BONE, BKM — Aparat Polres Bone masih terus melakukan penyelidikan terkait kebakaran hebat yang melanda rumah adat Bola Soba di Kota Watampone. Polisi telah meminta keterangan beberapa orang saksi untuk memastikan penyebab si jago merah menghabiskan bangunan tersebut pada hari Sabtu subuh (20/3).
Kapolres Bone AKBP Try Handako Wijaya Putra yang dikonfirmasi, mengaku belum bisa menyimpulkan penyebab kebakaran. ”Belum bisa dipastikan penyebabnya. Biarkan kami melakukan penyelidikan lebih jauh lagi. Nanti akan kami informasikan perkembangannya,” ucap AKBP Try yang dikonfirimasi.
Kasat Reskrim Polres Bone AKP Ardy Yusuf, mengatakan pihaknya pihaknya telah memasang garis polisi di lokasi kejadian. Termasuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta memeriksa beberapa video guna mengungkap penyebab kebakaran.
“Api diduga berasal dari bagian belakang Bola Soba. Jadi untuk saat ini kami fokus pada bagian belakang. Karena di situ ada terlihat beberapa kabel yang ikut terbakar,” terang AKP Ardy.
Lebih jauh dia mengatakan, pihaknya bersama tim Inafis saat melakukan olah TKP. Sementara bukti-bukti yang ditemukan langsung dikoordinasikan dengan Tim Labfor Polda Sulsel.
Rumah Adat Bola Soba Kabupaten Bone dibangun sejak tahun 1890 pada masa pemerintahan Raja Bone ke-30 La Pawawoi Karaeng Sigeri. Sebagai tempat tinggal raja, Bola Soba merupakan salah satu peninggalan sejarah kerajaan Bone yang teregister sebagai salah satu cagar budaya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)
.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone Andi Ansar Amal yang dihubungi, kemarin mengatakan bahwa dalam peristiwa kebakaran tersebut bisa dipastikan tidak ada benda-benda pusaka yang ikut terbakar. Karena semua yang ada di dalamnya hanyalah benda replika.
“Tidak ada benda pusaka asli, ndi. Kalau benda pusaka yang asli itu semuanya disimpan di Museum Arajangnge. Benda yang ada di Bola Soba itu hanya berupa Teddung Pulaweng, silsilah kerajaan, bosara, baju adat dan meriam. Tapi itu semua replika,” kata Andi Ansar.
Hingga kemarin, Pemerintah Kabupaten Bone belum dapat merilis berapa total kerugian akibat terbakarnya Bola Soba. Sebab menurut Andi Ansar, Bola ini merupakan salah satu ikon Bone yang memiliki nilai sejarah dari masa lalu.
Bupati Bone Andi Fahsar Mahdin Padjalangi yang memantau puing kebakaran, terlihat sangat prihatin dan bersedih melihat sisa-sisa Bola Soba yang hangus terbakar. Diapun meminta ke pihak kepolisian untuk menyelidiki dan memastikan penyebabnya.
“Biarkan polisi menyelidiki apa penyebabnya. Yang jelas, kejadian ini merupakan peringatan buat kita semua untuk waspada terhadap musibah seperti ini,” tandasnya.
Selain itu, dia berjanji untuk sesegera mungkin melakukan rehabilitasi kembali salah satu ikon bersejarah di Kabupaten Bone yang tinggal puing itu.
Menurut Andi Fahsar, dalam pembangunannya nanti, dia akan melibatkan budayawan untuk desainnya. Yang pasti, akan dibangun lebih baik lagi dari sebelumnya tanpa mengurangi nilai historisnya.
“Untuk persiapannya, lebih awal harus dengan desainnya dulu. Terutama untuk mendapatkan kayu yang sama dengan kayu sebelumnya. Begitu pun dengan ukurannya, tergantung nanti dari para ahli dan budayawan yang menanganinya. Yang jelas historinya tidak dihilangkan. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa direhab kembali,” imbuhnya.
Plt Gubernur Prihatin
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengaku perihatin atas kebakaran Bola Soba. Ia menilai, bangunan yang kini tinggal rangka kayu dan puing itu merupakan sejarah kearifan lokal. Karenanya, peristiwa terbakarnya menjadi duka mendalam bagi masyarakat Kabupaten Bone.
“Tentu kami prihatin atas kejadian itu. Bola Soba itu kan sejarah kearifan lokal kerajaan. Kejadian ini menjadi duka bagi masyarakat Kabupaten Bone,” ungkap Andi Sudirman. Ia berharap agar dokumen-dokumen penting yang terdapat di bangunan itu bisa terselamatkan.
Saoraja yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Bone ke-31 La Pawawoi Karaeng Sigeri MatinroE ri Bandung (1895-1905) . Awalnya, diperuntukkan sebagai kediaman raja pada waktu itu sehingga disebut Saoraja.
Selanjutnya, ditempati oleh putra La Pawawoi Karaeng Sigeri yang bernama Baso Pagilingi Abdul Hamid, yang kemudian diangkat menjadi Petta Ponggawae (Panglima Perang) Kerajaan Bone oleh raja dengan persetujuan Ade’ Pitue.
Saat ditempati oleh Petta Ponggawae, maka bubungan rumah atau timpa’ laja diubah menjadi empat singkap atau susun setelah sebelumnya lima singkap. Sebab, dalam tata kehidupan masyarakat Bugis, lima singkap timpa’ laja dalam bangunan rumah diperuntukkan bagi rumah raja dan timpa’ laja dengan empat singkap untuk putra raja.
Seiring dengan ekspansi Belanda yang bermaksud menguasai nusantara, termasuk Kerajaan Bone pada masa itu, maka Saoraja Petta Ponggawae ini pun jatuh ke tangan Belanda dan dijadikan sebagai markas tentara. Tahun 1912, difungsikan sebagai penginapan dan untuk menjamu tamu Belanda. Dari sinilah awal penamaan Bola Soba yang berarti rumah persahabatan atau dalam bahasa Bugis Sao Madduppa to Pole.
Kemudian, Bola Soba’ juga pernah difungsikan sebagai istana sementara raja pada masa pemerintahan Raja Bone ke-32 La Mappanyukki Sultan Ibrahim MatinroE ri Gowa, 1931-1946, menjadi markas Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS), menjadi asrama TNI pada tahun 1957, hingga kemudian dijadikan sebagai bangunan peninggalan purbakala sampai saat ini.
Saoraja telah mengalami tiga kali pemindahan lokasi. Lokasi aslinya, terletak di Jalan Petta Ponggawae, Watampone yang saat ini menjadi lokasi rumah jabatan bupati Bone. Selanjutnya, dipindahkan ke Jalan Veteran, Watampone dan terakhir di Jalan Latenritatta, Watampone sejak tahun 1978. Peresmiannya dilakukan 14 April 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (1978-1983) yang saat itu dijabat Prof Dr Daoed Joesoef.
Sebagai bangunan peninggalan sejarah, Saoraja didesain untuk mendekati bangunan aslinya. Namun demikian, beberapa bagian juga mengalami perubahan, baik perbedaan bahan maupun ukurannya. Secara umum, Saoraja yang memiliki panjang 39,45 meter ini terdiri dari empat bagian utama, yakni lego-lego (teras) sepanjang 5,60 meter, rumah induk (21 meter), lari-larian/selasar penghubung rumah induk dengan bagian belakang (8,55 meter) serta bagian belakang yang diperuntukkan sebagai ruang dapur (4,30 meter).
Selanjutnya, pada bagian dinding dan tamping, dilengkapi dengan ukiran pola daun dan kembang sebagai ciri khas kesenian Islam dengan perpaduan model swastika, yaitu sebuah simbol religius yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang kompleks. (man-nug)

