MAKASSAR, BKM — Pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk menangguhkan sementara penerbitan visa dan kedatangan jamaah umrah yang akan masuk ke negara tersebut. Langkah tersebut ditempuh guna mengantisipasi penyebaran virus corona.
Kebijakan itu pun membawa dampak. Bukan hanya pembatalan pemberangkatan, tapi juga proses pemulangan jamaah yang ada di sana.
Istri Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPPH) Asosiasi Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Nurhayat, kini tertahan di Arab Saudi. Ia memimpin rombongaan jamaah umrah Aljasiyah yang berangkat 24 Februari lalu.
”Iya, istriku ada di sana. Pimpin rombongaan 39 jamaah yang program 14 hari,” ujar Hayat yang dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis sore (27/2).
Masalahnya, tidak ada penerbangan dari Indonesia ke Arab Saudi selama penutupan sementara diberlakukan. Kalau pun ada, dibutuhkan biaya besar. Sebab pesawat tidak akan mengangkut penumpang untuk penerbangan ke Saudi.
Ia berharap, kebijakan pemerintah Arab Saudi ini tidak berlangsung lama. Sebab cukup banyak persoalan yang muncul dari penghentian sementara ini.
”Misalnya begini, jamaah saya sudah ada yang keluar visanya kemarin dan akan berangkat tanggal 1 Maret. Mereka otomatis tidak bisa berangkat dan mesti direscheduling. Sementara untuk bulan Maret ada tiga kali pemberangkatan yang dijadwalkan, dengan jumlah 150 jamaah,” beber Hayat.
Namun, Hayat optimistis kebijakan ini tidak berlangsung lama. Sebab akan banyak kerugian yang timbul, baik di pihak pemerintah Arab Saudi maupun negara lain, termasuk Indonesia.
Jika pun nanti pemerintah Arab Saudi membuka kembali kran penerimaan jamaah umrah, masalah baru kembali dihadapi pihak travel. Terutama tentang siapa yang akan diberangkatkan terlebih dahulu.
”Apakah yang lebih awal tertunda pemberangkatannya, ataukah yang belakangan dan disesuaikan dengan jadwalnya. Pasti akan terjadi tumpang tindih. Hotel juga pasti over booking,” terangnya.
Hayat berharap pengiriman jamaah bisa dilaksanakan dua minggu dari sekarang, seperti disampaikan pemerintah Arab Saudi. Jangka waktu tersebut akan dimanfaatkan untuk membangun ruang sterilisasi guna mencegah masuknya virus corona.
Kerugian
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel Anwar Abubakar, mengatakan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama terus melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah Arab Saudi. Ia berhasap kebijakan tersebut tidak berlangsung lama. Mengingat jumlah jamaah umrah, terutama asal Sulsel cukup banyak.
“Kita terus melakukan koordinasi. Sekarang masih menunggu hasilnya. Kita harap kebijakan ini tidak berlangsung lama,” kata Anwar, kemarin.
Anwar menambahkan, Kamis (27/2) kemarin masih ada jamaah umrah asal Sulsel yang diberangkatkan. Namun, dengan adanya larangan yang diterbitkan per tanggal 27 Februari 2020, Anwar masih menunggu keputusan pemerintah Arab Saudi setelah para jamaah ini tiba di sana.
“Tadi (kemarin) pemberangkatan jamaah umrah masih berlangsung.
Ini kita ikuti terus kalau mereka tiba di sana. Apakah dikembalikan atau diizinkan masuk,” jelasnya.
Ditegaskan Anwar, kebijakan pemerintah Arab Saudi ini bisa membawa dampak kerugian besar. Apalagi jika hal itu berlangsung lama.
Kerugian tentu akan dirasakan oleh pihak penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU). Sebab di Sulsel sendiri jamaah umrah jumlahnya cukup besar.
“Jamaah umrah asal Sulsel bisa sampai 10 ribu per bulannya. Itu dari 24 kabupaten/kota. Pengaruhnya, secara ekonomi oleh pihak penyelenggara tentu bisa rugi,” tandas Anwar.
Kerugian tentu juga akan dirasakan oleh masyarakat. Apalagi mereka yang sudah bersiap untuk melaksanakan ibadah umrah dalam waktu dekat ini.
“Makanya, saya imbau khusus bagi yang sudah selesai visanya untuk bersabar sambil menunggu hasil koordinasi pemerintah kita dengan pemerintah Arab Saudi,” terangnya.
Selain itu, Anwar juga berharap kepada PPIU untuk memberikan pemahaman kepada jamaahnya supaya bisa bersabar sambil menunggu keputusan dan hasil koordinasi terkait kebijakan larangan ini.
Ia menambahkan, jamaah yang melakukan perjalanan umrah dan diberangkatkan melalui bandara Sultan Hasanuddin, Kamis pagi (27/2), hingga kemarin petang belum tiba di Arab Saudi. Karena perjalanan membutuhkan waktu sekitar 12 jam.
”Kita masih terus memantau perkembangan. Nanti hasilnya apakah mereka diterima atau tidak, masih dikoordinasikan. Jika ditolak, maka mereka akan dikembalikan ke Indonesia melalui biro travel yang digunakan. Pihak kementerian sudah mengimbau kepada pihak travel untuk memulangkan jamaahnya jika ditolak, dan mereka semua sudah setuju,” jelas Anwar.
Tadi malam pukul 19.00 Wita, Nurhayat menginformasikan jika pesawat Lion Air penerbangan Makassar-Arab Saudi telah tiba di Medinah. Mereka diterima untuk masuk.
Sudah Diperkirakan
Dihubungi terpisah, Ketua Asosiasi Penyelenggara Haji dan umrah Republik Indonesia (Amphuri) Sulampua (Sulawesi, Maluku, Papua) HM Azhar Gazali, mengatakan dirinya sudah memperkirakan bahwa akan ada penghentian sementara pengiriman jamaah umrah ke Arab Saudi.
Hal ini dilakukan, sambung Azhar, lebih pada tindakan preventif kemungkinan masuknya virus corona ke negara tersebut. Terkait dengan penghentian tersebut, Azhar belum menyebutkan kerugian. Pihak Amphuri telah menyampaikan penghentian sementara ini ke para calon jamaah umrah.
“Ini sudah menjadi keputusan pemerintah Arab Saudi yang harus kami patuhi, terkait masalah keamanan dan kesehatan warganya,” ucapnya.
Dia mengatakan, terakhir kali travel anggota Amphuri memberangkatkan jamaah ke tanah suci pada Rabu malam (26/2).
“Alhamdulillah, mereka sudah tiba sekarang di tanah suci. Dan masih diizinkan untuk masuk,” jelasnya.
Namun, untuk calon jamaah umrah yang rencananya akan berangkat hari ini, sudah tidak diperbolehkan lagi. Pihaknya juga sudah mengirim surat edaran ke seluruh anggota Amphuri terkait larangan sementara tersebut.
“Jadi kami mengimbau agar calon jamaah bersabar dulu. Karena ini kan hanya penundaan sementara. Jadi tidak perlu dilakukan pembatalan. Kita reschedule (jadwal ulang) saja,” ungkapnya.
Dia pun berharap, koordinasi intens antara Kementerian Agama dengan Pemerintah Arab Saudi lebih baik sehingga cepat membuka ruang.
Adapun travel umrah yang tergabung dalam Asosiasi Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Sulampua yang dalam waktu dekat akan melakukan pemberangkatan terancam batal, sebanyak 301 orang. (nug-rhm)

