pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Rp1 Triliun untuk Budidaya Pisang di APBD 2024

Penanaman Sudah Dimulai di Bone, Maret 2024 Dipanen

MAKASSAR, BKM — Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin begitu serius untuk membudidayakan pisang di daerah ini. Bahkan, ia sudah memulainya dengan dilakukannya penanaman pisang di Kabupaten Bone pada Sabtu (7/10).
Yang tak kalah seriusnya, ia bakal mengalokasikan anggaran di APBD 2024 untuk budidaya pisang ini sebesar Rp1 triliun.

Semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) akan dilibatkan melalui program-program yang disesuaikan dengan tupoksinya masing-masing.
Bahtiar mengatakan, budidaya pisang dilakukan di atas lahan 500 ribu hingga 1 juta hektare. Jika berjalan lancar, pisang ini akan dipanen pada bulan Maret 2024 mendatang.

“Sekarang kita sudah mulai tanam di Bone. Kita perkirakan Maret tahun depan akan dipanen,” kata Bahtiar, Senin (9/1).

Ia mengungkapkan, Davao, Filipina merupakan negara pengekspor pisang terbesar kedua di dunia setelah Ekuador. Luas lahan pisang di negara tersebut 450 ribu hektare. Jika di Sulsel bisa ditanami 500 ribu hektare hingga 1 juta hektare, maka akan mengalahkan Filipina.

“Saya mau Sulsel nomor satu penghasil pisang di dunia,” tegas Bahtiar.

Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri ini menjelaskan, ada 65 negara di dunia yang membutuhkan pasokan pisang. Great Giant Food (GGF) sebagai eksportir pisang di Indonesia, hanya mampu mengekspor 1 persen dari permintaan 65 negara di dunia.
“Masih ada 99 persen. Kita juga akan cari investor, apalagi lahan kita sangat luas,” pungkasnya.

Beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan (TPHBun) Provinsi Sulsel Imran Jauzi mengatakan, pembagian bibit pisang nantinya akan menjadi faktor utama dalam kegiatan Gemar Menanam Pisang. Kenapa? Karena membutuhkan bibit dalam jumlah yang sangat banyak.
Dalam kondisi yang ideal, lanjut Imran, 1 hektare kebun pisang membutuhkan 1.000 bibit pisang.

“Jadi, jika kita mendapatkan 100 ribu hektare dikali seribu, berarti kita membutuhkan 100 juta bibit pisang,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, ada dua opsi dalam pengadaan bibit pisang ini.

Pertama, dari sumber-sumber bibit yang ada. Bibit pisang ini akan dibeli dari Bogor, Lampung, atau di Medan.

Kedua, bibit ini bisa diproduksi melalui kultur jaringan. Inilah yang memproduksi massal, yang jumlahnya sangat banyak.

“Tetapi, kultur jaringan ini, membutuhkan juga waktu yang lama dan harus membangun laboratoriumnya terlebih dahulu,” katanya.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel sudah mempersiapkan kultur jaringan ini, bekerja sama dengan perguruan tinggi.

“Kita akan membantu laboratorium kultur jaringan. Kita sebenarnya memiliki laboratorium ini, hanya kapasitasnya kecil. Hanya bisa sepuluh ribu atau dua puluh ribu bibit dalam setahun,” imbuhnya.

Lebih lanjut Imran mengatakan, untuk lahan yang telah diidentifikasi adalah lokasi yang selama ini tidak terpakai dan yang dimiliki dinas sebagai aset Pemprov Sulsel. Setelah dihitung-hitung, sekitar 150 sampai 200 hektare yang bisa dimaksimalkan dan ada di beberapa titik. Seperti Soppeng, Bulukumba, Maros, dan Bone.

“Ini akan kita maksimalkan sebagai lahan penanaman pisang. Nantinya akan dijadikan sebagai kebun percontohan. Jadi masyarakat sekitar bisa melihat langsung cara menanam pisang dengan baik,” terangnya.

Selanjutnya, lahan masyarakat dan sampai saat ini sudah tersedia 480 hektare dari sembilan kabupaten/kota yang menyatakan siap. Gerakan ini tidak hanya untuk kelompok, tapi pribadi juga bisa. Selain itu, ada juga yang pinjam pakai seperti lahan di BTPN untuk jangka pendek. Rencananya, dipinjamkan 200 hektare untuk ditanami, namun tetap dimonitoring dan evaluasi.

“Mereka juga harus mengajukan proposal dan harus dilihat lahannya. Karena setiap bantuan dari pemerintah itu harus berbasis kelompok tani dan kita pastikan kelompoknya betul-betul ada,” jelasnya.

Sesuai arahan Penjabat (Pj) Sekprov Provinsi Sulsel, juga harus dibuatkan buku panduan karena ini bersifat massal.

“Untuk itu, kita mengundang para akademisi, mitra kerja TPHBun selama ini untuk membantu pembuatan buku panduan tersebut. Sehingga, itulah yang menjadi SOP-nya,” ungkap Imran.

“Target kita di bulan pertama adalah kita lakukan pemetaan lahan Pemprov dan masyarakat. Setelah itu kita melakukan identifikasi sumber ketersediaan bibit pisang, apakah dibeli di Bogor, Lampung, Jogja, atau di Medan karena kita belum mampu memproduksi. Tapi, Insyaallah tahun depan kalau sudah lengkap laboratorium kultur jaringan, ngapain lagi beli,” tambahnya.

Setelah itu, lanjut Imran, dilakukan edukasi pola tanam dan bisnisnya ke kelompok tani.

Kemudian, para penyuluh nanti akan dibekali dengan ilmu pengetahuan tentang menanam pisang, seperti pelatihan lapangan dan bimbingan teknik (Bimtek). Selanjutnya, disiapkan lahan dan pola cara tanam dan ini harus tuntas di awal musim hujan nantinya.

Untuk pemasarannya, secara lokal dan ekspor. Sedangkan jenis pisang yang banyak diminati adalah cavendish, kepok tanjung, dan emas dalam bentuk buah segar.

Kemudian, ke depan nantinya akan dilakukan pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), seperti membuat kripik pisang dan tepung pisang untuk makanan bayi. (jun)



×


Rp1 Triliun untuk Budidaya Pisang di APBD 2024

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link