki Dian bersama suaminya telah menempuh jarak kilometer. Di situlah dirinya menarik nafas dan menenangkan diri.
Nafasnya pun sudah normal. Kini ia bersama suaminya sudah berada di suatu tempat tinggi. Dengan suasana gelap karena listrik padam, dia mengingat anaknya yang sedang berada di rumahnya.
“Jam 10 malam saya coba cari jalan pulang dengan kondisi gelap. Jembatan dekat pantai putus dan banyak lumpur. Saya mencari jalan alternatif menuju pulang ke rumah mencari anak-anak saya dan keluarga,” lanjutnya.
Tanpa rasa lelah, dia akhirnya berhasil sampai di rumahnya. Namun kenyataan pahit ditemuinya. Rumahnya telah runtuh.
Kepanikan kembali melanda jiwanya ketika mencari anak-anaknya yang ditinggal pergi. Bersama suaminya, dia datang ke area yang menjadi tempat berkumpul dan posko usai bencana.
“Saya bersyukur, keluarga selamat meskipun rumah saya rusak akibat gempa. Saya datang ke Pantai Talise ini mau melihat betapa dahsyatnya gempa dan tsunami pada saat itu,” ujarnya.
Hingga kini, Dian bersama warga di desanya mengaku masih belum menerima bantuan, khususnya makanan dan minuman. Dan berharap relawan-relawan dapat memasuki kampungnya di Jalan Malonda, Kelurahan Tipo, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu. (*/rus)
Tarikan Suami Loloskan Dian dari Sapuan Tsunami
×

