DI jagat maya, pasangan Tumming dan Abu begitu dikenal. Mereka yang berasal dari Makassar ini identik dengan kontennya yang lucu. Tidak salah jika kreator konten komedi disematkan kepada keduanya.
HADIR di program Diary Putri untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Senin (9/8), Tumming-Abu berkisah tentang perjalanan karirnya hingga bisa dikenal seperti saat ini. Mereka bertutur dengan gayanya yang khas.
Diawali dengan memulai karir di akhir tahun 2013, menjadi seorang kreator konten, membintangi film Uang Panai yang mendapat antusias penonton di Tanah Air, hingga mendapat endorse sejumlah produk.
Keduanya cukup intens membagikan konten-konten mereka di media sosial, baik melalui Instagram maupun Youtube. Meski awalnya mereka tidak memiliki waktu atau jadwal khusus untuk memposting konten baru, namun melihat situasi sekarang, di mana media sosial memiliki algoritma, mereka kemudian mengikuti sistem algoritma tersebut. “Kalau uppload jam sekian, ternyata banyak penontonnya,” ujar Abu sedikit memberi tips.
Selain itu, mereka juga melihat momen dan kondisi yang ada untuk dijadikan sebagai bahan konten. “Siapa tahu ada berita trending, apa yang sedang viral,” tambahnya.
Tumming dan Abu adalah konten kreator yang bergenre komedi. Saat ini, konten kreator di jalur ini sudah banyak bertebaran di Indonesia, bahkan di Makassar. Semakin banyaknya konten kreator dengan genre yang sama, tentu semakin banyak pula yang menjadi pesaing Tumming dan Abu. Menyikapi hal tersebut, Abu dengan santai berkata. “Jadi, sebenarnya di bidang atau pekerjaan seperti ini, tetap harus saling support,” imbuhnya.
Ia dan partner kerjanya Tumming, tidak menganggap hal tersebut sebagai kompetisi. “Justru kita ini ada grup bersama. Yang penting komunikasinya baguslah,” lanjutnya.
Lalu bagaimana pandangan Tumming dan Abu melihat ada banyak orang yang rela melakukan hal-hal yang salah hanya untuk viral (terkenal), yang sifatnya sementara. “Terserah, mau-maunya saja,” seru Tumming.
Abu menambahkan, “Kita harus memandang beberapa sisi, karena tidak ada manusia yang tidak punya salah. Mungkin, kalau seperti itu jalannya, bisa diikuti, bisa tidak. Kalau keterlaluan mungkin bisa ditegur, dibatasi. Karena manusia semua punya batasan.”
Pada dasarnya, mereka tidak pusing dengan beberapa orang yang ‘ingin viral’ dengan cara yang keliru. Hal tersebut juga merupakan sebuah usaha yang dipilih oleh mereka.
Terlepas dari itu, Tumming dan Abu yang merupakan seorang konten kreator pastilah memiliki fans dan haters. Semua orang punya hak untuk berkomentar, ada yang berkomentar baik dan ada pula yang buruk. Lalu bagaimana mereka menanggapi komentar-komentar masyarakat yang terkadang kasar dan menyakiti hati?
“Yang namanya manusia pasti punya perasaan. Kalau baca komen-komen yang seperti itu kadang down juga. Tapi hal tersebut kita jadikan sebagai pelajaran saja. Oh… berarti saya harus belajar. Saya harus memperbaiki, harus lebih bagus lagi,” jelas Abu.
Sementara menurut Tumming, memang harus membagi apa yang bisa dikontrol dan apa yang tidak bisa dikontrol. ”Semua yang sudah dibuat sudah tidak bisa dikontrol, yang bisa dikontrol adalah proses membuatnya, itu yang dimaksimalkan,” terangnya.
“Pada hakikatnya, terserah oranglah, mereka mau menyebut kita apa. Kita hanya konten kreator. Jadi terserahlah dinilainya bagaimana,” ujar Abu.
Sebagai penutup, Tumming dan Abu berpesan untuk pemuda-pemuda yang ingin menikah namun terhalang dengan uang panai, seperti judul film yang pernah mereka lakoni. ’ “Tetap semangat. Memang jodoh di tangan Tuhan, tapi kita tetap harus berusaha.” (pkl)

