USIANYA masih tergolong remaja. Namun dia tidak ingin menghabiskan waktunya dengan sia-sia. Baginya, waktu harus dimanfaatkan. Banyak cara mengisi waktu dengan hal-hal yang berguna bagi diri dan keluarga.
NAMANYA Muhammad Rezki Wahyudi. Kini berusia 15 tahun. Ia tercatat sebagai santri di Pondok Pesantren Darul Arqam Gombara, Makassar.
Ketika pemerintah mengumumkan pandemi covid-19, ponpesnya mengeluarkan kebijakan. Remaja yang sehari-harinya karib disapa Wahyu ini bersama santri lainnya dikembalikan ke rumah orang tua masing-masing.
Wahyu pun pulang ke kampung halamannya. Kesehariannya kemudian diisi dengan aktivitas bermanfaat. Ia menggantikan posisi ibundanya melayani pembeli bensin eceran.
Selama masa pandemi, setiap hari dia berjualan mulai pukul 07.00-00.00 Wita. “Sudah enam bulan saya menggantikan posisi ibu berjualan bensin,” ujarnya, Rabu (7/10).
Ayahnya, Abdul Hafid, kesehariannya adalah tukang kayu. “Ayah saya tukang kayu. Tapi selama pandemi ini, tidak ada orderan yang masuk,” imbuhnya.
Kedatangan Wahyu membuat ibunya bernapas lega. Karena ia tidak gengsi menggantikan posisinya. Sang ibu pun fokus mengurus rumah tangga dan mengasuh kedua adik Wahyu yang masih kecil.
Menurut Wahyu, dia menyadari betul latar belakang perekonomian keluarganya. Karenanya dia tidak mau menghabiskan waktunya dengan sia-sia. “Allah Swt berfirman di dalam Al-Qur’an; demi masa, sesungguhnya manusia berada di dalam kerugian,” ucapnya sambil mengutip ayat Al-Qur’an.
Di sela-sela melayani pembeli, Wahyu tidak melupakan statusnya sebagai santri. Dia mengisinya dengan murattal Al-Qur’an sekaligus menghafal beberapa ayat. “Saya juga mengisi waktu dengan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an,” tuturnya.
Ketika tiba waktu untuk makan siang, Hafid datang menggantikan putranya berjualan. Jarak antara rumah Wahyu dengan tempatnya berjualan berkisar 500 meter. Keluarga Wahyu menumpang berjualan di tanah milik salah satu tokoh masyarakat di Jalan Monginsidi, Kelurahan Bonto Rita, Kecamatan Bissappu.
Menurut Wahyu, dalam sehari, omzet penjualannya rata-rata Rp800 ribu. “Saya berjualan selama 17 jam, dari pagi hingga larut malam. Alhamdulillah, omzetnya mencapai Rp800 ribu,” terangnya.
Dipaparkannya, bensin ecerannya dijual Rp8.000 per liter. Jadi, kata dia, rerata terjual 100 liter perhari. Omzet ini, kata ayah Wahyu, menurun jika dibandingkan sebelum penetapan pandemi covid-19.
Kalau sebelum pandemi, kata Hafid, nilai penjualannya menembus antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta perhari. Jadi, kata dia, laba bersih perbulan rata Rp5 juta. “Yang jelas ada penurunan keuntungan. Yah, kira-kira 10 sampai 20 persen,” katanya.
Ditambahkan Wahyu, selama berjualan, dia tidak pernah merasa jenuh ataupun kelelahan. Malah, kata dia, dirinya banyak mendapat pelajaran berharga dan bisa dipetiknya. Di antaranya, Wahyu menyadari betapa berat tanggung jawab orang tua terhadap anaknya.
“Banyak hikmah yang saya dapat selama berjualan, yang memotivasi saya untuk lebih tekun belajar di ponpes. Saya tidak mau mengecewakan kedua orangtua saya yang telah berkorban demi menyekolahkan saya,” kuncinya. (wam/b)

