MAKASSAR, BKM — Seks bebas di malam pergantian tahun ternyata masih menjadi kebiasaan sejumlah masyarakatdi Makassar. Ini dibuktikan, saat malam tahun baru tarif kencan dengan para Pekerja Seks Komersial (PSK) bisa naik 100 persen karena tingginya permintaan.
Jika sebelum malam tahun baru, tarif PSK hanya Rp500 ribu untuk short time, maka saat malam pergantian tahun, tarifnya naik menjadi Rp1 juta.
Vivi (samaran), seorang PSK yang bermukim di Panakkukang yang ditemui BKM mengakui hal itu. “Iya kak, kalau hari biasa saya hanya pasang tarif Rp 500 ribu per jam. Kalau malam tahun baru lain hitungannya Kak. Kita kan mau happy sama teman, jadi kalau ada yang minat sama saya, tarifnya Rp 1 juta per jam. Itu pun saya pilih-pilih orang,” tutur Vivi yang mengaku masih berstatus mahasiswi.
Berbeda dengan Linda, PSK yang menempati kamar kos eksklusif di bilangan Panakkukang.
“Asyik kalau sama om-om. Romantis heheheh. Fulusnya juga tinggi. Diajak semalam bisa dapat 4.000 gitu (Rp4 juta, red). Belum jalan jalannya, sukanya keluar. Maunya sih ke Malino, bukan di klub,” kata Linda tersenyum.
Linda berharap, malam tahun baru ini, dia mendapat bokingan yang tepat dengan uang banyak. “Sampai sekarang saya masih kosong ,” kata Linda, wanita asal Bandung ini.
Tingginya aktivitas seks saat malam tahun baru nanti juga ditandai dengan tingginya penjualan alat kontrasepsi seperti kondom. Apalagi, kondom saat ini lebih mudah diperoleh di sejumlah minimarket, apotek dan pusat-pusat perbelanjaan di Makassar.
”Sekarang masih belum signifikan Pak. Tapi saat malam tahun baru, pasti permintaan sangat melimpah. Ini seperti tahun lalu. Kondom dan tissu basah sangat laku terjual,” ungkap Cece, pemilik Apotek Sinar Mas Farma di Jalan Nusantara, Senin (28/12) siang.
Menurut Cece, pembeli kondom di apoteknya didominasi pria dewasa. Untuk ukuran serta jenis kondom yang dijual, kata Aci, semuanya laris.
“Satu ukuranji saya jual, tapi berbeda beda isinya di dalam. Ada yang isi tiga, isi dua belas itu semua tergantung orangnnya. Lagian kalau ada orang yang mau beli silakan saja, tidak mau pergi maki,” jelasnya.
Di apotek Cece, kondom dipajang dalam lemari kaca dengan merek bervariasi.
“Saat ini masih biasa ji penjualan kondom. Paling sehari laku tiga, lima atau bahkan sama sekali juga tidak laku,” katanya. Sementara, untuk konsumen yang membeli kondom kebanyakan pria plus yang masih ABG.
“Paling juga anak ABG ji,” katanya.
Lain halnya dengan Reski, penjaga minimarket di Jalan Nusantara. Menurutnya, pembeli kondom saat ini masih wajar-wajar saja, namun pembeli tissu basah jauh meningkat.
“Kalau kondom, sehari ada tiga atau empat yang laku dalam sepekan. Namun tissu basah, yang laku sampai puluhan dalam sehari,” kata Reski, Senin (28/12).
Ismail, karyawan lainnya mengaku barang yang kini laris terjual adalah tissu basah. ”Dibandingkan kondom, tissu basah lebih laku Pak,” kata Ismail, penjaga minimarket di Jalan Penghibur.
“Rata-rata pembeli kondom hanya satu dua. Tapi kalau malam tahun baru, baru laku sekali,” kata dia.
Seks Bebas Menyimpang
Menyikapi fenomena maraknya aktivitas seks bebas saat malam tahun baru, Dewan Syuroh FPI Sulsel, Abu Thoriq mengatakan, pergantian tahun semestinya dirayakan dengan memperbanyak doa. Bukan dengan melakukan perbuatan maksiat.
“Perayaan tahun baru harus diawali dengan perbuatan yang baik, bukan dengan menghancurkan kesucian pasangan,” katanya.
Psikolog Widyastuti menimpali, aktifitas seperti itu sebetulnya merupakan perilaku seks menyimpang. Dia menegaskan, free sex saat malam pergantian tahun sama sekali bukan budaya Indonesia. Hanya orang-orang memanfaatkan kesempatan malam pergantian tahun untuk aktifitas menyimpang tersebut.
Dia menegaskan, orang tua sangat berperan dalam menjaga anak-anaknya dari perbuatan tidak senonoh. Ketika ada kegiatan yang akan diikuti anak, orang tua harus tegas dan mengetahui, apa, dimana, dengan siapa akan pergi.
“Orang tua harus meningkatkan kewaspadaannya. Anaknya sama siapa, mau kemana, dan mau ngapain,” ungkap Widyastuti.
Kecenderungan untuk mabuk-mabukan di malam tahun baru menjadi salah satu pemicu terjadinya seks bebas karena yang bersangkutan dalam kondisi setengah sadar alias teler.
Dia menekankan, malam pergantian tahun seharusnya digunakan untuk refleksi dan instopeksi diri apa yang telah dilakukan, dan apa rencana-rencana ke depan.
“Jika diisi dengan hal negatif, pastinya yang bersangkutan tidak punya visi dan misi ke depan karena awal tahun disambut dengan perilaku yang tidak benar,” ungkapnya.
Butuh tekad yang kuat untuk membentengi diri dari perbuatan-perbuatan negatif. Termasuk memilih orang-orang yang akan ditemani menghabiskan malam tahun baru. (rhm-jun-ucu-ish-arf/cha/b)

