MAKASSAR, BKM — Lansia (lanjut usia) memiliki fungsi strategis karena mempunyai pengalaman hidup yang bisa dibagikan kepada generasi muda. Karena itu, mereka potensi yang sangat penting dalam program percepatan penurunan dan pencegahan stunting di Indonesia.
Hal itu dikemukakan Kepala Perwakilan BKKBN Sulawesi Selatan, Shodiqin dalam sambutannya di depan peserta Jambore Lansia yang berlangsung di Hotel Khas, Kota Makassar, Selasa (28/11). Jambore ini mengusung tema; Menjadi Lansia Tangguh yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif dan Bermartabat).
Menurut Shodiqin, lansia tidak hanya dipandang sebagai manusia yang menjadi beban keluarga atau beban pembangunan. Ini karena mereka memiliki kekerabatan, kedekatan dengan cucu yang cukup dominan. “Di sinilah peran lansia yang sangat strategis. Nasihat para lansia ini masih sangat berpengaruh pada anaknya yang sedang hamil atau memiliki bayi. Lewat para lansia inilah mindset dan nilai-nilai positif bisa diteruskan ke anak mereka atau cucunya,” ujar Shodiqin.
Nilai-nilai positif yang bisa ditularkan, Shodiqin mencontoh terkait dengan mindset prioritas makanan sehat yang berasal dari protein hewani, serta gizi yang sehat dan seimbang bagi cucu.

Sementara itu, Hafida Zubair yang merupakan peserta Jambore tertua berusia 79 tahun, merasa senang dan bahagia atas adanya kegiatan ini karena bisa bertemu dengan sesama lansia.
“Saya ucapkan terima kasih kepada BKKBN, khususnya BKKBN Sulawesi Selatan atas diadakannya acara ini. Saya merasa bahagia bisa bertemu dengan para lansia seumuran. Jadi terasa tidak sendiri. Ada semacam wadah berkumpul dalam berbagi cerita satu sama lain,” kata Hafida.
Terkait rekomendasi aktivitas lansia agar tetap aktif, aman, dan lebih percaya diri, ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan oleh lansia agar lebih SMART.
Kegiatan itu di antaranya melakukan olahraga, baik yang dilakukan sendiri maupun bersama. Membuat kerajinan tangan seperti melukis, menggambar, merajut, atau yang lebih kompleks, membuat tembikar.
Ada juga berkebun dengan kegiatan seperti menanam, menyiram tanaman, dan membersihkan dedaunan kering.
Kegiatan ini bisa memenuhi kebutuhan gizi lansia akan vitamin D dari sinar matahari. Membaca buku dan menulis bermanfaat untuk mengasah kemampuan berpikir serta kreativitasnya.
Demikian halnya aktivitas memasak bisa menjadi solusi yang menyenangkan. Terlebih jika dapat berkreasi membuat berbagai menu makanan sehat lansia untuk menunjang kebutuhan gizinya.
Menari, bermain musik dan memelihara hewan bisa membantu meningkatkan kesehatan fisik dan mental secara keseluruhan. Menjadi sukarelawan dapat mengatasi perasaan tidak lagi aktif berperan yang mungkin lansia rasakan. ,
Terakhir memainkan permainan atau game mengasah otak bisa menjadi solusi bagi lansia yang tak bisa bepergian keluar rumah.
Beberapa kegiatan tersebut terakomodir di dalam sekolah lansia, dengan waktu “belajar” lazimnya satu minggu sekali, selama lebih kurang tiga bulan.

Demi meningkatkan kualitas hidup lansia tetap produktif dan berguna bagi keluarga dan masyarakat, BKKBN mengembangkan program Pembangunan Keluarga Lansia dan Rentan. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup lansia melalui pendampingan keluarga.
Meningkatkan kualitas hidup lansia di antaranya dilakukan BKKBN melalui Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) di tingkat desa/kelurahan, juga mendirikan sekolah lansia di kelompok BKL. Selain itu, memanfaatkan aplikasi Go Lantang (Go Lansia Tangguh) melalui tujuh dimensi lansia tangguh dan perawatan jangka panjang bagi lansia.
Upaya lain yang dilakukan Perwakilan BKKBN Sulawesi Selatan adalah mengadakan Jambore Lansia. Ketua BKL, PEK dan PPKS Perwakilan BKKBN Sulawesi Selatan Ariani Hamsir,S.Kom. sebagai ketua pelaksana menyampaikan tujuan dari pelaksanaan jambore.
“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan peserta dalam perawatan lansia secara mandiri melalui penyediaan informasi dan materi yang disajikan, mensosialisasikan penggunaan dan pemanfaatan aplikasi Go Lantang kepada masyarakat, dan mendorong dukungan lintassektor dan lembaga terkait dalam pelaksanaan kegiatan kelanjutusiaan,” ujar Ariani. (rls)

