MAKASSAR, BKM — Awal tahun 2021 ditandai dengan terjadinya sejumlah bencana. Mulai dari tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182, tanah longsor, hingga gempa bumi di Sulawesi Barat. Doa bersama lintas agama pun digelar.
DI Sandeq Ballroom Hotel Claro, Makassar, Senin (18/1). Sebagian orang duduk bersila di atas kain berwarna putih. Di atas panggung berdiri beberapa orang dengan busana keagamaan masing-masing-masing. Mereka adalah pemuka agama. Ada pula CEO Phinisi Hospitality Anggiat Sinaga.
Semuanya tampak tenang dalam lantunan doa yang silih berganti dipanjatkan. Ya, mereka tengah mengikuti doa bersama untuk para korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta dan bencana alam gempa bumi Sulbar.
Sebelum doa bersama dilaksanakan, Anggiat Sinaga menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada semua keluarga korban Sriwijaya Air. ”Ini sebagai bentuk dukungan moril kepada para korban bencana serta keluarganya. Semoga mereka semua kuat,” ujarnya.
District Manager Sriwijaya Air Fredy J De Hart menyebut, sampai saat ini sudah ada 29 korban yang telah teridentifikasi. ”Sejak 17 tahun bersama Sriwijaya Air, insiden kali ini sangat berat. Karena jumlah korban jiwa yang begitu banyak,” ujarnya.
Manajemen Sriwijaya Air, menurut Fredy, sampai saat ini masih terus melakukan pendampingan terhadap keluarga korban. Semaksimal mungkin akan memberikan informasi terkait perkembangan mengenai korban.
Pemuka agama Islam, Kristen, Katolik, Budha, dan Hindu terlibat dalam doa bersama ini. Masing-masing Ustas H Arifuddin Lewa (Islam), Pdt Fritz R Bakker (Kristen), Pastor Junarto Timbang (Katolik), Bhante Saving (Budha), dan Pinandita I Wayan Netra (Hindu).
Keluarga korban Sriwijaya Air asal Makassar tak bisa hadir dalam kegiatan ini. Pada saat bersamaan mereka mengikuti pertemuan dengan direksi PLN, karena almarhum merupakan karyawan yang bekerja di perusahaan negara tersebut. (pkl)

