PEMUDA Indonesia semakin menunjukkan antusiasme mereka untuk membawa perubahan yang positif dalam masyarakat. Beberapa diantaranya terlibat dalam program besar. Ada juga yang memilih jalan yang lebih kecil namun tak kalah berdampak.
Mereka adalah bagian dari minoritas yang masih peduli terhadap literasi di Indonesia.
Unesco mencatat bahwa hanya 0,001 persen dari penduduk Indonesia menunjukkan minat dalam membaca. Artinya, dari 1.000 orang yang ada di Indonesia hanya satu orang yang minat membaca.
Realitas ini terasa lebih nyata ketika saya melangkahkan kaki ke lapangan, di mana anak-anak lebih terpaku pada layar gadget mereka daripada memegang buku.
Teknologi, meskipun membawa kemajuan, juga telah membawa dampak negatif pada minat baca dan literasi di kalangan generasi penerus bangsa.
Kita sebagai pemuda Indonesia harus sadar akan tantangan ini, tetap berkomitmen untuk terus berdampak di tengah banyaknya dampak negatif dari perkembangan zaman.
Saat melangkah lebih jauh dengan mengunjungi berbagai sekolah, saya menemukan akar masalah yang lebih dalam.
Minimnya minat membaca di kalangan siswa disebabkan oleh kurangnya fasilitas buku yang menarik, membuat perpustakaan sekolah menjadi tempat yang terabaikan.
Selain itu, pengaruh teknologi yang semakin canggih telah menciptakan budaya instan yang membuat siswa malas untuk membaca.
Namun, saya yakin bahwa teknologi juga bisa menjadi bagian besar dari solusi. Dengan memanfaatkannya secara bijak, saya percaya bahwa kita bisa menemukan hal-hal positif dalam perkembangan teknologi saat ini.
Hari ini literasi tidak hanya sebatas membaca dan menulis.
Dengan perkembangan zaman, cakupan literasi telah meluas. Segala hal yang melibatkan analisis dan pemahaman bisa dianggap sebagai literasi. Saya menemukan dorongan dari berbagai pihak, termasuk duta literasi Indonesia dan duta lainnya, yang aktif dalam membangkitkan minat literasi di tengah masyarakat.
Kini, kita melihat semakin banyak Duta Literasi yang bermunculan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang berusaha mengubah paradigma masyarakat tentang pentingnya literasi. Harapan saya sederhana, agar Indonesia pada tahun 2045 nanti, menjadi negara dengan tingkat literasi yang memuaskan.
Dengan semangat dan upaya yang terus menerus, pemuda Indonesia mampu menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari langkah-langkah kecil namun berdampak besar. Kita adalah harapan bagi masa depan bangsa, membawa visi Indonesia Emas 2045, didukung oleh masyarakat yang melek literasi. (jar)

