MAMUJU, BKM — Seperti diprediksi sebelumnya, gempa susulan kembali terjadi di wilayah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Gempa dengan magnitudo 4,2 ini berlangsung, Senin (18/1) pukul 12.11 Wita.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, episenter berlokasi pada 16 km timur laut Majene, Sulbar pada kedalaman 10 km. Guncangannya dirasakan di daerah Malunda III MMI (getaran seakan-akan ada truk lewat), dan di Mamuju II MMI (getaran dirasakan oleh beberapa orang). Gempa ini merupakan susulan gempa utama yang terjadi pada Jumat dinihari (8/1) dengan magnitudo 6,2.
Seperti sebelumnya, gempa kali ini disebutkan tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Walau begitu, terjadi penurunan tanah di wilayah Tapalang tak jauh dari pinggir pantai. Bahkan pergerakan tanah memunculkan sebuah lubang yang cukup besar.
Selain itu, getaran juga kembali menyebabkan terjadinya longsor. Kali ini berlangsung di Belalang, Desa Onang, Mamuju. Begitu pula di jembatan Bolong, Desa Takandeang, Kecamatan Tapalang, Mamuju. Jalur transportasi sempat terputus, namun tidak berlangsung lama. Alat berat yang dikerahkan berhasil menyingkirkan material longsoran yang menutupi badan jalan.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Juga menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa.
Pascagempa utama Jumat pekan lalu, Tim Medis Siaga Bencana dari Unhas bersama Palang Merah Indonesia (PMI) telah diturunkan ke Mamuju dan Majene. Tim pendahuluan berangkat pada 14 Januari 2021. Menyusul tim kedua yang dipimpin langsung Prof Dr Idrus Paturusi pada Sabtu (16/1).
Selain bantuan kesehatan dan pengobatan korban bencana, tim juga membawa bantuan bahan pokok dan alat kesehatan sebanyak 2 ton. Termasuk darah dari PMI, bantuan logistik PT Semen Tonasa dan Gerakan Masyarakat Peduli Anak dan Remaja Indonesia (Gempari), serta alat pelindung diri (APD) dari Tim Satgas Covid-19 Unhas.
Tim juga membawa genset untuk suplai listrik.
Dalam keterangannya, Senin (18/1), Prof Idrus menjelaskan bahwa setelah tiba di lokasi, dirinya dan Tim Siaga Bencana dari Makassar langsung meninjau Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Kondisi rumah sakit relatif besar, namun kondisinya rusat di beberapa tempat. Tim mempersiapkan kemungkinan melakukan operasi dan pengobatan pasien korban bencana. Banyak pasien yang mengalami patah tulang yang perlu penanganan mendesak.
“Dalam dua hari, saya dan tim telah mengoperasi 24 pasien patah tulang. Hari ini (kemarin) rencananya ada enam pasien lagi. Bangunan rumah sakit memang besar, tapi kondisinya sangat terbatas. Akibatnya, kami menempatkan pasien pascaoperasi di lobby dan lorong rumah sakit. Alhamdulillah, hari ini Rumah Sakit Terapung KRI Dr Suharso telah merapat, dan rencananya sebagian pasien akan kita pindahkan ke kapal,” kata Prof Idrus.
Pada saat gempa terjadi, banyak masyarakat yang menyelamatkan diri ke pegunungan. Setelah dua hari, mereka yang menjadi korban dan membutuhkan perawatan medis mulai berdatangan dari gunung. Akibatnya, rumah sakit mulai dipadati korban, dan tenaga medis mulai kewalahan. Dukungan peralatan kesehatan dan tenaga medis sangat mendesak.
“Kondisi rumah sakit memang rusak di beberapa bagian. Namun kita coba optimalkan. Mudah-mudahan kita bisa menerima bantuan tenda darurat. Saya sudah berkomunikasi Jenderal Dony Monardo untuk bantuan dari BNPB,” kata Prof Idrus.
Menurut Prof Idrus, bantuan bahan pokok dan logistik saat ini terus mengalir dan ditampung pada berbagai posko darurat. Bantuan logistik dan kebutuhan pokok masyarakat dan korban mudah-mudahan memadai. Akan tetapi bantuan medis yang sekarang perlu menjadi perhatian.
“Saya sudah berkoordinasi dengan dr. Hasbullah dan relawan-relawan lainnya agar mengoptimalkan dukungan medis dan kesehatan. Sekarang pasien terus berdatangan, sehingga kita perlu dukungan untuk ini,” tandasnya.
Prof Idrus Paturusi merupakan sosok yang selalu responsif setiap terjadi bencana alam di Indonesia, hingga ke luar negeri. Mantan rektor Unhas yang mendapat sebutan Profesor Bencana Kemanusiaan ini menjadi penggerak untuk memastikan bantuan kemanusiaan dan medis bagi para korban.
Tim medis yang membersamai Prof Idrus, yakni DR dr Karya Triko Biakto, DR dr Muhammad Sakti, dr Muhammad Andry Usman, dr Jainal Arifin, dr Muhammad Phetrus Johan, dr Dewi Kurniati, dr Benny Murtaza, dr Helmiyadi Kuswardhana, dr Vicky William
, dr Sufandi Fahmi
, dr Ahmad Perdana
, dr Hisbullah Amin, dan dr Iryawan Idris.
DIJAGA POLISI-Aparat kepolisian berjaga di salah satu minimarket yang kembali dibuka, Senin (18/1), setelah sebelumnya tutup pascagempa besar melanda Mamuju, Jumat (15/1).
Polisi Jaga Toko yang Buka
Roda perekonomian di Kabupaten Mamuju dan Majene yang sempat terhenti pascagempa besar hari Jumat lalu, perlahan mulai bergerak kembali. Dari pantauan BKM, Senin (18/1), terlihat sudah ada beberapa pemilik toko yang mulai membuka usahanya. Personel Sabhara Polda Sulbar dan Polres Mamuju berjaga-jaga di toko tersebut guna memberi rasa aman.
Kapolres Mamuju Kombes Pol Iskandar, mengatakan pihaknya menempatkan beberapa personel di toko yang mulai buka kembali guna memastikan kebutuhan masyarakat dapat tetap terpenuhi secara tertib dan aman.
Untuk itu, ia menghimbau warga agar tetap tenang. Iskandar berjanji akan terus mengawal setiap pendistribusian bantuan sampai ke tangan masyarakat yang terdampak bencana.
”Sejumlah personel kami tempatkan di toko yang sudah buka. Tujuannya agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya secara aman dan tertib,” ujar Kombes Iskandar, kemarin.
Empat hari setelah gempa besar melanda, sebagian pengungsi baru mendapatkan bantuan. Seperti yang berada di dua desa, yakni Desa Ahu dan Dungkait, Kecamatan Tapalang Barat, Mamuju. Itupun belum semua bisa memperolehnya. Namun sudah bisa mengurangi beban mereka yang tinggal di tenda pengungsian.
Sekretaris Apkasindo Sulbar Andi Tahmid, mengatakan bahwa bencana yang terjadi di Sulbar merupakan bencana kita semua. Karena itu wajib hukumnya untuk saling membantu, agar Sulbar pulih dna bangkit seperti sediakala. ”Kenapa titik bantuan kita arahkan ke Kecamatan Tapalang Barat, karena di wilayah ini belum merasakan hadirnya uluran tangan dan bantuan,” ujarnya.
Sofian, seorang warga Desa Ahu menyampaikan terima kasih karena sudah mendapatkan bantuan. Dia pun mempertanyakaan bantuan dari pemerintah daerah untuk mereka dan warga lainnya. (*/rus)

