pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Anak Penjual Ikan Raih S2 dari Honor Imam Tarawih dan Ojol

Kisah Inspiratif Herman Pelani, Guru Agama Islam SMPN 5 Makassar

DI mana ada usaha di situ ada jalan. Ungkapan ini terbukti benar adanya. Herman Pelani, seorang guru agama Islam di SMP Negeri 5 Makassar adalah contohnya.

MENGENAKAN seragam berwarna cokelat dan peci warna hitam, BKM menemui Herman di sekolahnya Jalan Sumba, Kelurahan Pattunuang, Kecamatan Wajo, Kota Makassar. Pria yang lahir di Kampung Erasa, Kelurahan Pundata Baji, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep ini tampak begitu bersahaja.
Ditemani Kepsek Firman, Herman lalu berkisah tentang perjalanan hidupnya. Ia berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya seorang penjual ikan skala kecil di kampungnya. Sementara ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa.
Tak dipungkiri olehnya, bapaknya memilih tabiat yang kurang baik hingga terjebak di dunia hitam. Kondisi itu berlangsung sejak Herman kecil hingga beranjak dewasa.
”Dari situ saya kemudian bertekad kelak bisa lebih baik dari ayah saya. Bisa memperlihatkan kepada orang lain bahwa tidak selamanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Artinya, tidak selamanya ketika seorang ayah bertabiat kurang baik lalu anaknya akan mengikuti jejaknya. Saya ingin bisa bermanfaat bagi orang banyak,” tutur Herman.
Usai menempuh pendidikan di Sekolah Dasar (SD) 1 Labakkang, ia lalu melanjutkan ke Madrasah Tsnawiyah (MTs) Perak. Atas keinginan sendiri, Herman kemudian lanjut ke Madrasah Aliyah (MA)
Darul Istiqamah Maccopa, Maros.
Menjelang masuk bangku kuliah, keinginan Herman untuk memperdalam ilmu agama semakin kuat. Dia pun melanjutkan pendidikan pada jenjang S1 STAI DDI Mangkoso, Barru. Ia memilih jurusan Pendidikan Agama Islam. Predikat sarjana strata satu (S1) berhasil digenggamnya.
Tak berhenti sampai di situ, Herman bertekad untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Strata dua (S2) dibidiknya, walau sebenarnya kondisi ekonomi tak mendukung. Diapun melanjutkan berkuliah di Program Pascasarjana Univesitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar di awal tahun 2017.
”Berangkat dari niat dan tergolong nekat, dengan Bismillah saya mencoba melanjutkan pendidikan di jenjang S2. Pada saat itu saya berpikir untuk mencari kerja sampingan, karena perjalanan saya masih panjang. Bagaimana caranya saya bisa menyelesaikan pendidikan, terkendali atau tertatih-tatih. Karena saya tidak punya pekerjaan tetap. Sementara orangtua saya orang yang tidak punya,” tuturnya.
Untuk masuk kuliah S2, Herman harus membayar uang muka. Dari mana ia memperoleh uangnya? Ternyata dari imam salat tarawih yang selama ini dikumpulkannya.
Di semester pertama kuliah S2, Herman pun menjalani pekerjaan sebagai pengemudi ojok online (ojol). ”Saya memang harus bekerja mencari uang sambil kuliah. Keluarga saya tidak mampu untuk membiayai. Di keluarga, hanya saya yang paling tinggi pendidikannya. Karena itu saya punya keinginan besar untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi,” ujar anak bungsu dari lima bersaudara ini.
Menjadi mitra ojek daring menjadi pilihan Herman, karena ketika itu pekerjaan ini tersedia bagi banyak orang. Sembari bekerja, Herman juga menyelesaikan tugas-tugas kampus. Hasilnya pun tak mengecewakan. Ia mampu menyelesaikan kuliah S2 di tahun 2018 hanya dalam tempo satu tahun enam bulan. Bahkan tercatat sebagai wisudawan tercepat di angkatannya.
Keberuntungan kembali berpihak pada Herman. Tak lama setelah selesai kuliah S2, tepatnya di tahun 2019, pemerintah membuka peluang untuk menjadi abdi negara. Dia lalu memberanikan diri untuk mendaftar.
”Sebenarnya waktu itu tidak ada keinginan untuk mendaftar sebagai guru. Tetapi sebelum pendaftaran ditutup, ada teman yang menyarankan agar mendaftar CPNS pada bidang yang dibutuhkan. Karena pada hakikatnya guru dan dosen itu sama-sama mengajar. Dan Alhamdulillah, saya akhirnya lulus tes dan sekarang mengajar di SMP 5 sebagai guru agama Islam,” terang Herman.
Pencapaian yang telah diraih Herman saat ini mendatangkan kesyukuran luar biasa di kalangan keluarga. Sebab jika dipikir, rasanya sangat mustahil orang seperti dirinya yang berasal dari keluarga tidak mampu bisa mendapatkan hasil seperti sekarang.
”Saya anak paling terakhir dari seorang bapak yang buta huruf. Bekerja sebagai penjual ikan biasa yamg untungnya tidak besar. Dari dulu hingga sekarang. Umurnya sudah menghampiri 70 tahun,”’ jelasnya.
Semua keluarga, terutama kedua orangtua dan kakaknya begitu bahagia dengan apa yang diperoleh Herman kini. Seolah tak percaya, namun Herman menyakini bahwa apa yang dikehendaki oleh Sang Maha Pencipta tentu akan terjadi.
Sebuah kenangan yang pernah bisa dilupakan, diungkap oleh Herman. Kala itu ia harus membayar uang SPP semester kedua. Menjelang penutupan pembayaran, dirinya tak punya uang. Oleh Tuhan, jalan keluar itupun diberikan.
”Teman-teman membantu saya mengumpulkan uang mereka masing-masing, hingga akhirnya saya bisa bayar SPP yang ketika itu sebesar Rp4,5 juta,” ujarnya dengan nada haru.
Di bagian akhir wawancara, Herman menitipkan pesan untuk anak-anak muda, bahwa hidup itu jangan pernah disesali. Jangan pernah iri melihat orang lain dengan mengatakan bahwa mengapa mereka dilahirkan dari keluarga yang mampu.
”Saya dilahirkan dari keluarga tidak mampu. Dan Alhamdulillah bisa seperti sekarang. Jadi jangan pernah sesali kehidupan ini, karena roda kehidupan itu berputar. Sepanjang kita ingin berusaha lebih baik dari sebelumnya, Insyaallah Tuhan akan mempertemukan kita dengan apa yang diimpikan itu. Teruslah menuntut ilmu pengetahuan. Jangan pernah berhenti. Karena menuntut ilmu tidak pernah ada ruginay. Bagi orang yang mempunyai ilmu akan bermanfaat bagi orang lain, terkhsusu bagi kita sendiri. Jangan pernah malas belajar, karena ulet dan tekun belajar akan memudahkan kita meraih impian. Sayangi kedua orangtua, doakan di setiap selesai salatmu. Saling tolong menolong sesama manusia. Suatu saat nanti kebaikan akan menghampirimu pada waktu yang tepat,” kunci Herman. (pkl)



×


Anak Penjual Ikan Raih S2 dari Honor Imam Tarawih dan Ojol

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar