Sejak dulu, sebagian besar warga di Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, menyandarkan hidupnya pada sektor pertanian. Makanya, jika sektor ini terganggu, maka kehidupan warga Salassae juga terganggu.
Laporan: Rahma Amri
Masih terkenang di ingatan penduduk desa, seluruh cerita panen selalu menggambarkan kegembiraan. Ada ritual adat untuk merayakan kesyukuran atas hasil panen yang melimpah. Hasil bumi di desa itu cukup beragam. Mulai padi, kopi, cokelat, cengkeh, dan tanaman lainnya tumbuh subur di sana. Namun itu dulu, sekitar 20 tahun lalu.
Namun seiring waktu, dimana lahan pertanian kian tidak subur, hama tanaman kian menyerang, petani banyak putus asa dalam mengelola lahannya. Agar bisa bertahan bercocok tanam, mereka mengandalkan pupuk dan pembasmi hama kimia atau anorganik. Persoalannya, harga pupuk dan pembasmi hama cukup mahal di pasaran. Belum lagi kalau terjadi kelangkaan. Pupuk dan pembasmi hama kimiawi juga cukup berbahaya bagi tubuh.
Akibatnya, banyak warga Salassae, utamanya yang berumur produktif, memilih meninggalkan kampung halaman dan mencari kehidupan di tempat lain.
Ada yang menjadi penjaga toko dan buruh di kota, ada juga yang merantau menjadi tenaga kerja di Malaysia.
Namun, ternyata keputusan meninggalkan kampung dan mencari hidup di tempat lain, juga tidak sepenuhnya tepat. Hanya segelintir yang bisa sukses. Sisanya, hanya bisa menyambung hidup seadanya. Ada juga yang pulang kembali ke desa dengan tangan hampa.
Menyikapi kondisi ini, sekelompok masyarakat mulai berpikir bagaimana cara merubah hidup.
Salah satu yang tergerak adalah Armin Salassa.
Awalnya, lelaki ini beraktifitas di Jakarta, di salah satu LSM. Namun, tahun 2011, dia merasa terpanggil, bersama-sama warga lain untuk memajukan kampung halaman.
“Bersama sejumlah teman alumni TKI Malaysia yang gagal, kami kumpul-kumpul, cerita-cerita apa yang bisa dilakukan di kampung,” aku Armin di sela-sela kegiatan yang digelar BaKTI di Hotel Aston belum lama ini.
Dia menuturkan, mereka kemudian membentuk kelompok kecil berjumlah sembilan orang. Komunitas yang dibentuk adalah Swabina Pedesaan Salassae.
Dengan modal dan pengalaman seadanya, mereka browsing di internet cara mengelola pertanian secara cerdas dan murah.
Bersama kelompoknya, lelaki tamatan SMA ini pun menemukan metode pengelolaan pertanian dengan menggunakan bahan organik. Mulai pupuk hingga desinfektan atau obat pembunuh hama tanaman dibuat sendiri dari bahan yang banyak tersedia di alam, dan lebih murah.
“Kami pun mendorong gerakan pertanian alami,” jelas lelaki kelahiran 11 November 1969 itu.
Awalnya, apa yang dirintis bapak dua anak itu dengan kelompoknya tidak terlalu mendapat tanggapan masyarakat. Banyak yang menganggap apa yang mereka rintis adalah perbuatan sia-sia.
Mereka harus mendapat kepercayaan masyarakat dengan memberikan bukti. (rhm/cha/b)

