BULUKUMBA, BKM — Berita ini menjadi akhir kisah perjalanan hidup Mansur. Pria usia 26 tahun, yang pernah dipasung oleh orangtuanya sendiri selama sembilan tahun di kamar mandi rumahnya di Dusun Borongjatie, Kelurahan Jalanjang, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba.
Mansur kini tinggal nama. Ia disebutkan mengembuskan napas terakhir pada hari Rabu (25/2).
Banyak pihak yang dekat dengan Mansur, setelah terlibat dalam proses pemulihan kondisinya, baik fisik maupun psikis usai dipasung oleh orangtuanya sendiri. Tak heran jika ucapan belasungkawa pun terus mengalir melalui linimasa media sosial pascakepergiannya untuk selama-lamanya.
Peristiwa meninggalnya Mansur mengundang banyak pertanyaan. Sebab, ia menjemput ajal setelah diambil kembali oleh orangtuanya yang mengaku bersedia merawat Mansur dengan baik. Selanjutnya ia pun diboyong ke Negeri Jiran Malaysia.
Namun, baru 15 hari di negara tetangga itu, secara mengejutkan Mansur dikabarkan meninggal dunia. Beberapa video yang ramai beredar memperlihatkan jasad Mansur sudah terbujur kaku tak bernyawa.
Di sisi jenazah Mansur tampak ayahnya, Mappipenning yang pernah menjadi terangka dan dihukum penjara atas perbuatannya dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terharap anak kandungnya sendiri. Penanganan kasus ini bergulir pada Oktober tahun 2019 lalu, setelah perlakuan tak sepatutnya diterima Mansur ramai diberitakan. Ia membongkar semua apa yang dialaminya setelah berhasil kabur usai menggigit pintu WC. Dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat, dia terpaksa melarikan diri dengan meloncat-loncat seperti pocong.
Dalam pelariannya, di perjalanan Mansyur bertemu dengan salah seorang tetangganya. Dia lalu dibawa ke kantor polisi. Aparat kemudian langsung bergerak ke rumah korban untuk menangkap orang tuanya. Namun, hanya sang ayah, Penni yang ditahan. Sementara ibunya menjadi tahanan kota.
Penyidik Polres Bulukumba sempat menahan ayah mansur Mappipenning dan menjeratnya dengan pasal 44 ayat 1 Undang-Undang RI tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Ancaman hukumannya 5 tahun penjara dan denda Rp15 juta.
Namun, dalam persidangan vonis yang dijatuhkan terbilang rendah. Yakni 3 bulan 13 hari. Hal itu dibenarkan Humas Pengadilan Negeri Bulukumba Sera Ahmad, kemarin.
Di saat orangtuanya menjalani proses hukum, Mansur sempat mendapat penanganan serius dari Dinas Sosial Bulukumba, lalu kemudian ke Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sulsel.
Selama rentang waktu tiga bulan proses pemulihannya, Mansur sempat diajak jalan keliling kota Bulukumba oleh Wakil Bupati Tomy Satria Yulianto. Bahkan ia pernah diberi kesempatan untuk menjadi ‘wabup’ sehari.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Bulukumba H Sudirman, menilai ada kejanggalan pada kematian Mansur ini. Sebab orangtuanya tidak menjelaskan penyebab kematian anaknya. Sementara selama dalam perawatan pihaknya dan pihak Dinas Sosial Bulukumba, kondisi Mansur sangat baik. Bahkan almarhum kerap kali tertawa dan bercanda.
Bahkan ada sebuah video yang diunggah oleh Sudirman di media sosial Facebook, yang memperlihatkan Mansur tengah berjoget riang serta tertawa bahagia. “Baik sekali kondisinya kodong sebelum diambil orang tuanya. Makanya, kami langsung kaget waktu mendengar kabar Mansur meninggal di Malaysia. Padahal baru beberapa hari berangkat ke sana dibawa orang tuanya,” beber Sudirman.
Ditambahkannya, sebelum dibawa oleh ke Malaysia, Mansur kerap mengeluhkan perilaku orangtuanya, terutama ayahnya. ”Tidak mau pulang ke rumahnya. Katanya nanti dibunuh. Itu selalu dia bilang,” ujarnya lagi.
Diakui Sudirman, pihaknya bersedia menyerahkan kembali Mansur ke orangtuanya setelah ada pernyataan yang dibuatnya. Isinya, bersedia merawat Mansur dengan layak.
Kini Mansur telah tiada. Namun, Pemkab Bulukumba melalui Dinas Sosial berharap pemerintah berupaya memulangkan jasad Mansur ke kampung halamannya.
“Ini Mansur masih dalam tahap pengawasan Dinsos, jadi bisa meminta jasadnya dipulangkan nanti. Kita mintalah jasadnya divisum atau diotopsi supaya bisa jelas meninggal karena apa,” tandas Sudirman.
Kematian Mansur juga mendapat perhatian khusus dari Andi Soraya, anggota DPRD Bulukumba Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa. Ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya, karena mengingat penderitaan yang dialami Mansur semasa hidupnya.
“Kasihan harus meninggal di negeri orang. Padahal belum lama ini kami sempat bercengkrama dengannya,” kata Andi Yaya, sapaan akrab Andi Soraya.
Dia pun berharap Pemkab Bulukumba bisa memfasilitasi untuk pemulangan jenazah Mansur ke kampung halamannya.
Dinas Sosial sendiri, menurut H Sudirman, telah berkomunikasi langsung dengan Mappipenning, orangtua almarhum. Keduanya membicarakan rencana Pemkab Bulukumba untuk membantu memulangkan jenazah Mansur.
Namun, sang ayah bergeming. ”Pihak keluarga tetap akan mengebumikannya di Malaysia. Bahkan mereka mengirimkan video prosesi untuk pemakaman Mansur,” ujar Sudirman. (min/b)
15 Hari di Malaysia, Meninggal Diduga Dibunuh
Akhir Kisah Mansur, Remaja yang Pernah Sembilan Tahun Disekap Orangtuanya
×

