pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Menhub Siap Bantu Wujudkan Rel Layang KA di Untia

MAKASSAR, BKM — Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto secara khusus mengusulkan pembangunan rel kereta api di kawasan Untia secara elevated ke Kementerian Perhubungan. Menhub Budi Karya Sumadi berjanji akan membantu wali kota dalam mewujudkan rencana pembangunan rel layang kereta api di kawasan Untia.
Hal itu diungkapkan Budi usai meresmikan Rumah Sakit PIP di Jalan Tentara Pelajar, Jumat (27/5). Dia mengatakan akan mengusulkan permohonan tersebut ke Kementerian Keuangan.
“Saya katakan sulit untuk menolak permintaan Pak Wali Kota, tapi karena ini kewenangan Kementerian Keuangan, saya akan usulkan. Tapi kalau yang usulkan Pak Wali, biasanya oke punya itu,” ungkap Budi.
Menhub menambahkan, berbeda dengan rel kereta at grad (di tanah), biaya konstruksi untuk membangun rel kereta elevated lebih mahal. Berkisar tiga kali lipat.
“Karena persoalannya untuk membangun rel secara elevated, biayanya lebih mahal. Tiga kali lipat dibanding membangun langsung secara at grade,” ungkapnya.
Dikonfirmasi terpisah, Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto mengatakan bukan tanpa alasan dirinya menawarkan pembangunan rel kereta api di kawasan Untia secara elevated. Menurut rencana tata ruang yang sudah disepakati oleh Kementerian PUPR, kawasan Untia ke depan akan menjadi kota baru. Wilayah tersebut bisa menampung hingga dua juta warga Makassar dan akan menjadi kawasan pengembangan.

“Makassar sisa 35 persen wilayahnya yang kosong. Dengan pengembangan reklamasi di kawasan Untia, akan menjadi kota baru ke depan,” ungkapnya.
Yang menjadi persoalan, jika rel kereta api dibangun secara at grade, itu akan memutus kawasan kota baru. Selain itu, pembebasan lahan akan lebih banyak. Karena dibutuhkan lahan dengan lebar 50 meter. Juga dikhawatikan daerah itu rawan banjir, karena jika melihat konstruksi rel kereta api di kabupaten yang sudah terbangun, konstruksinya cukup tinggi. Sementara jika dibangun secara elevated, lahan yang harus dibebaskan hanya selebar 5 meter.
“Kalau tidak elevated diputus itu (kawasan kota baru). Bayangkan, bagaimana lalu lintas itu nanti di sana,” tambahnya.
Danny pun meminta dukungan DPRD untuk mendorong terwujudnya pembangunan rel kereta api secara elevated di kawasan Untia tersebut. Rencananya, panjang rel yang akan dibangun di sana sekitar 6-7 kilometer. Estimasi anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp600 miliar per kilometer.
“Pokoknya begitu Pak Menteri bilang siap elevated, pemkot akan siapkan jalurnya,” tambah Danny.
Sementara itu, Kepala Balai Pengelola Perkeretaapian (BPKA) Sulsel Amanna Gappa menjelaskan, perubahan konstruksi rel dari at grade menjadi elevated bakal ikut berpengaruh pada kebutuhan lahan dan anggaran.

Jika dibuat dengan sistem at grade, lebar lahan yang dibutuhkan mencapai 50 meter. Sementara jika menggunakan sistem elevated, hanya dibutuhkan lebar lahan sekitar 10 meter. Kebutuhan lahan memang terpangkas hingga seperlimanya, namun di sisi lain, anggaran dipastikan membengkak.
“Kalau konstruksi at grade, paling tidak Rp50 miliar per kilometer. Kalau elevated, bisa sampai 400 miliar per kilometer. Ini cukup jauh dan tentu akan jadi diskusi karena kebutuhan biaya ini cukup membebani APBN,” jelasnya. (rhm)




×


Menhub Siap Bantu Wujudkan Rel Layang KA di Untia

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link