BAGI yang sering mengikuti ajang lomba seni dan entertaint tentu punya pengalaman masing-masing. Ada suka juga duka di sana.
HAL yang sama dialami Harda Fatimah Azzahra. Ia seorang model, penarik dan juga karateka. Cewek yang pada 22 September mendatang genap berusia 16 tahun ini punya kisah yang tak akan pernah terlupakan ketika mengikuti ajang perlombaan, khsusunya menari.
Menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, siswi kelas X (kelas I SMA) ini mengaku sudah mulai mencetak prestasi ketika masih berumur 10 tahun. Ia ikut sanggar atas keinginan sendiri dan mendapat dukungan dari orang tua.
”Awalnya di modeling dulu. Sempat bakum beberapa tahun lalu pindah ke sanggar tari. Vakumnya karena masuk karate. Tapi untuk model masih jalan sampai sekang,” terang Harda.
Yang menarik di sanggat tari tempat Harda berlatih, setiap bulan ada dua atau tiga ajang yang diikuti di luar Sulawesi. Tidak heran jika ia sudah mengunjungi sejumlah kota di Indonesia. Sebut saja Surabaya, Malang, Kediri, Yogyakarta, Bali, dan Jakarta. Bahkan negara luar, seperti Turki pernah dikunjunginya.
”Waktu itu pada April 2022 juara I di Surabaya mewakili Sulsel. Yang menang diutus menjadi delegasi Indonesia di Turki. Saya berangkat ke sana. Bangga bisa mewakili negara. Juga bisa membanggakan orang tua,” ungkap Harda.
Kesukaannya pada seni tari memang sudah diperlihatkan Harga ketika masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Ia pernah tampil menari di sekolahnya saat itu.
Ketika masuk sanggar tari, Harda pertama kali ikut lomba tidak di dalam wilayah Sulawesi Selatan. Ia bersama teman-temannya berangkat ke Semarang. Walau awalnya sempat sedikit grogi, namun hal itu berhasil diatasinya. Sebab teman-teman sanggarnya saling berbagi. ”Mereka enak diajak berteman dan jadi tempat curhat,” begitu ujarnya.
Dari berkeliling Indonesia dari bakat menarinya, Harda juga telah menginjakkan kaki di sejumlah tempat wisata terkenal. Refreshing biasanya dilakukan setelah mengikuti lomba.
Dalam waktu dekat akan ada beberapa kegiatan menari yang diikuti Harda. Seperti di TMII Jakarta, Fort Rotterdam Makassar, serta Balikpapan.
Lalu bagaimana dengan urusan sekolah? ”Sekarang kan sekolahnya sudah tatap muka. Jadi kalau ada kegiatan di luar, saya buat surat izin ke sekolah. Guru mendukung apa yang saya lakukan. Beliau minta jangan lupa kerja tugas. Jadi saya bawa semua buku kalau ada kegiatan di luar,” jelasnya.
Diakui Harda, ada banyak pelajaran yang didapat dari ikut kegiatan menari di luar Makassar. Dirinya bisa belajar mandiri, lebih hemat, dan pergi tanpa ditemani orang tua.
Selain itu, ada pula pengalaman yang tak terlupakan ketika tampil menari. ”Waktu itu lomba pertama saya ikuti di Semarang. Di sebuah desa yang tempatnya lumayan jauh. Di situ suasananya agak berbeda. Ada teman kesurupan,” ujarnya.
Namun, hal itu tak membuat Harda kapok. Ia tetap menekuni seni tari dengan memilih tari tradisional kreasi. (*/rus)

