MAKASSAR, BKM — Dinamika pesta demokrasi menjelang pemilihan wali kota (pilwali) 2020 Makassar di kalangan elite partai terus bergulir. Pertarungan dapat dikatakan aspiratif dan demokratis apabila remote antara pengusung dan diusung dapat dihilangkan, untuk menghasilkan pemimpin yang berkualitas.
Benang merah ini mengemuka dalam diskusi politik secara virtual yang dilaksanakan Harian Berita Kota Makassar, Kamis (27/8). Komisioner KPU Makassar Endang Sari, dan empat politisi menjadi narasumber. Masing-masing Syawaluddin Arief yang merupakan tim pemenangan pasangan bakal calon wali kota dan wakil wali kota Moh Ramdhan Pomanto-Fatmawati Rusdi. Burhanussin Baso Tika selaku tim pemenangan pasangan Munafri Arifuddin-Abd Rahman Bando. Farouk M Betta dari pasangan Irman Yasin Lipo-Zunnun. Serta Al Hidayat Samsu Niang sebagai tim pemenangan pasangan Syamsu Rizal MI-Fadli Ananda. Jalannya diskusi dipandu Redaktur Politik BKM Arif Situju.
Syawaluddin Arief yang juga politisi Partai Gerindra, memaparkan bahwa sosok pemimpin kota Makassar ke depan haruslah yang ideal. Partai besutan Prabowo Subianto ini pun telah merapatkan barisan untuk memenangkan pasangan Danny-Fatma dengan semakin menguatkan tim.
“Dalam pesta demokrasi, apalagi partai, perbedaan itu perlu dan tidak masalah bagi saya. Partai Gerindra sekarang tinggal konsolidasi dengan koalisi bagaiman skenario pemenangan. Semua sudah siap. Sekarang ini tidak ada pemimpin dengan pasangan yang ideal selain Danny-Fatma. Keduanya tidak diragukan lagi. Partai Gerindra yang memiliki lima kursi di legislatif punya kesempatan untuk memenangkan usangan kami sesuai dengan arahan partai,” jelas Syawaluddin.
Busranuddin Baso Tika yang juga ketua DPC PPP Makassar, mengungkapkan bahwa dalam mencari sosok pemimpin Makassar dan tahapan pilkada ini, dibutuhkan berniaga. “Kami sangat berharap penyelenggaraan pilwali ini bisa terlaksana dengan baik dan berjalan secara independen. Belajar dari pengalaman pilwali 2018 lalu, PPP Makassar tidak akan mengulang hal yang sama. Kami semua yakin partai politik dalam mengusung calon tidak diragukan lagi komitmennya. Jadi walaupun usungan kita beda, kita harus bersama-sama membangun Kota Makassar ini,” tuturnya.
Untuk mencegah potensi terjadinya konflik diantara sesama tim pasangan calon, pria yang akrab disapa BBT itu menegaskan, dalam sebuah pesta demokrasi tidak boleh saling berselisih. “Guna mencegah timbulnya konflik, proses pemilihan iniharus mengedepankan visi misi. Tidak boleh saling gontok-gontokan. Saya berkeyakinan, itu semua bergantung dari tim sukses para calon dalam mengerakkan kekuatan. Kita tidak mau suara PPP diambil partai lain. Apalagi PPP sudah lama berkecimpung di dunia politik,” ujarnya.
Al Hidayat Samsu Niang yang juga legislator PDIP Makassar, mengatakan pilwali kali ini hendaknya mencari pemimpin yang membawa Makassar lebih baik ke depan. Tentunya pasangan yang cocok dengan bekal dan pengalaman yang mumpuni.
“Kami mewakili padangan Dilan (Deng Ical-Fadli Ananda), dua tokoh muda yang aktif dan tahu betul sejarah masuk dalam kontestasi pilwali. Pasangan yang kami usung punya niat baik, namun hakikinya semua kembali kepada dukungan rakyat. PDIP selaku pengusung Dilan berharap bisa menjadikannya solusi pemimpin dalam mengatasi pandemi, dan yang kami idam-idamkan menjadi harapan masyarakat,” imbuhnya.
Politisi muda ini mencoba menggarisbawahi bahwa panggung demokrasi harus mampu menjaga konsolidasi demokrasi. Karena pemilih sudah cerdas. Untuk itu, seluruh calon hendaknya mengajukan program yang baik.
“Yang ideal dalam konteks politik ini hendaknya menjadi bahan edukasi dan pembelajaran 2018 kemarin. Pada saat pendaftaran di KPU nanti, maka publik akan tahu strategi kami di PDIP Makassar,” tambahnya.
Farouk M Betta yang tak lain adalah ketua DPD II Golkar Makassar, mengungkapkan jika ingin mencari pemimpin kota Makassar, tentu yang dibutuhkan adalah yang bisa mengembalikan Makassar sebagai kiblat kota Indonesia timur.
“Komitmen kami bersama bagaimana melahirkan kepemimpinan yang baik, mencari karakteristik yang bisa harmonis. Jangan bicara visi misi sedangkan pasangan calon yang diusung tidak akur. Kita di Partai Golkar tidak egois. Tapi mari kita sama-sama memberikan edukasi ke masyarakat. Tidak ada yang namanya money politik. Nanti pemimpinnya hancur kalau seperti itu,” cetus Aru, sapaan akrab Farouk M Betta.
Mantan ketua DPRD Kota Makassar ini juga meminta semua parpol berkomitmen untuk berjalan dengan baik, sehat berkompetisi tanpa saling menjatuhkan. “Yang terpenting dari semua ini adalah berserah diri dan mengontrol kader. Kami mau remote dalam tematik pilkada harus dihilangkan, supaya instrumennya selaras. Jangan sampai remotenya ingin ke kiri, tapi yang diusung mau ke kanan. Dualisme ini tidak boleh ada, nanti berputar di situ-situ saja,” tandasnya.
Sebelumnya, Komisioner KPU Makassar Endang Sari, menjelaskan bahwa sejauh ini tahapan-tahapan pilwali 2020 telah dilakukan massif oleh pihaknya. Data yang dimiliki KPU, saat ini ada sebanyak 726.743 pengguna hak pilih di Makassar, dari 967.590 orang daftar pemilih tetap (DPT) pada pemilu tahun 2019 lalu dengan tingkat partisipasi masyarakat rata-rata sebesar 75 persen.
“Untuk saat ini KPU tengah merampungkan seluruh data dan tahapan pemilihan. Dalam situasi masa pandemi seperti sekarang, sejauh ini kita masih menunggu perubahan aturan terkait persoalan kampaye. Nanti jika sudah keluar, kita pasti undang seluruh lapisan masyarakat mengawal pesta demokrasi ini,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan, bahwa jumlah DPT saat ini masih dirampungkan. Jumlah A-KWK yang akan dicocokkan sudah dimulai sejak Juli dan berlangsung hingga Agustus ini.
Untuk tahapan pemilihan wali kota 2020 ini, pendaftaran pasangan bakal calon dilaksanakan 4-6 September. Setelah itu tahapan tanggapan masyarakat 4-8 September, pemeriksaan kesehatan 4-11 September, penyampaian hasil pemeriksaan 11-12 September, verifikasi syarat calon 6-12 September, dan pengumuman hasil verifikasi 14-22 September.
Untuk penyerahan dokumen perbaikan 14-22 September, penelitian perbaikan dokumen 16-22 September, penetapan calon 23 September, serta pengundian dan pengumuman nomor urut 24 September.
“Karena situasi saat ini masih di tengah pandemi, kami juga mengatur tata cara kampaye sesuai protokol kesahatan. Jadi kampanye dilaksanakan mulai 26 September hingga 5 Desember dengan pertemuan terbatas, tata muka dan dialog, penyebaran bahan kampaye, pemasangan APK atau kegiatan lain,” bebernya. (ita)
Hilangkan Remote di Pilwali
Kader Parpol Harus Berkompetisi secara Sehat
×

