pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Ikut Lomba dan Meraih Juara Berkat Sepeda Pinjaman

Kisah Nadiyah Nur Istiqamah, Atlet Sepeda Berprestasi Makassar di Porprov

DI MANA ada kemauan di situ ada jalan. Di tengah keterbatasan pun prestasi bisa diukir. Nadiyah Nur Istiqamah menjadi represtasinya.

NAMA panggilannya Nadiyah. Ia kini duduk di bangku kelas III Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hobi awalnya berenang. Tapi juga senang bersepeda. Dia kemudian mencatat prestasi di bidang olahraga yang disukainya.
”Sebenarnya waktu kelas I SMP ikut renang. Berawal dari latihan, ada lomba triathlon mini yang dilaksanakan. Saya ikut di situ dengan menggunakan sepeda pinjaman. Dapat juara tiga,” ungkap Nadiyah ketika hadir di studio Berita Kota Makassar Gedung Graha Pena Lantai III.
Triathlon menggabungkan tiga jenis olahraga sekaligus, masing-masing renang, sepeda, dan lari. Lomba yang diikuti Nadiyah ketika itu merupakan yang pertama kali. Karenanya, ia tak pernah menyangka bisa mendapatkan juara.

Di cabang renang, Nadiyah adalah pemegang juara II Pekan Olahraga Kota (Porkot). Dari ajang itu, selanjutnya ikut lomba balap sepeda KONI. Informasinya diperoleh dari senior. Ia menggunakan Yang sepeda seken (bekas) yang dibelinya. Sepeda tersebut milik senior kakaknya.
Berkat prestasinya, Nadiyah bersama dua rekannya tergabung dalam tim balap sepeda kontingen Kota Makassar pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulsel ke XVII yang dilaksanakan di Kabupaten Sinjai dan Bulukumba, Oktober 2022 lalu.
”Waktu latihan saya pakai sepeda bekas. Pada saat ikut lomba saya pakai sepeda pemberian dari teman komunitas di Makassar,” terang cewek berjilbab ini.
Sebelum ikut ajang Porprov, Nadiyah mengaku awalnya sempat takut. Bahkan tidak bisa tidur. Walau begitu, dirinya bangga dapat membawa nama baik di ajang olahraga tingkat provinsi itu. ”Terharu bisa dapat medali dan tidak mengecewakan tim, keluarga, dan teman-teman,” ungkapnya.
Adapun prestasi yang telah diraih cewek kelahiran Masamba, 10 Mei 2005
ini, yakni juara II Sulsel Ride Championship
, juara III Praporpov
, dan juara I Beregu Putri Porpov yang berhasil meraih medali emas.
Terjun ke dunia balap sepeda, diakui Nadiyah atas kemauan sendiri. Ibunya seorang perempuan yang berlatih karate ketika masih gadis. Sementara ayahnya suka olahraga bulutangkis.
Saat hadir di studio BKM, Nadiyah didampingi pelatihnya H Mustafa
. Sebelum berlaga di ajang Porprov, Nadiyah menjalani latihan dua hari dalam sepekan, yaitu Sabtu dan Minggu. Selama setahun lebih ia menjalani latihan.
Mustafa yang melatih atlet sepeda Makassar memang seorang atlet balap sepeda di tahun 1988. Selanjutnya menjadi asisten pelatih di tahun 1992 hingga 2008. Di tahun 2010 full menangani tim balap sepeda Makassar hingga sekarang.
”Untuk persiapan Porprov, latihannya setiap hari. Kalau hari Minggu latihannya jarka jauh. Biasa jalurnya sampai ke Malino, Camba, Pangkep (Segeri),” ungkapnya.
Agar anak asuhnya bisa mencetak prestasi, Mustafa terkadang menyelipkan latihan renang. Hal itu dinilai sangat bagus bagi pernapasan, karena bisa lebih panjang. Bahkan, ia sudah membuat jadwal khusus untuk berenang bagi para atlet sepeda.
”Kalau untuk latihan fisik, seperti angkat beban, biasa dilakukan di kantor KONI Provinsi dua kali seminggu, Selasa dan Kamis,” ujarnya.
Dari ajang Porprov Sulsel ke XVII, kontingen balap sepeda Kota Makassar berhasil melampaui target medali. Mereka berhasil membawa pulang 16 medali emas, dari empat yang ditargetkan. Sementara perak 10 medali.
Adapun pengalaman melatih pria yang juga seorang guru ini, di antaranya pada PON 2008 Kalimantan Timur. Porda 2010 di Kabupaten Pangkep
, PON 2012 Riau
, Porda Bantaeng 2014
, Porda Pinrang 2018
, dan Porda Sinjai-Bulukumba 2022
.
Walau atlet binaannya telah mengukir prestasi, namun Mustafa cukup menyayangkan masih adanya pihak sekolah yang tidak memberi dukungan penuh terhadap siswanya untuk menggeluti cabang olahraga balap sepeda.
Padahal, menurut Mustafa, untuk mencetak atlet berprestasi di bidang olahraga, bibit-bibit muda bisa diperoleh dari bangku sekolah. ”Yang duduk di bangku kelas I SMP itu bagus, supaya fisiknya bisa tambah kuat saat SMA. Kalau batas usia atlet Porda (Porprov) itu sampai 23 tahun. Yang sekarang kelahiran 99 terakhir. Berikutnya tidak terpakai lagi,” ungkap Mustafa.
Sebagai bagian dari upaya regerasi atlet, Mustafa mengaku saat ini tengah mencari bibit-bibit muda untuk dilatih, baik perempuan maupun laki-laki. Mereka disiapkan sepeda gratis untuk latihan. (*/rus)




×


Ikut Lomba dan Meraih Juara Berkat Sepeda Pinjaman

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link