BERANGKAT dari kampung halamannya di Jeneponto, Andini Ika Aprilla punya satu tekad meraih keberhasilan di Kota Makassar. Ia diterima kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Hasanuddin.
Jalan hidup seseorang memang tidak pernah ada yang tahu. Demikian pula dengan Andini, sapaan akrabnya. Gaya dan penampilannya berubah drastis semenjak menjejakkan kaki di Kota Daeng. Ia jauh lebih terlihat dewasa dibanding teman sebayanya.
BKM/ARDHITA ANGGRAENI
Andini Ika AprillaMaklum saja, di sela-sela mengikuti perkuliahan, ia juga tergabung dalam sebuah manajemen model. Hampir seluruh temannya tidak pernah menyangka perubahan yang terjadi pada diri Andini. Bahkan ia sempat disebut ‘bunglon’ oleh teman-temannya. Itu karena penampilanannya yang selalu berubah-ubah.
”Dulu tidak beginika. Sampai-sampai teman bilangi saya bunglon. Karena mereka tidak saya juga model ketika masuk kuliah. Saya ditawari jadi model pas masuk kuliah,” ujarnya dalam bincang-bincang santai dengan BKM di sela-sela waktu senggang kuliahnya, beberapa waktu lalu.
Postur tubuh yang ideal serta caranya bergaya membuat Andini cocok menjadi model. Mengenakan baju kaos lengan panjang warna pink, dipadu motif kotak-kotak celana panjang terusan, ia menceritakan pengalamannya semenjak menggeluti dunia lenggak lenggok di atas catwalk ini.
”Jadi model itu susah. Butuh perjuangan. Mulai dari mengatur waktu sampai ada yang harus dikorbankan. Pokoknya, banyak yang harus dilalui,” begitu Andini sedikit curhat.
Lahir di Jeneponto, 1 April 1997, Andini mulai menjejaki karir modeling ketika ditawari salah satu manajemen model yang ada di kota ini. Awalnya, ia sempat berpikir.
Namun, dengan pertimbangan untuk membantu meringankan beban orang tua membiayai kuliah serta hidupnya di Makassar, Andini akhirnya menerima tawaran itu, dengan status sebagai model freelance.
BKM/ARDHITA ANGGRAENI
Andini Ika Aprilla”Sebelum menerima tawaran itu, saya sampaikan dulu ke pihak manajemen bahwa saya masih kuliah. Jadi kalau ada jam kuliah, saya tidak kerja. Permintaan saya itu mereka terima,” kata Andini lagi.
Andini merupakan akan pertama dari empat bersaudara, buah hati pasangan Suryaldin Sita dan Asriani Syam. Sebagai anak tertua, Andini merasa punya tanggung jawab untuk bisa meraih sukses agar bisa menjadi contoh bagi adik-adiknya.
”Saya ini kan anak pertama, jadi saya harus bekerja. Karena orang tua juga harus membiayai adik-adik. Saya membantu mereka dari hasil bekerja sebagai model,” terangnya.
Selepas kuliah nantinya, Andini punya keinginan bisa menjadi seorang pegawai bank dan juga sebagai wanita pengusaha.
”Ini pekerjaan (sebagai model) karena kebutuhan. Tapi keinginan saya sebenarnya, setelah selesai nanti saya ingin jadi pegawai bank. Senang lihat orang kerja di bank,” katanya memberi alasan.
Orang tua Andini tidak pernah keberatan dengan karir yang tengah dijalani anaknya saat ini. Mereka hanya berpesan agar anak sulung mereka itu tidak melenceng dari tujuan awal datang ke Makassar, yaitu kuliah.
Sebelum menggeluti model saat kuliah, Andini ternyata punya hobi di bidang olahraga, khususnya basket. Ketika masih duduk di bangku sekolah, berbagai turnamen basket sering ia ikuti. Sudah banyak prestasi yang diraihnya dari cabang olahraga ini.
”Saya suka olahraga basket dan sering ikut turnamen. Kalau dapat juara, lumayan dapat medali dan hadiah,” ujarnya sumringah.
Dalam melakoni hidupnya sampai saat ini, Andini menerapkan apa yang diajarkan orang tuanya. Lakukan saja yang terbaik selagi masih mampu, baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang.
“Prinsip saya lakukan terbaik untuk masa depan. Berusaha semaksimal mungkin melakukan yang terbaik,” kuncinya. (ita/rus)
Biayai Kuliah dari Model
×

