SATU lagi milenial berprestasi hadir dalam siniar (podcast) untuk kanal Berita Kota Makassar. Ia adalah Raniansyah Rahman. Akrab disapa Rani. Saat ini tercatat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenkum HAM) Sulawesi Selatan. Siapa sangka, cowok kelahiran 11 April 1995 ini ternyata jago baca puisi sekaligus menulis dan menciptakannya.
”Saya hadir di sini (podcast BKM) sebagai juru bicara kaum milenial. Karena di luar sana masih banyak yang punya prestasi lebih dari saya. Tapi saya yang diberi kesempatan untuk hadir menyampaikan beberapa hal yang bisa memicu dan memacu semangat generasi milenial untuk terus berkarya,” ujar Rani mengawali sesi wawancara.
Lahir di Labakkang, Rani menyelesaikan pendidikan dari bangku SD hingga SMA di Kabupaten Pangkep. Masing-masing SDN 35 Leange, SMPN 1 Bungoro, dan SMA 2 Pangkajene. Kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum (FH) Universitas Hasanuddin (Unhas) tahun 2013 dan selesai 2017.
”Saya selesai di bulan Desember (2017). Waktu itu belum ada pendaftaran ASN. Bertepatan ada pemilihan gubernur. Saya kemudian mendaftar menjadi relawan KPU. Tidak lama setelah itu, terbuka pendaftaran untuk penerimaan CPNS. Saya mendaftar, dan diterima di Kemenkum HAM RI. Alhamdulillah, ditempatkan di Kanwil Kemenkum HAM Sulsel,” terang Rani.
Ditanya tentang alasan memilih FH Unhas untuk kuliah, Rani mengungkap awal mula tertarik dunia hukum ketika sering mengikuti kegiatan semasa duduk di bangku SMA. Ia sudah sering mengikuti lomba debat.
”Saya memiliki kemampuan berbicara. Sebagai generasi milenial perlu mendayagunakan potensi yang dimiliki untuk membantu orang lain,” ujarnya.
Rani mengatakan, menjadi seorang ASN seperti upaya melunasi utang yang tidak akan pernah lunas. Ia punya pemahaman bahwa ada dua utang yang tidak bisa dilunasi oleh anak yang telah mendapat fasilitas negara. Pertama adalah utang kepada orang tua yang telah mendoakan serta mendukung segala jalan anaknya. Kedua, utang anak kepada negerinya.
”Kenapa dikatakan berutang? Karena dari SD sampai SMA menggunakan fasilitas negara. Waktu kuliah saya juga dapat beasiswa. Orang tua saya pekerjaannya buruh harian lepas. Saya mendapatkan beasiswi Bidikmisi. Sampai selesai kuliah dibiayai oleh negara. Saya merasa ada tanggung jawab, utang budi, yang meskipun saya kerja keras tidak akan lunas sampai kapan pun. Dicicil pun tidak akan tuntas. Dan karena meras berutang kepada negara, akhirnya saya memilih menjadi seorang ASN,” tandasnya.
Dalam memilih formasi Kemenkum HAM, Rani juga punya alasannya. Pertama, karena sesuai dan cocok dengan latar belakang pendidikannya dari Fakultas Hukum. Kedua, setelah meminta pendapat dari kedua orang tua, semuanya mendukung. Dia lalu membulatkan tekad untuk mendaftar.
Rani kemudian berbagi langkah dan tips untuk bisa mendapatkan sesuatu yang dicita-citakan. ”Yang pertama tentu doa dan dukungan dari orang tua. Apapun langkah kita, tanpa restu orang tua tentu akan kesulitan untuk menggapai apa yang kita inginkan. Kalau sudah orang tua yang berdoa, langit akan bergetar,” imbuhnya.
Kedua, lanjut Rani, konsisten belajar. Tidak mesti belajar lima atau delapan jam dalam sehari, bahkan sampai tidak tidur karena begadang. ”Yang terpenting adalah kita mampu meluangkan waktu setiap hari, meskipun setengah jam tapi secara kontinyu kita belajar. Jangan memaksakan diri, karena otak kita punya kapasitas. Kalau sudah jenuh silakan main gim. Jangan berpikir kita tidak bisa main gim. Ada sisi waktu yang perlu kita luangkan juga,” terangnya.
Di tahun 2018, Rani berhasil meraih prestasi sebagai juara II Duta Bahasa yang dilaksanakan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan. Awalnya sempat ragu di keikutsertaan pertamanya ini. Yang ada di benaknya kala itu, peserta harus berpenampilan menarik dan good looking.
”Saya berpikir kemungkinan gugur di tahap pertama. Apalagi ada tesnya, Uji Kompetensi Bahasa Indonesia (UKBI). Setelah lolos itu, ada lagi seleksi bakat. Berjalan di atas karpet. Saya kaget karena ini pengalaman pertama dan bisa mendapat juara dua,” jelasnya.
Dalam pemilihan Duta Bahasa ini, menurut Rani, bukan hanya penampilan yang dilihat. Tapi juga kompetensi, serta ketulusan membangun budaya bahasa. Karenanya, ada beberapa pertanyaan juri dalam bentuk bahasa Indonesia, bahasa asing, serta bahasa daerah. Kejujuran peserta menjadi perhatian khusus dari juri berlatar belakang psikolog.
Walau tahun 2018 sudah berlalu dan statusnya sebagai Duta Bahasa telah terlewati, namun Rani tak berhenti. Karenanya, masih ada karya-karyanya yang lahir. Hal itu sebagai bentuk aktualisasi bahwa menjadi Duta Bahasa bukan hanya pada saat menyandang gelar itu. Tapi juga menunjukkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk tanggung jawab.
”Bahasa daerah harus kita lestarikan, bahasa Indonesia kita utamakan karena itulah bahasa persatuan. Kemampuan dan penguasaan bahasa asing itu patut, untuk kita bisa bersaing di luar sana,” tandasnya.
Rani mengaku suka membaca puisi sejak duduk di bangku SMP. Kemudian berlanjut suka menulis puisi ketika SMA. Sewaktu SMP Rani sudah sering diikutkan lomba baca puisi bahasa daerah di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas.
”Sejak saat itu saya mulai tertarik dunia sastra. Masuk SMA ada beberapa forum yang memfasilitasi kegiatan aktivitas literasi seperti itu. Ada komunitasnya lalu membuat buku bareng-bareng. Karena itu lahirlah antologi puisi.Setelah itu ada tawaran dari seorang guru SMA untuk membuat buku ajar muatan lokal. Saya diminta membuat puisi bahasa daerah untuk dimasukkan dalam materi muatan lokal. Saya buat tiga puisi dengan tema integritas,” jelasnya.
Buku berbahasa Bugis itu digunakan untuk pembelajaran muatan lokal SD/sederajat di Kabupaten Pangkep. ”Adik saya yang sekolah di SMP lihat ini karya saya itu dan mempelajarinya,” imbuh pemilik motto; Yakin Usaha Sampai ini.
Rani yang kini tercatat sebagai Analis Hukum di Kanwil Kemenkum HAM Sulsel telah menghasilkan Antologi Puisi Suara Pelajar 15 Pelajar Pangkep di tahun 2013. Ia juga Kontributor Puisi Bahasa Daerah berjudul Pitangni Laleng dan Tau Matunae Ainna dalam buku ajar Bahasa Daerah Muatan Lokal Walasuji untuk satuan pendidikan SMP se-Kabupaten Pangkep tahun 2016. Ada pula Antologi Puisi; Puisi di Kaki Hujan tahun 2017.
Rani juga membuat Karya Ilmiah Naskah Akademik dan Draft Usulan Perubahan UUD NRI (Komprehensif) di tahun 2015. Smart Educons: Gagasan Pendidikan Ideal Menuju Indonesia Emas 2045 (2016).
Sejumlah organisasi juga pernah ditempatinya berkecimpung. Seperti ketua Forum Anak Kabupaten Pangkep 2012-2014, Ketua Forum Negawaran Muda (FNM) Pengurus Daerah Sulsel 2016-2018, serta
Relawan Demokrasi (Relasi) Kabupaten Pangkep.
Ia juga adalah Finalis Kompetisi Debat Indonesia Fisip Summit, Universitas Padjajaran Bandung tahun 2013. Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah Kemaritiman Bidang Soshum Unhas, Makassar, 2013.
Peringkat III Mahasiswa Berprestasi Fakultas Hukum Unhas Tahun Pemilihan 2016. Peserta terbaik dan peraih beasiswa Kelas LIGHT (Living The Human Rights), LBH Masyarakat, Jakarta tahun 2017. Pemenang Lomba Orasi Politik Cerdas Berintegritas Tingkat Nasional yang dilaksanakan KPK bekerja sama Yayasan SATUNAMA, 2016. (*/rus)

