BICARA tentang seni dan teater, di benak kita ada konsep dan rasa kepuasan dalam menikmatinya. Namun, itu dilakukan bukanlah untuk meraup materi Apalagi memperkaya diri. Para pelakonnya masih banyak yang hidup pas-pasan. Ada juga yang sudah memiliki pekerjaan tetap, seperti seorang ASN (Aparatur Sipil Negara) dan pegawai swasta.
Sejak kehadirannya hingga saat ini, dunia pentas, khususnya teater tidaklah pernah menunjukkan posisi yang tren. Mereka sulit maju, yang salah satu penyebabnya akibat kurangnya sokongan dari pemerintah dan sponsor.
Tidaklah mengherankan jika para pelaku dan komunitas seni pertunjukan kadang redup. Bahkan sampai tertidur.
Ketua Dewan Kesenian Makassar (DKM) Erwin Kallo, menuturkan bahwa pertunjukkan seni teater di Makassar kain jarang. Tak seperti situasi beberapa tahun lalu, kini teater seakan ‘tak bernyawa’. Dia pun menyayangkan kondisi ini.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan seni teater tak terdengar lagi gaungnya. Faktor utama, disebutnya karena kesalahan pemerintah daerah.
Pemerintah kota maupun provinsi, menurut Erwin Kallo, seharusnya menjadi pembina untuk pagelaran seni pentas dan teater. Namun baginya, pemerintah di daerah ini malah acuh dan enggan menampung aspirasi para pelaku seni.
“Kondisi yang terjadi saat ini karena banyak faktor. Yang paling utama adalah kesalahan pemerintah daerah. Karena pemerintah daerah harusnya jadi pembina, tapi pemkot dan pemprov tak ada yang menampung aspirasi itu,” ungkap Erwin.
Tempat pertunjukan teater yang seharusnya menjadi faktor utama guna mendukung keberadaan seni teater ini, dikatakan Erwin sangat minim. Walaupun di Makassar ada Gedung Kesenian Societeit De Harmonie yang biasa digunakan untuk pertunjukan, namun tempat itu dikatakan Erwin jauh dari kata layak.
Mahalnya harga sewa gedung dan terbatasnya infrastruktur, membuat para pelaku seni teater berpikir panjang jika ingin mementaskan hasil karyanya.
“Coba anda bayangkan, ada gedung Societeit disewa Rp8 juta semalam untuk pertunjukan, mau jual karcis berapa? Siapa anak teater mau sewa. Gedung Societeit secara fisik juga sudah tua. Tidak ada AC. Jumalh kursinya juga hanya sedikit. Aangat tidak memadai. Artinya memang tidak ada support dari pemerintah daerah,” cetus Erwin.
Situasi seni teater di Makassar ini, dikatakan Erwin sangat tidak mencerminkan kota dunia yang selama ini begitu digemborkan pemerintah kota. Karena baginya, jika Makassar mau jadi kota dunia, salah satu cirinya adalah adanya peradaban pusat-pusat kebudayaan. Sementara Makassar, disebutnya tidak punya hal itu.
“Situasi seperti ini jelas kesalahan pemerintah daerah, karena tak ada fasilitas. Tidak ada dukungan pemerintah terhadap industri kreatif, padahal teater itu penting. Kalau kita ke kota-kota dunia, seperti Paris dan Barcelona, gedung-gedung pertunjukan di sana ramai dikunjungi. Karena mereka di sana menyadari bahwa keberadaannya penting untuk menarik wisatawan,” papar Erwin.
Lebih dari itu, Erwin juga tak menampik jika perkembangan teknologi juga menjadi faktor menurunnya pagelaran seni teater di Makassar. Erwin menggambarkan, bahwa anak-anak di Makassar sekarang lebih tertarik menikmati berbagai konten di media sosial seperti di Youtube, daripada menyaksikan langsung pertunjukan teater.
Jika dihitung-hitung, biaya pembuatan konten di Youtube memang lebih murah. Jika dibanding dengan pagelaran teater yang harus membayar jutaan rupiah, serta harus latihan ekstra. Sebab pagelaran sebuah teater tak mungkin diedit.
“Situasi perkembangan teknologi sekarang juga memengaruhi. Semua hiburan sekarang lari ke HP semua. Memang lebih murah, dibanding kalau bikin teater yang bayarnya jutaan. Harus beberapa orang, latihannya, mau tampil di mana, semua menjadi bahan pikiran,” ucapnya.
Diakui Erwin, peminat teater ini cukup besar di kalangan anak-anak. Kekurangan saranalah yang membuat seni lakon ini sekarang menjadi sepi. Pemerintah pun diharapkan Erwin bertanggungjawab dengan sarana tersebut.
“Terus terang, minat anak-anak untuk berteater besar sekali, tapi tak punya sarana. Harusnya, anak-anak yang punya minat di situ didukung,” tandas Erwin.
Berbeda dengan Erwin, salah seorang pemilik sanggar seni di Makassar, Iin Joesoef Madjid mengatakan, saat ini keterlibatan pemerintah pada kesenian lambat laun mulai bagus. Bahkan karya mereka kian dilirik pemerintah.
Seperti di tanggal 1 April yang ditetapkan sebagai Hari Kebudayaan. Pemkot Makassar memberi ruang ke pelaku seni tetater untuk mempertunjukkan kebolehannya.
“Tanggal 1 Apri bulan depan, Dinas Kebudayaan Makassar telah mencanangkan Hari Budaya. Akan ada parade penari. Semua terlibat. Termasuk seni, teater. Jadi teater berusaha untuk terus dihidupkan,” ujar Iin. (nug/rus/b)

