MAKASSAR, BKM — Pascainsiden yang membuat Lurah Laelae, Subhan cidera saat penertiban pedagang liar di Anjungan Pantai Losari, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kota Makassar terus memantau public space terbesar di Makassar ini. Apalagi, sejumlah pedagang kaki lima (PK5) yang dibackup preman dikabarkan siap melakukan perlawanan.
Kasatpol PP Kota Makassar, Iman Hud kepada BKM, Senin (27/7) mengaku, saat anggotanya turun ke Pantai Losari, sekelompok preman serta pedagang sudah siap melakukan penyerangan.
“Saya yang turun langsung ke lokasi dan melihat PK5 sudah mempersiapkan diri untuk melakukan perlawanan. Kami menemukan barang bukti berupa busur, gunting dan pisau,” ungkapnya.
Iman Hud menjelaskan, pedagang tak ingin ditertibkan. Bahkan, mereka melakukan perlawanan dengan membentangkan busur kepada anggota Satpol PP. “Kami sempat diancam mau dipanah,” katanya.
“Kita ini adalah pemerintah dan tentunya masyarakat harus mengikuti aturan, sebab negara kita ini adalah negara hukum. Siapa yang melanggar pasti akan berhadapan dengan hukum,” tambah Iman Hud.
“Kita justru bersama-sama memelihara kenyamanan kota kita ini, agar masyarakat merasa nyaman dan kenyamanan itu membuat pengunjung makin berdatangan,” terangnya
Preman, kata Iman, harus dibersihkan dari Losari.
“Ini perlu ditertibkan sebab melihat situasi di anjungan terjadi kecemburuan sosial yang menyebabkan terjadinya tindakan kriminalitas,” katanya.
Sementara itu, setelah seharian penuh melakukan pengejaran, aparat Polsek Ujungpandang meringkus dua tersangka pengeroyok Lurah Laelae, Subhan, Minggu (26/7) malam.
Dua pria yang masih Anak Baru Gede (ABG) itu adalah KA (16) dan AR (17) warga Mariso. Keduanya diduga kuat menganiaya Subhan saat aksi penertiban pedagang di Anjungan Losari, Sabtu (25/7) sore.
Kapolsek Ujungpandang Kompol Nawu Thaiyeb mengatakan, kedua tersangka telah mengakui perbuatannya. ”Kedua tersangka kami tahan di sel Polsek,” tegas Nawu.
Satpol PP Diprotes
Terkait langkah penertiban ini, puluhan pedagang didampingi Ketua Serikat Miskin Indonesia mendatangi kantor Redaksi BKM, Senin sore. Ketua Serikat Miskin Indonesia Firdaus menegaskan, langkah penertiban dilakukan Satpol-PP secara membabi buta. Aksi itu mengakibatkan 10 pedagang mengalami luka-luka. Enam dirawat intensif serta dua masih di ICU di RS Stella Maris.
”Wali Kota harus turun melihat nasib pedagang. Banyak pedagang yang jadi korban karena sikap anarkis Satpol. Pedagang tidak lagi diperbolehkan lagi berjualan di Anjungan Losari,” katanya.
“Kita cuman mau tahu kenapa Satpol PP membabi buta. Apakah ini perintah dari kecamatan atau dari wali kota. Pengunjung juga dihajar. Beberapa dari Satpol dari aroma mulutnya juga tercium bau alkohol,” kata Linda, seorang pedagang.
“Kami ini pedagang yang terdaftar oleh Wali Kota. Kenapa kami diusir dan dibongkar,” kata Sewang Ansar, pedagang lainnya. (jul-jun-ish/cha/b)

