TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) kembali dilaksanakan pada tahun 2021 ini. Khusus di Kabupaten Gowa, kegiatan difokuskan pada kawasan relokasi masyarakat yang akan terkena dampak pembangunan bendungan Jenelata di Kecamatan Manuju. Tepatnya di Kampung Allu, Dusun Tanakaraeng, Desa Tanakaraeng. Seperti apa progressnya?
TMMD ke-110 mulai dilaksanakan 2 Maret 2021. Dibuka secara resmi oleh Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan. Hadir Danrem 141 Toddopuli Brigjen TNI Djashar Djamil, Kapolres Gowa AKBP Budi Susanto, Kajari Gowa Yeni Andriani, pimpinan OPD lingkup Pemkab Gowa serta jajaran Korem 141 Toddopuli dan Kodim 1409 Gowa ini. Hingga Sabtu (6/3), rerata progressnya di angka 40 persen.
Untuk pekerjaan program, kemanunggalan TNI-rakyat ini dibackup 150 personel TNI berbagai kesatuan. Seperti Yonif 726, Divif 3 Kostrad, Yon Zipur 8, TNI AL, dan TNI AU. Selain itu, juga melibatkan personel Polri dari Polres Gowa, Polres Bone serta unsur Pemerintah Kabupaten Gowa dan masyarakat Desa Tanakaraeng.
Kepala Desa Tanakaraeng Sampara mengatakan, sebagai pemerintah desa, ia bersama masyarakat bersyukur dan bangga dengan adanya TMMD di desanya. “Saya selaku kepala desa bersama masyarakat Tanakaraeng sangat bangga, bersyukur, dan bahagia karena ada akses baru di Kampung Allu yang bisa menghubungkan desa lain, bahkan kecamatan lainnya,” tuturnya.
Selama ini, menurut Sampara, masyarakat Kampung Allu sangat kesulitan mengangkut hasil taninya dengan kondisi akses jalan yang tidak memadai. Seperti harus melintasi sungai menggunakan sepeda motor ataupun hewan kuda. Bahkan harus memikul sendiri. ”Para petani di sini sangat kesulitan,” ujarnya.

Karena itu, dia berharap dengan adanya program TMMD ini, akses jalan tani yang dulu tidak jelas hamparannya, kini sudah bisa terealisasi lewat karya bakti TNI bersama masyarakat desa.
“Jalan tani memang pernah ada, tapi tidak jelas hamparannya. Bahkan sangat tidak rata, karena struktur jalan yang membelah lahan kebun masyarakat juga tidak rata. Jalan tani ini buntu,” terang Sampara lagi.
Karena itu, lanjutnya, dengan adanya TMMD ini, akses bisa terbuka menembus desa seberang di Kecamatan Bungaya. Jaraknya tidak cukup dua kilometer.
”Semoga bisa segera tersambung. Di desa kami ada tiga dusun, yakni Dusun Tanakaraeng, Manyampa dan Bilampang dengan masing-masing dihuni kurang lebih 200 kepala keluarga (KK),” papar kades.
Sampara juga menyebut, dari kurang lebih 100 KK terdampak pembangunan bendungan Jenelata, akan direlokasi ke Kampung Allu sebagai tempat hunian baru. Di kampung ini, potensi pertanian jenis jagung menjadi komoditi unggulan masyarakat setempat.
“Alhamdulillah, realisasi adanya akses jalan yang baik sudah terlihat dari progres pekerjaan yang dilakukan setiap hari oleh personel TNI-Polri dan masyarakat. Jika sudah selesai dikerja, maka para petani akan lebih mudah mengangkut hasil taninya, baik dengan menggunakan motor, maupun mobil. Bahkan yang pakai tenaga kuda sekalipun. Sebab waktu tempuh akan lebih cepat dibanding ketika jalan dan jembatan belum ada,” bebernya.
Danrem 141 Toddopuli Brigjen TNI Djashar Djamil di sela meninjau langsung pekerjaan fisik pembuatan jalan dan jembatan, mengatakan pelibatan masyarakat dan sejumlah pihak lain dalam TMMD ini merupakan kolaborasi dan sebuah kebersamaan.
“Makna TMMD itu adalah untuk membantu pemerintah daerah mewujudkan kesejahteraan masyarakat, mendorong pembangunan di daerah, dan juga dalam rangka mewujudkan kemanunggalan TNI dan rakyat, serta kebersamaan TNI’Polri dengan masyarakat. Saya berharap kegiatan TMMD yang diagendakan hingga 31 Maret mendatang bisa rampung tepat waktu,” tandas Brigjen TNI Djashar Djamil di lokasi pembuatan jembatan unit 1 di Kampung Allu, Selasa, 2 Maret 2021 lalu.
Ditegaskan Djashar, program ini akan diawasi ketat. Sebab selain sebagai bukti bakti TNI ke masyarakat dan pemerintah, juga karena program ini dibackup anggaran daerah sebagai sharing pemerintah kabupaten dalam progressnya.
“Saya akan awasi langsung. Apalagi saya ini sebagai PKP atau penanggungjawab keberhasilan pelaksanaan dari TMMD ini. Karena program ini menggunakan anggaran untuk pekerjaan fisik berupa pembuatan jalan, jembatan, duiker dan MCK,” kata Danrem 141 Toddopuli.
Dandim 1409 Gowa Letkol Arh Muh Suaib, menjelaskan bahwa dalam TMMD 110 ini ada empat jenis pekerjaan fisik yang dilakukan. Yakni pembuatan dua jembatan masing-masing berukuran 9×5,5 meter, pengerasan jalan 1.000×5,5 meter (1 km) , pembuatan plat duiker lima unit serta MCK dua unit. Pekerjaan fisik ini dibackup anggaran sebesar Rp2 miliar yang merupakan sumbangsih full Pemkab Gowa melalui APBD 2021.
Progress dari keempat pekerjaan fisik ini untuk pengerasan jalan yang menghubungkan Kampung Allu, Desa Tanakaraeng, Kecamatan Manuju ke Desa Bissoloro, Kecamatan Bungaya ini sudah 25 persen. Untuk pembuatan jembatan satu unit terrealisasi 20 persen (pembuatan pondasi jembatan-betonisasi). Satu unit lainnya masih 0 persen. Termasuk pembuatan plat duiker dan MCK.
Dari pemantauan pelaksanaan pekerjaan di lokasi TMMD Kampung Allu, terlihat antusias para personel dari berbagai kesatuan bekerja siang dan malam. Bersama segenap masyarakat desa, para personel TNI-Polri bekerja mulai pukul 07.00 Wita hingga pukul 12.00 Wita. Setelah istirahat, kemudian lanjut bekerja siang mulai pukul 14.00 Wita hingga pukul 17.00 Wita. Kembali ke posko yang telah disiapkan. Dilanjutkan lagi bekerja malam bila cuaca mendukung (tidak hujan).
“Setiap hari kami turun ke lokasi pekerjaan. Para personel berjalan kami dari posko tempat mereka menginap. Ada yang di barak pesantren. Ada yang di rumah-rumah penduduk sejauh satu kilometer. Tak ada lelah. Kami riang, karena ini bagian dari latihan fisik sebagai TNI,” kata Danpos Manuju Peltu Bakri Rola. (saribulan)

