pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Pemilik Suara di Golkar Mulai Terang-terangan

Kader ‘Kaleng-kaleng’ Perlu Disikapi

MAKASSAR, BKM — Suhu politik memanas menjelang pelaksanaan musyawarah daerah (musda) X DPD Partai Golkar Sulsel. Para kandidat pengganti HAM Nurdin Halid saling klaim dukungan.
Sebelumnya, HA Kadir Halid menyebut dirinya telah mendapat dukungan dari 10 pemilik suara, atau 30 persen dari yang berhak memilih pada musda, Minggu (26/7) mendatang. Disusul kemudian anggota DPR RI Supriansa yang disebut-sebut mendapat dukungan dari ketua DPD II Golkar, lantaran telah mengantongi rekomendasi berupa diskresi dari Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto.
Supriansa dikabarkan telah mendapat dukungan dari Ketua DPD II Partai Golkar Bone Andi Fashar Padjalangi dan Ketua DPD II Golkar Soppeng Andi Kaswadi Razak. Sekretaris DPD II Golkar Soppeng Yahya Daud mengamini informasi tersebut. Ia mengakui jika Golkar Soppeng siap dan akan memenangkan Supriansa pada musda Golkar Sulsel.
Menurut Yahya, Supriansa dianggap bisa menahkodai Golkar Sulsel karena merupakan putra Soppeng asli. “Selain masih muda, beliau cerdas dan juga diyakini mampu mengemban amanah dan bisa meningkatkan raihan suara Golkar ke depan ketika dipercaya sebagai ketua,” kata Yahya, Rabu (22/7).
Tak hanya itu, Supriansa juga dapat mencairkan seandainya dianggap ada faksi-faksi di internal partai.
Ketua DPD II Partai Golkar Bone Andi Fahsar Mahdin Padjalangi, bahkan secara terang-terangan menyebut diskresi itu sebagai perintah ketua umum. “Saya melihat itu adalah suatu perintah. Makanya, saya sebagai kader partai harus ikuti itu perintah,” tegas Fahsar.
Bupati Bone dua periode itu menjelaskan, ‘surat sakti’ yang dikantongi Supriansa, tidak semudah itu dikeluarkan jika tidak ditelaah dengan baik-baik. Tentu ada persyaratan harus dipenuhi. Seperti memenuhi 30 persen dukungan suara dari DPD kabupaten/kota.
Fashar akan mendukung diskresi itu. Sebab ini merupakan perintah partai yang tidak bisa ditawar lagi. “Saya melihat itu adalah suatu perintah. Saya hargai tanda tangan Pak Airlangga dan Pak Sekjen walaupun itu tidak tersurat, tetapi bagi saya itu tersirat,” tegasnya.
Ketua Golkar Pangkep Syamsuddin A Hamid diperkirakan tidak mengarahkan dukungan ke bakal calon lain yang bersaing memperebutkan kursi pimpinan ketua Golkar Sulsel. Pasalnya, bupati Pangkep ini ikut mendaftar sebagai calon ketua. Sementara Golkar Barru belum bersikap.
Syamsuddin A Hamid mengaku tetap optimis maju dalam bursa pemilihan, karena meyakini jika ada 30 persen lebih pemegang hak suara yang sudah memberikan sinyal dukungan ke dirinya.
“Saya ini maju dalam pemilihan calon ketua Golkar Sulsel karena saya kader yang sudah lama berjuang demi kemajuan partai ini. Potensi diri sebagai kader tulen dan bukan kaleng-kaleng, karena sudah berjuang di Golkar sejak 1976. Jadi ini salah satu alasan untuk ikut maju bersaing dalam bursa pemilihan calon ketua Golkar Sulsel,” tandas Syamsuddin, kemarin.
Sedangkan Ketua Golkar Barru Andi Muhammad Rum yang berusaha dikonfirmasi tidak berhasil. Begitu juga dengan pengurus inti Golkar Barru lainnya, menyerahkan ke ketuanya.
Ketua DPD II Golkar Makassar Farouk M Betta, Hoist Z Bachtiar dari Gowa dan Annas GS dari Takalar, belum memutuskan siapa yang akan dipilih.
”Siapa di?” tulis Aru yang pernah tercatat sebagai ketua DPRD Makassar ini.
Hal sama dilontarkan Annas GS. “Belum menentukan sikap. Nanti pembukaan musda ada orang DPP yang buka itu sudah ada yang dikehendaki DPP,” ujarnya diplomatis.
Meski begitu, Annas berharap ketua Golkar terpilih nantinya bisa memenangkan pilkada di 12 daerah, khususnya di Makassar. “Dan Golkar harus memenangkan pilgub Sulsel 2024 mendatang. Gubernur Sulsel harus orang Golkar,” tandasnya.
Hoist Bachtiar hanya berucap pendek soal diskresi. Menurutnya, bila mendukung diskresi dari ketua umum, sama dengan mendukung NH. “NH sebagai orang Golkar yang paling tinggi kepeduliannya ke partai. Pasti paham betul terhadap diskresi ketua umum,” ujar Hoist.
Begitu juga dengan Hamka B Kady. “Jangan sampai beliau sebagai anggota Fraksi Golkar DPR RI malah melawan diskresi ketua umum,” jelasnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Golkar Bantaeng Arfandi Idris yang dimintai komentarnya soal dukungannya di musda, hanya tersenyum.
Ketua Golkar Tana Toraja Viktor Datuan Batara juga belum memberi jawaban atas kecenderungannya memilih calon pengganti NH. “Hehehe, tunggu aja dek,” tulis Viktor yang juga wakil bupati Tana Toraja ini.

Kader ‘Kaleng-kaleng’

Pengamat komunikasi politik dari UIN Alauddin Makassar Dr Firdaus Muhammad, menyebut pernyataan kader kaleng-kaleng sebagai hal yang perlu disikapi. Kata dia, estafet kepemimpinan partai harus memberi garansi pada kadernya untuk berkhidmat sepenuhnya untuk parta.i “Karenanya dibutuhkan kader yang teruji loyalitas dan integritasnya pada partai selama ini,” ujarnya, kemarin.
Dekan Fakultas Ilmu Pilitik Unibos Dr Arief Wicaksono, menilai jika sebagai partai besar dan mapan di Sulsel, musda Golkar kali ini pasti penuh dengan wacana
“Dan sejatinya dinamika kaderisasi memang sangat diperlukan, karena itulah letak salah satu substansi dari sebuah partai politik. Tapi sistem pengkaderan yang saat ini berlangsung di hampir semua partai di Indonesia, kebanyakan berbasis pada figur yang bisa membawa suara paling banyak masuk kedalam partai atau biasa disebut vote getter,” ujar Arief.

Tahapan Diperpanjang

Panitia pengarah atau steering commitee (SC) musda X Golkar Sulsel memberikan penjelasan terkait minimnya bakal calon yang menyetor dukungan dari pemilik suara minimal 30 persen. Pihaknya memutuskan untuk melakukan perpanjangan jangka waktu tahapan jadwal pencalonan hingga tangga 25 Juli 2020.
Menurut SC, jadwal pencalonan dengan agenda penyetoran dukungan 30 persen dari pemegang hak suara awalnya dijadwalkan tanggal 22-23 Juli 2020. Namun dengan pertimbangan jumlah bakal calon yang banyak, sehingga membutuhkan waktu yang cukup untuk melakukan komunikasi dengan pemilik hak suara dalam rangka memperoleh dukungan.
“Jadwal penyerahan dukungan dilakukan setiap hari pukul 10.00 hingga 16.00 Wita di kantor DPD Partai Golkar Sulsel. Dapat diwakili dengan membawa surat kuasa yang ditandatangani oleh bakal calon dan bermaterai cukup,” ujar Ketua SC Arfandi Idris didampingi Sekretaris Irwan Muin.
Musda Partai Golkar Sulsel X akan memperebutkan 30 suara. Masing-masing berasal dari DPP satu suara, DPD I satu suara, DPD dua 24 suara, wanhat satu suara, ormas pendiri satu suara, ormas yang didirikan satu suara, dan sayap partai satu suara.
Untuk bakal calon ketua, ada sembilan orang yang telah mengembalikan formulir. Masing-masing Hamka B Kady, HA Kadir Halid, Supriansah, Syamsuddin A Hamid, Andi Rio Padjalangi, HM Taufan Pawe, Abdillah Nasir, Andi Syamsu Alam dan Emil Baramuli. (ono-udi-rif)




×


Pemilik Suara di Golkar Mulai Terang-terangan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar