pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Bapak Tim Juri, Tiga Anak Ikut Lomba Kaligrafi

SYAHARUDDIN merupakan seorang tim juri di cabang lomba kaligrafi pada MTQ Sulsel ke-XXIX di Kabupaten Barru. Boleh dibilang ia salah satu pemilik keluarga hebat di ajang ini.

Laporan: Rusdi Nasaruddin

SELAIN menjadi juri di tingkat provinsi, tiga anak Syahruddin juga menjadi peserta di cabang lomba kaligrafi yang berlangsung di Aula SMA Negeri 1 Barru.
Hanya saja, saat status keluarga hebat dialamatkan ke dirinya, Syaharuddin memilih merendah dan menyatakan, keluarganya hanya biasa-biasa saja.
Bantahan Syaharuddin yang pernah menjadi juara kaligrafi tingkat ASEAN 1998 di Brunei Darussalam dan juara nasional di Jambi mewakili DKI Jaya 1997, tentu berbanding terbalik dengan realitas yang dicapai keluarganya.
Sebab selain dirinya sudah melanglang sebagai duta nasional di pentas kejuaraan MTQ untuk cabang kaligrafi, bakat dirinya ternyata diwarisi oleh putra putrinya.
Di MTQ Sulsel ke-XXIX di Barru saja, anak pertama hingga anak ketiganya adu kemampuan menulis ayat-ayat Allah di cabang kaligrafi. Anak pertama bernama Rihlah Ilahiyah Azzahri (16), santriwati DDI Bululampang, Mangkoso di Kabupaten Barru mewakili Barru di MTQ Sulsel pada cabang lomba kaligrafi kontemporer.
Anak kedua, Alwan Suhurufi Azzahri (15), siswa kelas III MTs DDI Mangkoso, mewakili Kabupaten Takalar di MTQ kali ini pada kategori kaligrafi hiasan musab. Sementara putra ketiga, Alfan Mutarobiq Azzahri (12) siswa kelas VI SD Inpres Batu-batu Kabupaten Takalar, juga wakil Takalar di kaligrafi.
Alwan, saat MTQ Sulsel di Pinrang tampil sebagai juara harapan 2. Sementara Rihlah, selain pernah juara harapan di MTQ tingkat Sulsel, sejak TK itu juga beberapa kali memboyong juara di Festival Anak Saleh Indonesia (FASI). Bahkan pernah masuk dalam lomba tartil. Lomba mengaji model tartil ini semacam melakukan tadarus dengan berirama. Ketika di SD, Rihlah sudah juara harapan pada MTQ Susel di Palopo.
”Bakat anak-anak mungkin dari saya,” kata Alumni Lembaga Kaligrafi (LEMKA) Ciputat Jakarta ini.
Awalnya, bakat anak-anaknya kelihatan saat mereka suka-suka mencoret dinding tembok di rumah. ”Aksi corat-coret inilah yang menginspirasi kami sebagai orang tua, bahwa di balik yang dilakukan anak-anak itu adalah bakat dan kreativitas yang akan berkembang sendiri. Mungkin kami berbeda dengan orang tua pada umumnya yang marah ketika memergoki anaknya sedang mencorat-coret dinding,” ujar alumni STAI Al-Hikmah, Jakarta ini.
Saat kecil, tidak satupun dari lima putra-putrinya yang diarahkan khusus belajar kaligrafi. Bakat mereka mengalir seperti biasa saja, meski di rumahnya di Galesong, Kabupaten Takalar didirikan Lembaga Kaligrafi Azzuhrufiyah (LEMKA).
Sejak 2002, jebolan DDI Mangkoso ini sudah dipercaya masuk sebagai salah seorang tim juri lomba kaligrafi di MTQ tingkat provinsi. Syahruddin merupakan generasi kedua untuk bidang kaligrafi.
”Sebenarnya bapak saya dulu seorang buta huruf yang hidup di Galesong Utara, Takalar. Tetapi sangat berbakat dalam membuat dan mengukir meubel. Mungkin bakat orang tua juga ada menetes ke saya dan anak-anak,” terangnya.
Syahruddin mengakui, selama menekuni dunia kaligrafi, lebih banyak suka yang dirasakannya. Dari segi ibadah, ia lebih banyak menulis ayat-ayat Allah. Sementara secara ekonomi, juga sangat memberi arti dalam kehidupan keluarga.
”Ketika diamanahkan membuat kaligrafi salah satu masjid besar di Provinsi Gorontalo, karya saya dihargai Rp 500 juta. Jika dihitung-hitung dari pengeluaran biaya operasional dan gaji untuk pekerja yang ikut melakukan penulisan kaligrafi dari hasil itu, ada sekitar Rp 300 juta lebih yang saya terima. Dari hasil itulah yang dipakai membangun rumah di kampung,” beber Syaharuddin.
Perai juara di pentas MTQ nasional Riau dan Jambi inipun tak sungkan membeberkan tarif menulis kaligrafi di masjid. ”Kalau langsung dilukis di tembok masjid dengan memakai cat, harganya antara Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta per meter. Kalau menggunakan bahak mika acrilic, bertarif antara Rp2 sampai Rp 4 juta per meter. Biasanya kami bekerja dibantu lima tenaga yang memiliki keahlian di bidang kaligrafi,” terangnya.
Saat ini, lembaga kaligrafi yang dibuka di rumahnya diikuti sekitar 20 orang berasal dari berbagai kalangan dan beberapa provinsi. Sistem belajarnya dilakukan dengan kesepakatan waktu. Maksudnya, disesuaikan dengan waktu pengajar dan yang mau belajar. (*/rus/b)



×


Bapak Tim Juri, Tiga Anak Ikut Lomba Kaligrafi

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar