pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Jangan Jadi Simbol Semata

PENGAMAT politik dari Universita Bosowa (Unibos) Dr Arief Wicaksono membagi dua jenis legislator muda. “Saya pikir, anggota legislatif muda atau milenial itu ada dua jenis. Satu adalah anggota legislatif muda yang memang punya idealisme dan benar-benar ingin memperjuangkan kepentingan masyarakat di dapilnya. Dua, adalah anggota legislatif muda yang masuk DPRD karena bantuan orang tuanya, atau keluarganya dalam artian luas,” ujar Arief.
Menurutnya, yang jenis pertama tentu proses belajarnya dilakukan sebelum masuk DPRD. Sementara yang jenis kedua, biasanya baru mau belajar pada saat masuk DPRD. Sehingga jelas, potensi pengembangan kualitasnya lebih besar pada jenis anggota legislatif yang pertama.
“Tapi terlepas dari itu semua, biasanya anak muda milenial itu lebih kreatif, lebih semangat dan lebih besar staminanya untuk melakukan hal-hal yang positif untuk masyarakat yang diwakilinya. Nah, dalam kaitannya dengan Sumpah Pemuda, tentu kita harus memberikan apresiasi bagi aleg milenial yang sudah punya prestasi dan kita juga harus tetap mendorong agar yang belum punya prestasi, dapat menunjukkan prestasinya,” jelas Arief.
Terpisah, pengamat politik Adi Suryadi Culla menjelaskan, Sumpah Pemuda seharusnya dijadikan orientasi dan spirit kebangsaan bagi para pemuda sejak diikrarkan 28 Oktober 1928 lalu.
Sumpa Pemuda, kata Adi, bagaimana menggambarkan kehadiran para pemuda dalam memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara. Bahwa Indonesia tidak akan maju tanpa kerja nyata pemuda dari berbagai latar belakang. Termasuk para anak muda milenial yang saat ini menjadi perwakilan rakyat di DPRD.
“Jadi spirit itu harus menjadi roh atau spirit terhadap anggota DPRD milenial,” jelasnya.
Karena, dia melihat di era kekinian, globalisasi dan kosmopolitanisme cenderung menggerus semangat Sumpah Pemuda. Bahkan terhadap loyalitas kebangsaan dan mereduksi identitas kebangsaan.
“Padahal saat ini sangat dibutuhkan kecintaan kebangsaan itu. Apalagi generasi milenial berbeda dengan generasi sebelumnya,” ungkap Adi.
Saat ini, lanjut dia, semua aktifitas kehidupan ditunjang oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Sebenarnya, anak muda milenial lebih punya peluang untuk membangun Indonesia secara produktif dibanding generasi sebelumnya.
Khusus yang saat ini menduduki jabatan wakil rakyat di DPRD, harusnya mereka menjalankan fungsi dengan sebenar-benarnya sesuai komitmen yang berlandaskan Sumpah Pemuda. Baik terkait fungsi legislasi, kontrol atau pengawasan, dan fungsi penganggaran.
“Di sanalah fungsi mereka sebenar-benarnya harus dijalankan. Jangan sampai status sebagai anggota dewan hanya simbolis saja, tapi tidak punya jiwa kebangsaan. Mereka tidak mengambil pelajaran dari Sumpah Pemuda,” ungkapnya.
Lebih jauh dia mengemukakan, para legislator muda itu harus memberi perhatian besar terhadap suara atau aspirasi anak muda yang mereka wakili.
Salah satu aspek lagi yang banyak disorot adalah berkaitan dengan integritas. Apalagi saat ini begitu banyak masalah politik, tidak hanya yang berada di legislatif, tapi juga di eksekutif.
“Jangan sampai menyimpang dari semangat atau spirit Sumpah Pemuda. Momentum Sumpah Pemuda harus menjadi bahan evaluasi untuk menghadirkan maruah lembaga wakil rakyat yang berintegritas,” tandasnya. (rhm/rus)



×


Jangan Jadi Simbol Semata

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar