MAKASSAR, BKM — Sumpah Pemuda diperingati hari ini, Senin (28/10). Perjuangan para pemuda di tahun 1928 silam kini telah dinikmati oleh bangsa ini. Tak terkecuali anak muda yang duduk di kursi legislator periode 2019-2024.
Di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), baik tingkat provinsi, maupun kabupaten/kota di Sulsel, tercatat ada beberapa wakil rakyat yang usianya masih terbilang muda. Bahkan masih di bawah 30 tahun. Mereka adalah generasi milenial. Lahir di tahun 1980-2000.
Lantas, apa saja gebrakan yang diperjuangkan dan akan dilakukan oleh para legislator muda tersebut usai dilantik sebagai wakil rakyat?
Di DPRD Sulsel, tercatat ada tiga orang anggota dewan dari generasi milenial. Mereka adalah Andre Prasetyo Tanta dari Partai Nasdem, Ismail Bachtiar (Partai Keadilan Sejahtera), dan Imam Fauzan Amir (Partai Persatuan Pembangunan).
Bagi Andre Prasetyo, dirinya masih terus berupaya untuk meningkatkan kualitas diri. Komunikasi intens dilakukannya. Tujuannya agar ke depannya bisa lebih baik dalam mengawal aspirasi anak-anak milenial.
”Dengan diskusi dan masukan, kami sebagai anggota legislator muda bisa memberi pembeda di legislatif. Yang pasti, kita selalu siap bekerja sama dan berkolaborasi dengan para senior. Karena kami sangat membutuhkan pengalaman mereka,” ujar Andre.
Andre merupakan lulusan Loyola Marymounts University, Los Angeles, California, USA bidang Business Entereperenuership. Ia berjuang bersama Partai NasDem dengan alasan tanpa mahar.
Ia maju melalui daerah pemilihan (dapil) Sulsel Satu atau Makassar A. Merupakan anak bungsu pengusaha perhotelan dan jasa konstruksi Wilianto Tanta.
“Sebagai anak muda, gerakan perubahan yang digaungkan Partai NasDem betul-betul memanggil hati saya untuk turut berkontribusi bagi bangsa dan negara melalui jalur politik,” jelas Chief Development Officer (CDO) Phinisi Hospitality kelahiran Makassar, 17 April 1995 ini.
Generasi milenial juga mewarnai DPRD Kota Makassar. Imam Musakkar salah satunya. Ia kini duduk di komisi C yang membidang pembangunan.
Sebagai wakil rakyat yang diberi amanah, Imam menyadari bahwa dirinya harus mampu menjaga lembaga terhormat tersebut agar tetap baik. Selain itu, lebih memperhatikan serta mengakomodir kepentingan masyarakat. Tentunya bersama-sama dengan anggota dewan lainnya.
”Seorang wakil yang dipilih oleh rakyat, maka semua amanah dan tugas-tugas harus bisa dilaksanakan dengan baik. Harus memperjuangkan kepentingan rakyat,” ujarnya.
Tercatat sebagai legislator muda, Imam Musakkar mengaku harus banyak belajar kepada anggota dewan yang lebih senior. Karenanya ia berharap koleganya tersebut bersedia membuka ruang kepada juniornya untuk berproses.
“Awalnya banyak senior di DPRD Kota Makassar yang tertutup. Tapi itu tidak berlangsung lama. Akhirnya mereka bersedia untuk terbuka dan berbagi. Apalagi kami berkomitmen untuk menjadikan lembaga ini sebagai tempat memperjuangkan aspirasi masyarakat. Segala kepentingan politik di pilkada harus sebatas di pagar DPRD saja. Di dalam harus memikirkan masyarakat,” tegasnya.
Legislator generasi minelial lainnya di DPRD Kota Makassar adalah Budi Hastuti. Setelah berhasil duduk di parlemen, wanita berhijab ini berusaha untuk dapat beradaptasi dengan tugasnya di dewan.
Dengan cara itu, anggota komisi D Bidang Kesejahteraan Rakyat ini meyakini dapat mengikuti akselerasi dari anggota dewan senior yang sudah berpengalaman.
“Sebagai legislator baru, paling awal yang saya ingin lakukan adalah berusaha secepat mungkin untuk bisa beradaptasi terhadap tugas-tugas kedewanan agar bisa mengikuti akselerasi dari anggota dewan yang sudah berpengalaman,” katanya.
Setelah perampungan alat kelengkapan dewan (AKD) selesai, dirinya mulai fokus untuk bekerja sebagai wakil rakyat dengan memperjuangkan aspirasi-aspirasi masyarakat. Terutama yang berada di daerah pemilihannya.
Selain itu, dirinya juga ingin fokus mendorong ekonomi kreatif dan mandiri, kesehatan dan pendidikan untuk masyarakat agar dapat terpenuhi dengan baik. Caranya, bersinergi dengan Pemkot Makassar.
DPRD Bulukumba tercatat memiliki beberapa legislator muda. Ada enam orang. Yakni Khairul Ibrahim dari PDIP kelahiran 1997, Anhar Sakti yang masih berusia 24 tahun dari Partai Hanura, dan Andi Soraya dari kelahiran 28 Oktober 1988.
Ada pula Kahar Muda dari Partai Gerindra yang lahir tahun 1989. Juandy Tandean dari Partai Golkar kelahiran 24 Juni 1990. Alkhaisar Jainar dari PKB yang lahir tahun 1989.
Bagi Khairul Ibrahim, ini pengalaman pertamanya menjadi anggota DPRD Bulukumba. Walau tercatat sebagai legislator termuda, Khairul menjadi peraih suara terbanyak. Amanah itu mesti ia pertanggungjawabkan melalui perjuangan di kursi DPRD.
Anhar Sakti yang masih berusia 24 tahun, juga merupakan figur baru dan memiliki suara cukup siginifikan, yakni 2.150. Sebagai orang baru, tentu ia masih perlu banyak belajar dari anggota dewan yang lebih senior.
“Ssebagai orang baru di parlemen dan di antara anak muda yang lolos di DPRD, ini akan menjadi ajang pembuktian diri. Bahwa anak muda tidak hanya penikmat di masanya, tapi menjadi penentu masa depan bangsa,” katanya.
Anggota DPRD dari Partai PKB Andi Soraya, mengaku tidak banyak hal yang ia siapkan sebagai anggota dewan. Ia menjelaskan, pada dasarnya tugas DPRD adalah mediator dan fasilitator dalam mengembangkan ide-ide sahabat milenial.
“Yang saya akan lakukan adalah mendorong ide dan inovasi pemuda milenial. Saya akan berusaha menjadi anggota dewan yang amanah dalam mengemban tiga fungsi anggota dewan. Sebagai caleg kategori milenial, tentu ini juga harus menjadi motivasi bagi anak muda lainnya untuk mampu membaca alam, mampu memaksimalkan momen yang ada di depan mata,” kata Soraya
Ketika memasuki dunianya yang baru di dewan, Soraya mengaku butuh proses adaptasi. Hal tersebut mesti dilakukannya secara cepat, karena tugas telah menanti.
Dalam upaya meningkatkan kualitas sebagai legislator muda, Soraya menjelaskan dirinya harus banyak membaca. Antara lain tata tertib, perda, mekanisme penyusunan keuangan daerah, dan bacaan lain yang menunjang kinerja di ruang publik.
”Selain itu, memperbaiki silaturahmi sesama anggota dewan. Karena bagaimanapun hebatnya seseorang, jika tidak bisa bekerja sama dalam ruang kolektif kolegial, maka akan menghambat kinerja ke depan yang semakin kompleks. Juga harus tekun bekerja menyerap aspirasi masyarakat,” tandasnya.
Sebelum duduk di kursi legislatif, Andi Yaya –sapaan akrabnya– lebih banyak menggeluti kerja-kerja sosial. Seperti sebagai fasilitator untuk pemberdayaan, kerja-kerja advokasi dalam hal masyarakat mendapatkan hak-haknya. (rif-arf-min/rus/c)
MENANTI GEBRAKAN LEGISLATOR MILENIAL
×

