MAKASSAR, BKM — Warga yang dicurigai terinfeksi virus cacar monyet alias mongkeypox di Makassar terus bertambah. Dinas Kesehatan (Diknes) Sulawesi Selatan (Sulsel) mendeteksi sudah ada dua orang kini dinyatakan suspek.
Mereka kini menjalani perawatan pada dua rumah sakit berbeda di Makassar.
Masing-masing di Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Universitas Hasanuddin dan RS Labuang Baji.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Arman Bausat, menyebut kedua pasien berjenis kelamin laki-laki. Masing-masing berusia 36 dan 21 tahun. Mereka mengalami gejala ruam timbul dan demam.
“Ada dua dicurigai suspek. Keduanya laki-laki. Satu berusia 36 tahun dan satunya 21 tahun,” ungkap Arman Bausat, Rabu (24/3)
.
A
menjelaskan, untuk pasien berusia 36 tahun memiliki riwayat perjalanan dari Jakarta, kemudian mengalami gejala ruam dan demam. Saat ini pasien tersebut menjalani perawatan di RS Unhas.
“Dirawat di RS Unhas dengan gejala. Ada riwayat perjalanan ke Jakarta. Ada tanda-tanda ruam, ada keluhan-keluhan demam. Dengan adanya tanda-tanda itu, yang bersangkutan dicurigai,” jelas Arman.
Sementara pasien suspek berusia 21 tahun, tidak memiliki riwayat perjalanan. Namun mengalami gejala yang diindikasi sebagai virus cacar monyet, berupa ruam-ruam timbul.
“Sejak selasa malam dirawat di RS Labuang Baji,” lanjutnya.
Sebagai langkah antisipasi penyebaran virus cacar monyet di Sulsel, Arman mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota. Hal ini bahkan telah dilakukan sebelum adanya pasien suspek di Sulsel.
“Jauh hari sebelum terdeteksinya (suspek) cacar monyet ini kita sudah informasikan kepada kabupaten/kota, untuk mengantisipasi mulai munculnya penyakit ini. Sebenarnya satu bulan lebih kita sudah sosialisasikan kepada kabupaten/kota tentang kriteria gejala dan langkah-langkah yang harus dilakukan jika terdapat kecurigaan-kecurigaan ini,” jelasnya.
Arman mengatakan, langkah antisipasi yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan sistem penanganan covid-19. Yakni pihaknya akan menerapkan testing, tracing dan treatment (3T).
“Contoh mungkin testing. Tracingnya kan sudah mulai. Sama dengan protokol penanganan covid-19, yaitu 3T. Tracing untuk mengidentifikasi, kemudian kita tes dengan PCR. Kalau dia bergejala, ya kita tangani,” kata Arman.
Sampel Darah Dikirim ke Jakarta
Untuk memastikan virus yang menyerang kedua pasien, Dinkes Sulsel telah mengirim sampel darahnya ke Jakarta. Pengiriman dilakukan bersamaan.
“Sampel pasien suspek di RS Labuang Baji dikirim bersamaan (ke Jakarta) dengan sampelnya (pasien suspek) Rumah Sakit Unhas,” tambah Arman.
Menurut Arman, sampel pasien berusia 36 tahun di RS Unhas telah diambil sebelumnya. Sementara sampel pasien suspek berusia 21 di RS Labuang Baji baru Rabu pagi diambil, kemudian dikirim ke Jakarta.
“Kalau yang di Unhas sudah diambil terlebih dahulu. Labuang Baji masih sementara diproses pagi ini (kemarin),” terang Arman
.
Sampel kedua pasien suspek tersebut dikemas oleh pihak BBLK Makassar, kemudian dikirim ke Jakarta melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Hasil uji sampel diperkirakan keluar Jumat (26/8) besok.
“Itu (sampel) dipacking oleh BBLK, kemudian dikirim ke Jakarta via KKP. Mudah-mudahan Jumat atau Sabtu sudah ada hasilnya,” imbuhnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar Nursaidah Sirajuddin, mengungkap temuan baru pasien yang terjangkit cacar monyet, sebelumnya dirawat di Puskesmas Kassi-kassi, Kecamatan Rappocini sejak Selasa malam (23/8). Setelah diperiksa, ia dicurigai cacar monyet.
”Untuk itu kami mengimbau agar warga tetap waspada. Apalagi Makassar menjadi pintu masuk dan keluar penduduk di Sulsel,” ujar Nursaidah, Rabu (24/3).
Sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan merespons suspek kasus cacar monyet di Makassar, ia mengaku pihaknya telah bekerja sama dengan pihak pelabuhan dan bandara untuk memantau pintu kedatangan.
“Termasuk langkah memaksimalkan sistem kewaspadaan dini dan respons yang ada di 47 puskesmas yang ada di Makassar, ” katanya.
Sampel darah kedua pasien yang dicurigai terjangkit virus cacar monyet saat ini tengah dilakukan pengecekan di laboratorium untuk memastikan positif tidaknya .
“Pasien tersebut dicurigai terinfeksi cacar monyet karena menunjukkan beberapa gejala, seperti demam dan ruam-ruam di kulit,” imbuhnya.
Danny Minta tak Panik
Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto mengimbau warga Makassar tidak perlu terlalu panik menghadapi cacar monyet. Ia mengaku sudah mempersiapkan prosedur tetap (protap) penanganan penyakit ini. Secara teknis, protap tersebut akan dilaksanakan secara ketat oleh Dinas Kesehatan Makassar selaku instansi terkait yang bersentuhan langsung dengan persoalan ini.
Dia mengatakan, berbeda dengan wabah covid-19, penularan virus cacar monyet tidak secepat penyakit yang disebabkan oleh virus korona itu. Penularannya pun berpotensi terjadi lewat sentuhan. Jadi, Danny mengimbau agar warga berhati-hati jika berada di tempat dan fasilitas umum.
“Karena dia menular lewat sentuhan, jadi jangan banyak sentuh benda-benda di tempat umum,” ungkap Danny, kemarin.
Dia mengaku sudah berkonsultasi dengan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Makassar terkait penyakit ini. Ternyata, berdasarkan penjelasan ketua IDI Makassar, orang yang sudah pernah melakukan vaksinasi cacar, memiliki cadangan pertanahan 20 persen.
“Begitu menurut ketua IDI sama saya. Jadi, yang belum vaksin cacar segera vaksin. Karena vaksin itu memberi kontribusi sekitar 20 persen untuk daya tahan tubuh. Untuk imunitas cacar. Itu penjelasan teknis yang disampaikan ke saya,” terangnya.
Dia pun meminta seluruh warga di Makassar untuk berperilaku hidup sehat dan senantiasa waspada dalam menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit tersebut.
Sejauh ini, kata Danny, belum ada warga Makassar yang dinyatakan positif cacar monyet. Dua pasien yang saat ini sementara dirawat di rumah sakit masih sebatas suspek dan sementara dalam observasi serta pengawasan rumah sakit. (jun-rhm)

