TANGGAL 5 Juni ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Sedunia. Di Makassar, ada satu gadis cilik yang sejak dini telah menunjukkan kepedulian dan kecintannya terhadap lingkungan. Namanya Andi Nisfatul Aira. Usianya baru 11 tahun. Duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar (SD), dan sebentar lagi beranjak ke jenjang SMP.
DI sebuah taman, Sabtu (5/6) yang bertepatan dengan Hari Lingkungan, Aira –nama panggilannya– ditemui. Ia bersama ibunya Indrawatiabdi diwawancarai untuk program RanahRus kanal Youtube Harian Berita Kota Makassar.
Bungsu dari empat bersaudara ini tampil kasual. Pemilik rambut panjang ini mengenakan celana panjang warna putih dipadu kaus oblong warna hitam. Sang ibu tampil senada, dengan mengenakan hijab warna hitam. Keduanya ternyata sama-sama aktivis di bidang lingkungan.
Di usia yang masih terbilang belia, yaitu pada umur empat tahun, Aira kecil sudah diperkenalkan pada upaya mengurangi limbah plastik. Dia pun melakukan diet plastik atau mengurangi penggunaan plastik. Selanjutnya, pada tahun 2019 Aira sudah mempraktikkan membuat ecobrick.
Ecobrick adalah botol plastik yang diisi padat dengan limbah non biological untuk membuat blok bangunan yang dapat digunakan kembali, atau disebut sebagai batubata ramah lingkungan. Ecobrick mampu memberikan kehidupan baru bagi limbah plastik, dan merupakan cara lain untuk utilisasi sampah-sampah tersebut selain mengirimnya ke pembuangan akhir.
Karena kepeduliannya dalam memerangi sampah plastik, Aira pun kini menyandang sebagai seorang trainer di bidang lingkungan. Ia pun kerap diundang untuk membawakan materi tentang ecobrick.
”Aira sudah punya sertifikat telah mengikuti Training of Trainer (ToT) langsung dari GEA (Global Ecovrick Alliance). Aira sering diundang untuk menjelaskan serta mengedukasi orang lain untuk membuat ecobrick,” terang Aira sambil memperlihatkan sertifikatnya yang telah dibingkai.
Selain itu, ada pula satu sertifikat yang tak kalah berartinya bagi Aira. Control Tobacco ia raih di tahun 2019 karena berhasil membukukan 4.000 puntung rokok.
Terkait ecobrick, dalam sesi wawancara Aira memperlihatkan hasil karyawanya. ”Ini terbuat dari botol bekas. Dipercantik dengan plastik berwarna. Di dalamnya diisi. Ini bisa jadi kursi atau meja. Saya sering membawanya ke mana-mana,” ungkap Aira lagi.
Dengan kemampuannya memberikan penjelasan, tidak salah jika Aira kemudian dipercaya menjadi pembicara di mana-mana. Sejumlah tempat pun telah didatanginya untuk berbicara di depan umum tentang ecobrick. Mulai dari Gowa, Maros, Sulawesi Barat, hingga Bali.
Indrawati yang mendampingi putrinya, menuturkan bahwa dirinya sedari awal sudah mengajarkan tentang lingkungan kepada anak-anaknya. Indra yang terbiasa membuat kompos di rumah, menarik perhatian Aira untuk terlibat di dalamnya.
”Aira merupakan trainer tercilik di dunia saat ini. Sekarang lagi persiapan menjadi trainer ahli bangunan tanah. Batubata ecobrick ini bisa menjadi alternatif untuk membuat taman ataupun kursi, dengan menggunakan tanah liat, jerami, ditambah sedikit semen. Bisa jadi lego atau gapura, sesuai bentuk-bentuk seperti yang diinginkan,” terang Indra.
Aira, seperti disampaikan Indrawati, tak canggung mengambil plastik yang dibuang di tempat laundry tetangga. Kadang dua atau tiga hari sampah plastik tersebut dikumpulkan lalu dibuat ecobrick.
Saudara Aira yang lain juga biasa membantu mengumpulkan sampah plastik. ”Kalau ada kegiatannya, botol bekasnya dibawa pulang ke rumah. Waktu salat Id di masjid dekat rumah baru-baru, kakaknya Aira yang nomor dua membawa kantong kresek yang banyak ditinggalkan di lokasi,” tutur Indra.
Di bagian lain penjelasannya, Indra mengakui bahwa rencananya ia akan mendatangkan penemu ecobrick Russel Maier. Russel yang juga seorang seniman itu kini berada di Bali.
”Kita akan memulai dari sekolah melalui program pelajar ramah plastik. Kita berikan edukasi di situ. Prioritas pertama adalah gurunya. Mereka diberikan arahan untuk menjadi trainer. Setelah kembali ke sekolah, akan menjadi figur bagi siswanya. Mudah-mudah Pak Wali Kota bisa mendukung program ini,” tanda Indra.
Di pengujung wawancara, Aira yang ditanya tentang cita-citanya kelak, langsung menyebut petani. Alasannya, dia ingin membantu masyarakat yang sulit mencari nafkah.
”Petani itu bukan hanya menanam padi. Tapi juga sayuran. Jadi tidak mutlak harus bertani di desa. Aira pernah tanam kangkung di rumah dan hasilnya dipanen. Juga tanam kacang panjang sama cabai. Kalau panen, hasilnya biasa dibagi ke tetangga,” paparnya. (*/rus)

