pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Tiga Warga Sulsel Disandera di Filipina

Pemkab dan Pemprov Belum Tahu

MALILI, BKM — Tiga warga asal Sulawesi Selatan menjadi korban penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Dua diantaranya merupakan warga asal Kabupaten Luwu Timur, dan satunya lagi dari Kabupaten Wajo.
Warga dari Lutim masing-masing Wawan Saputra, lahir di Palopo, 30 Desember 1993 dan bertempat tinggal di Jalan Ahmad Yani RT 01 Kelurahan Puncak Indah, Kecamatan Malili. Sementara satu orang lainnya adalah Rinaldi, kelahiran Wotu, 26 April 1991. Tempat tinggal terakhir di Jalan Tinumbu Lorong 132 2/12 RT 03/06 Makassar. Sedangkan warga Wajo bernama Suyono.
Fitriani, tante Rinaldi yang dikonfirmasi, kemarin membenarkan adanya informasi tentang penyanderaan keponakannya itu. “Iya. informasi itu kami dapat dari rekan Rinaldi di Makassar,” ujarnya, kemarin.
Ia berharap, pemerintah kabupaten dan provinsi dapat memberikan bantuan terkait adanya dua warga Luwu Timur yang saat ini disandera di Filipina.
“Mudah-mudahan pemerintah dapat membantu dengan menggalang dana. Karena kelompok yang melakukan penyanderaan meminta uang tebusan,” ungkap Fitriani.
Kecamatan Gilireng Kabupaten Wajo, Surianto, ikut menjadi sandera kelompok Abu Sayyaf di perairan Pilipina.
Tentang Surianto yang warga Giliring, Kabag Humas dan Protokoler Pemkab Wajo, Hasri As, mengaku mendengar kabar ada seorang warga asal Gilireng yang jadi sandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina. ”Untuk saat ini, kita pihaknya baru mau memastikan benar atau tidaknya,” ujarnya, Selasa (29/3).
Ditemui di rumahnya k di Kelurahan Gilireng, Kecamatan Gilireng, Kabupaten Wajo, tante Surianto, Raesa mengaku pertama kali mendapat kabar penyanderaan ini dari Camat Gilireng, Andi Cakunu.
“Saya ditelepon Pak Camat. Katanya ada warga Gilireng atas nama Surianto yang disandera teroris. Ponakan saya memang namanya Surianto,” kata Raesa.
Mendengar kabar dari kecamatan, Raesa tidak langsung. Namun setelah dikabari oleh sahabat korban yang bernama Amir, dirinya baru percaya.
“Nanti saya percaya kalau itu keluarga saya, setelah sahabat Surianto yang bernama Amir menelpon saya,” jelasnya.
Surianto yang berlayar belum cukup satu bulan. Dua minggu lalu ia sempat menelepon untuk pamit kepada keluarganya. “Dia pamit kepada saya dua minggu lalu. Katanya kapal sudah mau berangkat. Dia juga bilang ke saya, jangan kaget kalau satu bulan tidak bisa dihubungi karena tidak ada jaringan di laut,” jelas Raesa.
Orang tua Surianto, Manton (63) nampak terpukul atas kabar yang menimpa anaknya. Saat ditemui wartawan, ia hanya diam dan tidak mau berkomentar banyak. “Dia berangkat bulan Maret ini,” katanya singkat.
Surianto lahir di Gilireng, 21 Agustus 1985. Ia putra kedua dari empat bersaudara pasangan Manton (63) dan Isa (60). Surianto, berlayar meninggalkan satu orang anak berumur 3 bulan. Keluarganya berharap pemerintah RI dapat melakukan upaya untuk menyelamatkan keluarga mereka yang disandera.
Sekertaris Kabupaten (Sekkab) Luwu Timur, Bahri Suli yang dikonfirmasi, mengaku belum mendapatkan informasi terkait dua warga Luwu Timur yang disandera di Filipina. Meski begitu, dirinya akan melakukan kordinasi terkait kasua ini, untuk memutuskan langkah apa yang akan ditempuh oleh pemerintah daerah.
“Saya belum tahu tentang penyanderaan itu. Mungkin bupati sudah tahu. Kita terlebih dahulu akan melakukan koordinasi,” kata Bahri via telepon, kemarin.
Dihubungi terpisah, Kepala Desa (Kades) Puncak Indah, Kecamatan Malili, Cakkir mengaku juga belum mengetahui ada warganya yang disandera di Filipina. “Saya pastikan dulu, Pak. Saya akan meminta ke staf terlebih dahulu untuk mendatangi keluarganya,” ungkap Cakkir yang mengaku sedang menjalani dinas luar.
Dikutip dari berbagai sumber, dua kapal Indonesia yang disandera yakni kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12. Kapal itu membawa 7.000 ton batubara dan 10 awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.
“Saat dibajak, kedua kapal dalam perjalanan dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan, menuju Batangas, Filipina Selatan,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, lewat pernyataan tertulisnya, Selasa (29/3).
Kepala Bidang Humas Polda Sulselbar, Kombes Pol Frans Barung Mangera melalui telepon selularnya, kemarin membenarkan adanya dua warga Sulsel yang disandera di Filipina. Pihak kepolisian yang menerima informasi tersebut serta adanya laporan dari keluarga awak kapal yang disandera, berjanji akan memfasilitasi dan mengupayakan penyelamatan keduanya.
”Saat ini kami sementara melakukan koordinasi dengan mabes Polri dan TNI,” ujar Frans Barung.
Terpisah, Pemerintah Provinsi Sulsel belum mengetahui informasi adanya dua warga asal Luwu Timur yang disandera di Filipina. Hingga sore kemarin, informasi itu belum sampai ke pemprov.
Ketika dikonfirmasi wartawan, Selasa (29/3), Sekretaris Provinsi Sulsel Abdul Latief mengatakan, belum ada laporan yang masuk terkait persoalan tersebut. “Belum. Belum ada informasi yang kami peroleh terkait itu,” ujar Abdul Latief.
Dia mengatakan akan mencari informasi terkait persoalan itu.
Namun ditegaskan, jika betul ada kejadian seperti itu dan laporannya sudah masuk ke Pemprov Sulsel, pihaknya akan segera menindaklanjuti. Pemprov akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI dan secepatnya mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu dilakukan.
“Secepatnya kami akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri jika sudah tahu ada informasi itu,” pungkasnya. (alp-ish-rhm-ilo/rus/c)



×


Tiga Warga Sulsel Disandera di Filipina

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar