WALI KOTA Makassar Moh Ramdhan Pomanto telah mencanangkan revolusi pendidikan. Termasuk program Makassar Metaverse atau Makaverse. Salah satu sekolah yang telah mewujudkan konsep tersebut adalah SMP Negeri 6 Makassar. Termasuk merdeka belajar yang menjadi program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).
KEPALA SMPN 6 Makassar H Munir menjelaskan penerapan sejumlah program tersebut dalam wawancara untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar. Ia mengawali dari keberadaan perpustakaan di sekolah yang dipimpinnya.
”Dulu tempat ini (perpustakaan) hanya dijasikan sebagai gudang menyimpan buku.Tapi berkat bimbingan Dinas Perpustakaan Makassar melalui Sentuh Pustaka, kondisinya kini berubah drastis. Perpustakaan menjadi tempat menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar. Setiap saat anak-anak berkunjung dan bisa mengakses bahan belajar, baik secara manual maupun elektronik. Melalui perpustakaan, siswa lebih berkreasi dalam menimba ilmu,” terang Munir.
Yang lebih menggembirakan lagi, lanjut Munir, perpustakaan SMPN 6 Makassar telah terakreditasi A dari kementerian. Tidak banyak sekolah di Indonesia yang mendapatkan akreditasi tersebut. Hal ini menunjukkan komitmen sekolah dalam memanfaatkan perpustakaan semaksimal mungkin.
”Pendidikan kita sedang stagnan dan sebenarnya juga terbelakang. Atas kesadaran itu, apa yang bisa kita lakukan? Kita harus berpikir. Apa yang harus kita pikirkan? Membuat sebuah inovasi. Harusnya inovasi yang tidak lazim. Harus melakukan loncatan berpikir. Itulah revolusi pendidikan. Pak Wali Kota sudah mencanangkannya,” ungkap Munir.
Menurutnya, loncatan berpikir dan inovasi yang tidak lazim memang harus dilakukan dalam kondisi seperti saat ini. Karena jika masih menggunakan cara-cara seperti dulu, maka kita harus bersiap selamanya menjadi pengikut.
”Meloncat sehingga kita bisa menjadi yang terdepan. Mari semua berkarya dan berpikir tidak seperti dulu. SMPN 6 Makassar sudah memikirkan itu,” tandasnya.
Ia kemudian menjelaskan aplikasi loncatan berpikir dan inovasi tak lazim itu. Salah satunya adalah pada saat siswa ulangan semester, mereka tidak lagi diberikan soal-soal oleh guru. Hal ini berbeda dengan yang selama ini dilakukan. Siswa diberi soal puluhan nomor lalu dikerjakan.
”Dengan konsep lama seperti itu tidak ada merdekanya. Materinya ditentukan oleh guru. Metode belajarnya ditentukan oleh guru. Tempat belajarnya ditentukan oleh guru, soalnya oleh guru. Di mana merdekanya anak-anak?” terang Munir.
Dia kemudian menyebut sebuah kata Matasa, yang merupakan akronim dari Maju dengan Asesmen Tanpa Soal. Matasa dalam bahasa Bugis berarti matang.
”Pada semester lalu anak-anak sudah mengikuti ulangan tanpa soal. Mereka kita pancing untuk berpikir. Pancingan itu dibuat dalam tiga instrumen. Pertama, mereka diminta menulis apa yang mereka ketahui selama satu semester ini. Untuk mata pelajaran IPA misalnya, apa yang mereka ketahui. Kedua, mereka diminta menuliskan apa yang bisa lakukan. Dengan begitu, mereka bisa membuat materi yang diperoleh selama ini. Harus ada karya dari mereka. Ketiga, apa manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Percuma kita belajar jika kemudian tidak tahu sebenarnya yang dipelajari untuk apa. Ini yang disebut pembelajaran bermakna. Kalau anak-anak tidak tahu apa makna dari yang dipelajari akan cenderung membosankan. Tapi kalau mereka tahu bahwa ada manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari, di situlah timbul semangatnya. Inilah refleksi dari program merdeka belajar dan loncatan berpikir,” paparnya.
Diakui Munir, apa yang dilakukannya ini mendapat respons positif dari Kemendikbud Ristek. Sebab yang lain baru diskusikan, SMPN 6 Makassar sudah melakukannya.
”Banyak teman-teman kepsek se-Indonesia meminta referensi itu. Mereka menanyakan bagaimana caranya. Kami kemudian mengajak mereka untuk mencobanya. Karena kalau hanya mengikuti terus saja seperti dulu, tidak mungkin bisa melihat perubahannya,” jelas Munir lagi.
Melalui program Matasa yang dilaksanakan, kendali sebagian diserahkan kepada anak-anak. Memaksimalkan kemampuan berpikirnya. karena setiap anak berbeda. Guru membuat soal lalu meminta anak-anak untuk mengerjakannya. Dengan pola seperti itu, anak-anak digiring pada satu alur berpikir.
”Kalau dengan program yang ada sekarang berbeda. Semua anak memiliki peluang untuk mengembangkan dan menulis apa yang mereka ketahui. Dengan cara seperti ini, respons anak-anak dan orang tua sangat bagus. Tidak ada anak-anak yang bodoh. Mereka bisa menulis sesuai apa yang ada di pikirannya. Anak-anak yang kompetensinya rendah memulai dari dasarnya. Demikian pula dengan yang memiliki kompetensi tinggi. Selanjutnya akan ada umpan balik dari asesmen yang dilakukan.. Dari situ akan dilihat seberapa besar perubahan dari titik nol ke titik akhir. Itulah sebenarnya proses belajar. Proses belajar adalah proses berpikir. Bagaimana kita melihat proses berpikirnya anak-anak ada di tulisan itu,” jelasnya.
Dari tiga instrumen tersebut, lanjut Munir, siswa sudah terwakili ranah kognitifnya (pengetahuan). Karena mereka diminta untuk menulis apa yang diketahui dan yang ada di pikirannya. Ranah psikomotoriknya terwakili instrumen kedua pada menulis apa yang mereka bisal lakukan dan buat. Ranah aveksi apa manfaatnya. Terpenuhi semuanya.
”Sekarang apa lagi yang kami pikirkan? Yaitu bagaimana sekolah menerjemahkan program metaverse dari wali kota. Apa yang dilakukan oleh pihak sekolah? Terlebih dahulu harus belajar dan masuk di frekwensi, sehingga alur berpikir kita tidak keluar,” terangnya.
SMPN 6 yang dari dulu dipersepsikan sebagai sekolah terbaik di Makassar, kemudian berpikir bahwa apa yang disampaikan wali kota merupakan sebuah keinginan masa depan. Teknologi tidak mungkin bisa dibendung dan lawan. Yang harus dilakukan, harus masuk ke teknologi itu. Karena kalau tidak masuk, bisa digilas. Teknologi dalam pembelajaran adalah sebuah keniscayaan. Karena itu kita harus masuk belajar di dalamnya dan mengambil manfaatnya.
”Teknologi itu ada sisi positif dan negatif. Dengan masuknya kita di dalamnya bisa dilihat ini yang bisa diambil. SMP 6 dipercaya lebih awal bisa merespons metaverse itu. Kita sudah lima kali menggelar workshop untuk mengimplementasikan apa yang bisa kita lakukan mengarah ke metaverse. Sebenarnya masih terlalu tinggi. Masih ada dasar-dasar yang perlu dibenahi. Misalnya AR, VR (Virtual Realityu). Lima kali workhsop baru bisa sampai VR. Untuk AR baru pengenalan informasi mengenai penggunaan teknologi untuk pembelajaran,” ungkap Munir.
Sekarang ini, lanjut Munir, sudah masuk VR. Pihaknya sudah membuat rencana pembelajaran dengan konsep VR. Guru-guru juga sudah dilatih dengan mendatangkan dua orang dari Jakarta untuk mendampingi dalam pelatihan.
Ia optimistis, dalam pembelajaran nantinya anak-anak akan lebih tertarik, karena bisa menyajikan konten-konten dari berbagai sumber yang menarik dan ada kaitannya dengan pembelajaran.
Misalnya, belajar mengenai Pangeran DIponegoro. Guru tugasnya menghimpun semua informasi berkaitan dengan Pangeran Diponegoro, apakah dalam bentuk tulisan, gambar, foto, atau visualisasi. Kemudian dibuatlah RPP yang berbasis VR di dalam HP mereka. Setelah selesai guru mengirim ke akun siswa.
”Dari akun siswa itulah yang dimasukkan ke dalam kacamata virtual. Sekarang sudah ada kacamatanya. Dengan menggunakan kacamata itu anak-anak bisa belajar tentang Pangeran Diponegoro. Mau melihat rumah Diponegoro, anak-anak masuk di titik itu dan berkunjung. Ini menunjukkan metaverse. Masuk ke ruang tanpa batas. Guru tinggal mengarahkan saja,” tandasnya. (*/rus)

