PEMADAMAN bergilir yang dilakukan PT PLN (Persero) Sulserabar di Kota Makassar dan daerah lain dalam beberapa hari terakhir telah memicu keresahan warga. Khususnya mereka yang sangat membutuhkan tenaga listrik untuk menjalankan usahanya.
Di media sosial, warga ramai-ramai mengeluhkan pemadaman bergilir ini. Salah seorang pelaku UMKM yang bergerak di usaha kuliner, Nisa mengaku sangat dirugikan dengan pemadaman yang dilakukan PLN. Aktivitasnya dalam mengolah bahan-bahan dan memasak sangat terganggu.
Selain kondisi rumahnya menjadi gelap, sejumlah peralatan elektronik untuk mengolah makanan tidak berfungsi. “Kita mau blender bumbu yang sangat banyak tidak bisa. Belum lagi kalau mau mixer kue. Kulkas juga terganggu. Bagus-bagus kalau peralatan elektronikta tidak rusakji,” ungkap Nisa yang bermukim di wilayah Jalan Cendrawasih.
Dimintai tanggapanannya terkait pemadaman bergilir ini, Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto mengaku sangat terganggu dengan langkah yang dilakukan PLN. Diapun tidak terima dengan alasan yang dilontarkan PLN, jika pemadaman ini akibat pemeliharaan.
“Saya mohon PLN transparan. Bilang pemeliharaan, terus pemeliharaan lama sekali,” tegas Danny.
Orang nomor satu Makassar itu mengatakan, mestinya tidak boleh ada pemadaman di Makassar sebagai ibu kota provinsi. Dia lalu menganologikan warga harus kembali lagi ke zaman dulu karena PLN melakukan pemadaman.
“Ini seperti zaman dulu. Dan aneh juga, kalau terlambat (bayar) cepat sekali diblokir. Kalau begini, tidak berani berhadapan di masyarakat,” tambahnya.
Danny pun mempertanyakan suplus listrik yang PLN dengan hadirnya sejumlah pembangkit listrik. Seperti Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang ada di Jeneponto.
“Katanya PLN surplus, ada tenaga bayu, ada dari Bakaru, dari Poso, terus kenapa? Saya belum bisa terima alasan itu. Apalagi ini tiga-tiga jam. Waduh. Itu kan sangat membuat kota ini terganggu. Katanya ada tenaga bayu, tenaga di Jeneponto ada dua. Katanya cadangan. Kita ini surplus berapa ratus megawatt. Manami surplusnya? Kenapa tidak dipakai surplusnya,” kata Danny.
Diapun mengaku menerima banyak komplain dari masyarakat yang mengaku sangat dirugikan akibat pemadaman bergilir. “Saya mendapat komplain dari masyarakat saya. Kasihan mereka. Saya membela mereka. Harus dihadapi,” tegas Danny.
Selain itu, pemadaman juga bisa memicu terganggunya harga-harga barang yang dapat memengaruhi inflasi di Kota Makassar. “Ini bisa memicu terganggu harga-harga barang. Kita sudah kekeringan, atur baik-baik supaya tidak inflasi. Sebentar kalau terganggu suplai, terganggu produksi,” tandasnya. (rhm)

