MAKASSAR, BKM — Raja Tallo XIX Muh Akbar Amir Sultan Aliyah mengatakan dirinya malu jika dipanggil karaeng. Sebab karaeng diambil dari kata karim atau yang dipertuhan-kan.
”Tabe maraja, saya sangat malu kalau kita panggilka karaeng. Karena apa? Anda mempertuhankan saya. Seorang karaeng itu harus memiliki sifat ilahiyah pada dirinya untuk orang banyak,” ungkap Muh Akbar Amir dalam dialog publik bertema; Siri’ na Pacce, Jaga Budaya Kita Sipakatau, Sipakainga, Sipakalabbiri yang diselenggarakan Komando Pejuang Merah Putih (KPMP) Propinsi Sulawesi Selatan di Warkop Adnan Jalan Anggrek, Rabu (7/10).
Muh Akbar memaparkan sejarah dan menjelaskan makna kata karaeng. ”Kalau ada orang yang mau dipanggil karaeng sedangkan sifatnya tidak memiliki sifat ketuhanan, manna madarra tengku cera patola atau cera rassi, tidak boleh dipanggil karaeng kalau tidak ada sifat ilahiya pada dirinya untuk orang banyak,” jelasnya.
Narasumber lainnya yang tampil dalam dialog ini adalah Ilham Arif Sirajuddin. Di sela-sela penjelasannya, mantan wali kota Makassar dua periode ini menyinggung tentang kota ini yang layaknya dipimpin oleh sosok yang bisa melestarikan budaya, dan paham betul tentang cara mempertahankan nilai-nilai adat Makassar.
”Mari kita sampaikan, khususnya kader-kader KPMP, berilah pencerahan terhadap masyarakat tentang sosok kepimimpinan yang kita harapkan. Sosok yang betul-betul memahami siri’ na pacce. Kemudian memahami kultur Bugis-Makassar, yaitu sipakatau, sipakainge, dan sipakalebbi,” ujar Ilham. (rul)
Raja Tallo Bahas Karaeng, IAS Bicara Siri na Pacce
×

