pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Seoul Bersih tanpa Bak Sampah Bisa Ditiru di Macca Rong

Catatan Perjalanan ke Kota Ginseng, Korea Selatan (1)

INILAH kali pertama perjalanan media yang tidak hanya dari pimpinan media di Fajar Grup, tapi juga berbagai instasi. Selain dari Pemkot Makassar, Pemkab di Sulsel, juga dari unsur Kepolisian. Semua mata memandang melihat secara langsung kemajuan kota Ginseng. Selama 4 hari berada di Korea Selatan, mulai 22 hingga 25 Maret dipimpin H Agussalim Alwi Hamu selaku Direktur Utama Media Fajar Koran. Saya yang ikut dalam rombongan menuliskan secara bersambung. Mustawa Nur dari Berita Kota Makassar menurunkan tulisan dalam catatan pertama.

PESAWAT Sky Air, penerbangan Singapura mendarat mulus di bandara internasional Incheon, sekitar pukul 15.30. Satu jam lebih cepat dari kota Makassar. Rombongan disambut dengan cuaca pun suhu 5 derajat celsius.
Suhu yang begitu dingin dibanding Makassar membuat rombongan harus berjaket tebal. Apalagi jumlah rombongan yang begitu besar sebanyak 57 orang ini, harus bergantian masuk ke resto, sekadar menghangatkan badan dari cuaca.
Tapi rombongan lain justru memanfaatkan momen untuk selfie secara bergantian walaupun dingin begitu menyengat dalam tubuh. ”Kapan lagi, ini tak mungkin kita lewatkan,’’kata Hamka dari Dinas PU Kota Makassar dan langsung menggadeng istrinya dengan latar belakang kota MT Sorak.
Sepanjang perjalanan, mata saya terus memandang suasana kota. Mulai dari MT Sorak hingga ke kota Seoul. Semua sudut kota terlihat bersih dan tak ada satu pun terlihat ada sampah berserakan. Bahkan, lebih aneh lagi karena juga tidak disediakan bak sampah seperti di Makassar disebut gendang dua.
Demikian pula untuk rumah tangga, juga tidak menyiapkan bak sampah. Semua hanya menyiapkan kantong plastik yang dijual bebas. Jadi mudah sekali mendapatkannya. Yang ada di pinggir jalan hanya kantong plastik lalu ditaruh di bawah pohon dengan tiga jenis warna. Ada putih, ada hitam dan ada hijau.
Semua sampah ini terbagi dengan berbagai kategori. Ada sampah kering, sampah basah dan juga sampah untuk daur ulang. Persis dengan program pemerintah kota Makassar yang sudah menyiapkan kantong plastik untuk pembuangan sampah.
Semua kantong sampah itu jika sudah ada ditaruh di bawah pohon, secara disiplin petugas kebersihan akan mengangkutnya. Mereka secara rutin menjalankan tugas dengan hari yang sudah ditentukan. Semua jenis sampah pengangkutannya tidak bercampur, seperti di Makassar.
‘’Jadi sampah basah, sampah kering dan sampah daur. Itu beda beda hari pengangkutanya. Tidak bersamaan,‘’ kata Herlina, warga Korea yang lama bermukim di Jakarta.
‘’Apakah warga membayar pengangkut sampah?’’ Tanya saya. ‘’Oh tidak perlu, karena mereka sudah membeli kantong plastik dan itu hasil penjualannya untuk menggaji petugas kebersihan. Jadi sampah warga tidak diangkut jika sampahnya tidak menggunakan kantong plastik khusus,” ujarnya.
Untuk mengurangi sampah, memang Pemerintah Korea cukup ketat. Para pengelola hotel pun tidak lagi menyiapkan sikat gigi, botol kecil yang isinya sabun dan shampoo. Itu semua dipandang berpotensi menjadi sampah.
‘’Tapi di kota Seoul, masih ada beberapa hotel yang menyiapkan untuk itu, karena dipandang ibukota Korea Selatan. Tapi hotel selain Seoul tidak lagi,‘’ jelas Herlina, ibu yang pernah jadi figuran dalam film Perkawinan Dini.
Petugas kebersihan di Korea Selatan memang paham akan tugasnya dan betul-betul sudah profesional. Mengapa? Karena memang disiplin dengan tugas kerjanya. Sebelum bertugas, mereka sudah ditraining khusus.
Selain itu, gaji yang diberikan kepada mereka cukup tinggi dengan berbagai asuransi yang sudah dijaminkan. Bahkan, Korea juga lebih banyak mengoptimalkan tenaga kerja yang sudah pensiun. Yang betul betul sudah terlatih dan disiplin akan tugasnya. ‘’Mereka tidak kerja asalan, Pak. Mereka betul betul kerja. Kalau dia melap saja cermin. Dia lap sampai mengkilat. Kalau dia bersihkan sampah di sungai, bersih betul, Pak. Tidak kerja asalan. Apalagi yang dipekerjakan yang sudah pensiun.Dia tidak punya pikiran macam-macam. Pokoknya kerja hingga semua memuaskan,’’ kata Herlina, guide rombongan kami yang lama tinggal di Indonesia.
Apakah bisa diterapkan di Makassar? Di bawah Pemerintahan Ir Ramdhan Phamanto, Korea Selatan bisa jadi referensi untuk program kebersihan kota Makassar. Melalui Program Macca Rong (Makassar Caradde Caradde di Lorong) dengan berbasis tiga tujuan. Cara’dde (Pintar) membuang sampah di tempatnya, Cara’de (Pintar) memilah sampah, dan cara’de (pintar) membentuk bank sampah.
Konsep ini juga tak jauh beda jika dianalisa lebih mendalam apa yang diterapkan di Korea Selatan. Mengapa? Karena Korea memang jauh hari sudah menerapkan edukasi dengan pola pendidikan yang sudah berstruktur. Pola itu menjadi budaya, sehingga jika ada sampah yang dikomsumsi di jalan, orang korea tetap masukkan dalam kantong celana atau bajunya.
Namun Makassar jika diterapkan secara serentak dengan pendekatan hukum melalui Perda dengan sanksi yang berat, sulit akan efektif tanpa harus memprogramkan kultur yang bisa merubah mainset warga Makassar.
Itulah sebabnya, Macca rong akan mengedukasi dalam bentuk kawasan. Ada 143 Kelurahan. Artinya, 143 kawasan ini harus disinergikkan dengan program Macca rong. Dimulai dari petugas kebersihan yang mengoperasionalkan pengangkutan sampah. Mereka harus dilatih untuk mengetahui yang mana sampah basah, yang mana sampah kering dan yang mana sampah daur ulang. Jika mereka terdidik, maka mereka memilih penghasilan yang tinggi karena sampah daur ulang bisa dijual di bank sampah.
‘’Para petugas kebersihan kita kadang tidak sadar, kalau yang mereka bawa di mobil tangkasa itu adalah uang jutaan rupiah. Kalau mereka sadar, dia bisa memilah dan menjual di bank sampah. Selain mereka dapat gaji, juga mendapatkan uang dari penjualan sampah,‘’ kata Walikota Makassar saat melounching Program 3 M (Majurong,Maroasi, Macca Rong) di Kelurahan Cambayya, pekan lalu.
Apakah kultur juga bisa diterapkan seperti Korea? Program Maccarong jika bergerak bersama dengan pemerintah, mulai Lurah,Camat dan Dinas Kebersihan dan warga, semua bisa berjalan efektif. Mengapa? Karena sebuah tujuan, hanya kuncinya di komunikasi.
Berbagai fakta dalam program Berita Kota sudah terlihat hasilnya. Dari Mabasa, Mabello, Majurong. Semua program ini telah memberi kontribusi untuk mendorong partisipasi warga. Bahkan gerakan Polisi Temanta bersama Polres Parepare juga menunjukkan angka kriminalitas yang turun secara signifikan. Karena itu, tahun ini diprogramkan yang baru di Macca Rong. Sasarannya, macca warganya, macca lurahnya, dan macca medianya. Tiga kunci macca ini berorientasi untuk menerapkan konsep tri sukses. Sukses warga, sukses pemerintah dan sukses Berita Kota selaku media komunikasi pemerintah dan warga.
Untuk merealisasikan tujuan ini, visi harus sama. Harus pemerintah menfasilitasi untuk mengedukasi warga dan Berita Kota menggerakan melalui komunikasi. Jika warga bertanya, ada pemerintah kota yang menjawabnya. Namun hingga kini, semangat sudah ada, tingga realiasasi untuk segera diaplikasikan. Apakah tata kelola sampah ala Korea bisa di Macca Rong? Sangat tergantung semangat aparat pemkot dalam mewujudkan Makassar 2 kali lebih baik . (***)



×


Seoul Bersih tanpa Bak Sampah Bisa Ditiru di Macca Rong

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar