MAKASSAR, BKM — Pernyataan keras sebagai bentuk kekecewaan dilontarkan Erwin Abdullah, ayah yang juga pelatih lifter asal Sulsel Rahmat Erwin Abdullah, pemecah rekor dunia angkat besi, yang memperoleh tiga mendali emas dan kembali mempertajam rekor beberapa waktu lalu di Kejuaraan Angkat Besi Asia 2024 di Tashkent, Uzbekistan, Selasa (6/2) lalu.
Erwin Abdullah menyoroti Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel. Menurutnya, meski anaknya Rahmat Erwin Abdullah baru saja membawa nama Sulsel di kancah internasional sebagai juara dunia, termasuk pada kejuaraan sebelum-sebelumnya, namun sama sekali tidak diapresiasi.
”Sama sekali tidak ada respons dari KONI Sulsel, apalagi Pemprov Sulsel. Sama dengan pada kejuaraan sebelum-sebelumnya. Saya buat story di sosial media. Saya tag KONI Sulsel dan Dispora Sulsel. Tapi tidak satupun ada tanggapan yang kami dapatkan,” ujar Erwin Abdullah kepada BKM, Minggu (11/2).
Saat ini Erwin bersama keluarga masih berada di Uzbekistan. Kepada BKM, ia menceritakan sebelum menjadi pelatih angkat besi tim merah putih, jauh sebelum anaknya berprestasi, Erwin Abdullah juga adalah bagian dari tim Indonesia di berbagai ajang internasional. Termasuk salah satu atlet Garuda pada Olimpiade Athena 2004 silam.
Tidak adanya respons itulah hingga akhirnya Erwin mempertanyakan komitmen KONI dan Pemprov Sulsel memajukan prestasi olahraga di daerah ini.
“Mungkin Sulsel sangat tidak siap memiliki atlet juara dunia. Ucapan selamat saja tidak ada,” ucap Erwin Abdullah penuh kecewa.
Erwin juga menyoroti pelitnya Pemprov Sulsel menyediakan anggaran, sarana dan prasarana olahraga bagi atlet untuk berlatih.
“Sungguh luar biasa daerah saya ini. Perlu diketahui, yang lebih parahnya lagi, kami cabang angkat besi ini tidak memiliki tempat latihan sampai saat ini setelah Stadion Mattoangin dibongkar habis,” ungkap Erwin Abdullah.
Dengan ini, ia berharap prestasi olahraga Sulsel, tentu saja akan berdampak pada prestasi olahraga di daerah ini, baik di kancah nasional terlebih pada level internasional. Karena itu desakan mundur disuarakan oleh para pengurus cabor.
Menurutnya, jika sadar tidak mampu, apa fungsi dari KONI Sulsel. Daripada atlet yang sudah latihan keras selama bertahun-tahun jadi korban dan memilih pindah ke daerah lain. Masih banyak orang yang sebenarnya jauh lebih mampu.
”Ini bukti ketidakseriusan para pengelolah KONI Sulsel. Selalu menjadi alasan minimnya alokasi anggaran. Tidak hanya itu, tidak adanya sekadar ucapan selamat kepada Rahmat Erwin Abdullah yang memecahkan rekor dunia dan juara angkat besi dunia menjadi bukti kerja keras atlet yang selama ini mengharumkan nama baik Sulsel dan Indonesia di kancah nasional maupun internasional, tidak dihargai, baik oleh KONI Sulsel,” cetusnya.
Ia juga menyoroti Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadipora). ”Katanya mantan atlet. Kalau mantan atlet tidak seperti itu. Sekadar ditanyakan kabar saja sudah bahagialah kami. Ucapan terima kasihnya saja tidak ada, boro-boro bonus,” tambahnya.
Menurut Erwin, ia ada putranya belum akan kembali ke Makassar dalam waktu dekat. Sebab ada pertandingan di Thailand bulan April nanti yang akan diikuti.
”Kami berani mengangkat nama daerah kami. Hanya saja tidak ada perhatian, pembinaan. Kami menunggu pengurus KONI untuk angkat bicara namun tidak ada,” tandas Erwin.
Dihubungi terpisah, Kadispora Sulsel Suherman, berdalih bahwa ada KONI Sulsel yang mengurus atlet setiap cabang olahraga (cabor).
“Harus bicara ke KONI aturan soal dia mau pindah. Semua dari KONI, bukan Dispora. KONI sebagai perpanjangan tangan dari Dispora. Jadi koordinasinya ke KONI kepada Dispora,” ujarnya singkat.
Menanggapi pernyataan mundur Erwin dan putranya Rahmat, Wakil Ketua KONI Sulawesi Selatan Herman Hading, mengatakan jika mundur dan menolak membela Sulsel di PON itu merupakan hak atlet dan pelatih. Bukan merupakan kewajiban, meskipun sudah berhasil melalui babak kualifikasi.
“Mengikuti PON atau tidak, itu hak atlet dan pelatih yang bersangkutan. Bukan merupakan suatu kewajiban. Kami tidak bisa memaksa,” kata Herman Hading.
Menurutnya, atlet dan pelatih yang bersangkutan ketika sudah resmi mundur tidak dapat lagi memperkuat daerah atau provinsi lain di PON.
“Saya kira ini kita sayangkan. Semoga Pak Erwin dan Rahmat ini tahan dulu sampai PON Aceh dan Sumatera Utara ini selesai,” imbuhnya.
Bagi Herman, terkait perhatian yang dimaksudkan oleh Erwin, apanya yang tidak diperhatikan. ”Perlu diketahui bahwa Pelatnas itu ditangani oleh KONI pusat. Kalau pertandingan Pra-PON itu KONI dari Dispora Sulsel. Berangkat Pra-PON dan dibiayai, dalam hal ini provinsi. Ada 1.000 atlet ikut Pra-PON. Erwin lolos Pra-PON meraih tiga mendali,” jelar Herman lagi.
Bagaimana dengan kesejahteraan? ”Kalau ditanya itu secara penuh memang belum penuh. Tapi bukan hanya Rahmat, tapi semua atlet. Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI) ini juga ada karena Rahmat atlet angkat besi. Sulsel sudah berikan perhatian yang cukup berdasarkan kemampuan. Sekian banyak cabang olahraga punya persoalan. Termasuk soal tempat latihan. KONI sudah cukup perhatian mengajukan 60 cabang olahraga. Finansial cukup banyak. Tapi kalau itu tidak dianggap banyak, jangan samakan dengan daerah lain,” pungkas Herman Hading. (jun)

