AKTIVITAS bongkar muat di TPI Paotere sudah berlangsung sejak pagi-pagi buta. Kapal-kapal nelayan tradisional terlihat berjejer di sepanjang dermaga. Transaksi antara nelayan dengan agen ikan pun berlangsung di atas kapal.
Laporan: Arif Al Qadri
HUSAINI bersama rekannya membersihkan kapalnya setelah semua ikannya habis terjual. Dia terlihat sumringah, karena hasil tangkapannya cukup banyak kali ini.
Ikan yang ia tangkap sebelumnya dimasukkan ke dalam boks penampungan yang telah diisi dengan batu es. Sarana pendingin ini terlebih dahulu dihancurkan lalu diratakan di dalam boks. Dengan cara ini, ikan hasil tangkapan para nelayan tidak mudah busuk dan tetap segar ketika sampai di TPI Paotere untuk dipasarkan.
Sembari membersihkan kapalnya, Husaini bercerita bahwa sejak kecilnya, tepatnya ketika masih duduk di bangku kelas 5 SD, ia sudah ikut bersama bapaknya mencari ikan di laut. Tetapi saat itu mereka hanya menggunakan perahu sekoci yang ukurannya kecil. Dari sinilah Husaini mengetahui cara menangkap ikan yang baik dan benar.
Setelah lulus SD, Husaini tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Alasannya, terkendala masalah ekonomi. Bapaknya hanyalah seorang nelayan dan ibunya ibu rumah tangga biasa.
Untuk biaya sehari-hari, Husaini mengetahui bapaknya cukup kesulitan. Karena itu diapun pasrah dan tidak mendesak orang tuanya untuk menyekolahkannya ke tingkat SMP, meski sebenarnya ia sangat berharap bisa melanjutkan pendidikan.
Sejak saat itu sampai sekarang Husaini lebih banyak menghabiskan waktu di tengah laut untuk mencari ikan. Apalagi omnya yang juga seorang nelayan mengajak Husaini ikut bersamanya mencari ikan di tengah laut, bahkan menghabiskan waktu hingga seminggu.
Di usia 20 tahun, Husaini telah menikah. Dari hasil pernikahan itu, mereka telah dikarunia dua orang anak yang masing-masing duduk di bangku SMP dan SD.
Ia berharap, kedua anaknya memiliki masa depan yang jauh lebih baik dari dirinya. Ia berjanji akan terus memperhatikan pendidikan anak-anaknya sehingga dapat meraih sukses di masa mendatang.
Semasa kecil, Husaini sebenarnya punya cita-cita ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS). ”Saya dulu mau sekali jadi PNS. Karena kalau PNS itu santai dan tinggi gajinya. Tapi mau diapa, saya hanya lulusan SD. Jadi satu-satunya harapan saya sekarang adalah anak-anak saya. Mudah-mudahan mereka bisa berhasil dan meraih sukses seperti apa yang ia inginkan,” tuturnya.
Tidak jauh dari kapal Husaini, terlihat seorang agen penjual ikan. Namanya Dg Simba. Ketika didekati, ia bersedia berbagi cerita tentang rutinitas kesehariannya di tempat ini.
Setiap hari sejak pukul 05.30 Wita, Dg Simba sudah berada di dermaga Paotere menunggu kapal nelayan yang sandar. Biasanya ia membantu para nelayan menjual ikannya kepada pembeli. Dari situ ia mendapatkan persenan.
Menurutnya, menjadi agen ikan di TPI Paotere tergolong mudah dan saling menguntungkan. Karena dengan kehadiran agen, para nelayan terbantu menjual ikan mereka.
“Saya hanya agen ikan disini. Biasanya saya bantu nelayan menjual ikan mereka, dengan catatan membagi persenan ke saya. Pekerjaan ini sudah lama saya jalani. Mungkin hampir sekitar 30 tahun lamanya,” ucapnya.
Setiap hari Husaini mampu membawa pulang uang sekitar Rp300 ribu per hari. Uang tersebut ia gunakan untuk biaya sekolah anak anaknya dan kebutuhan sehari-hari.
Tetapi tidak jarang pula ia sama sekali tidak membawa pulang uang ke rumahnya. Seperti ketika musim hujan atau kondisi cuaca buruk, yang berdampak pada hasil tangkapan ikan para nelayan. (*/rus)

