BAK jamur di musim penghujan. Seperti itulah bisnis warung kopi (warkop) dan kafe di Kota Makassar saat ini. Akibatnya, persaingan untuk mendapatkan pelanggan berlangsung sangat ketat. Trik khusus pun dibutuhkan.
Laporan: Arif Al-Qadri
BANYAKNYA masyarakat Makassar yang menggeluti bisnis warkop dan kafe, tidak terlepas dari peluang untuk mendapatkan keuntungan lumayan. Jadi tidak heran jika usaha jenis ini banyak bertebaran. Mulai dari mal, ruko, hingga di lorong-lorong.
Pemilik dan pengelola warkop kini dituntut untuk semakin kreatif dan inovatif guna memenangkan persaingan. Itu jika mereka ingin terus mempertahankan dan mendapatkan pelanggan baru.
Pemilik Adapada Kedai di kawasan Pasar Segar Achmad Aria menyadari betul keinginan dan tuntutan para pelanggannya. Iapun kemudian ‘menyulap’ usahanya menjadi tempat nongkrong yang lebih disukai, utamanya para remaja.
Aria sengaja mendesain warkopnya dengan ornamen kayu warna coklat. Kursi dan meja untuk para pengunjung juga terbuat dari kayu. Ia menawarkan konsep tea house alias rumah teh.
”Untuk menjadikan sebuah kafe lebih dikenal, harus punya ciri khas yang berbeda dari yang lain. Selain nyaman dinikmati pengunjung, inovasi juga dimaksudkan agar kita bisa bersaing dengan tempat lainnya,” kata Aria.
Di tempat usahanya ini, Aria menawarkan menu yang berbeda dan model ruangan yang unik. Alasan memilih desain dan ornamen kayu di kafenya, agar para pengunjung bisa lebih rileks dan nyaman.
Diakui, konsep rumah teh coba ditawarkan, karena di Makassar masih sedikit warkop yang melakukannya. Karena itu, bahan pembuataannya sengaja menyajikan cita rasa dan aroma yang khas, dengan menggunakan daun teh asli yang dipesan dari luar Makassar.
”Saya sengaja membuat semuanya dari ornamen kayu untuk membuat pengunjung semakin nyaman dan tertarik datang ke tempat ini. Kami juga menawarkan menu teh tarik hijau yang sangat bermanfaat jika dikonsumsi meski setiap hari. Karena pada dasarnya teh adalah minuman herbal yang memiliki banyak manfaat,” ujarnya.
Saat ini, Adapada Kedai mempekerjakan tujuh orang karyawan. Jam operasinya dari pukul 13.00 Wita hingga 01.00 dinihari. Para pekerja dibagi menjadi dua shift, siang dan shift malam.
”Awal buka kafe ini saya tidak punya karyawan yang berpengalaman, baik untuk meracik kopi maupun pelayan biasa. Tapi setelah bekerja, semakin lama mereka bertambah profesional,” terangnya. (*/rus/b)

