pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Suara Hati Khadijah, Ibunda Remaja Terduga Anggota Jaringan Teroris

Kalau tidak Bersalahji Kodong, Lepaskan Anakku

BAGAI kejatuhan runtuhan batu, Sitti Khadijah, ibunda remaja usia 18 tahun berinisial MAS yang diduga adalah anggota afiliasi teroris, mengaku nyaris hilang arah. Lutut dan kakinya gemetar begitu salah satu anaknya berteriak; Umi.. Umi.. kakak diculik orang, tangannya diborgol dan dibawa pergi naik motor.
“Saat itu saya kayak kehilangan arah. Serasa mau runtuh, ke jalanan berlari ke sana kemari mencari tahu apa yang terjadi karena anak saya berteriak kakaknya dicuri orang dan diborgol. Perasaan saya campur aduk. Dan ternyata benar, anak saya yang dibawa oleh polisi,” ungkap Siti Khadijah yang ditemui wartawan, Senin (26/5).

MAS, putra sulungnya diamankan Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 terkait dugaan sebagai salah satu anggota kelompok radikal ISIS.
Khadijah mengatakan, dirinya punya tiga orang anak. MAS merupakan anak pertama. Khadijah dan suaminya bekerja apa saja demi membesarkan anak-anaknya.
“Kalau memang dia bersalah, saya dukung polisi. Tapi kalau tidak bersalahji kodong, lepaskanmi itu anakku,” ujarnya lirih.

Khadijah menjelaskan bahwa aktivitas anaknya itu hanya rumah dan pondok tahfiznya. “Selama ini dia lebih banyak di pondok. Kalau pulang hanya sebentar kemudian pergi lagi ke pondok urusi santri-santri atau disuruh sama ustaznya kodong. Selama ini tidak adaji yang berubah dari sikapnya. Biasaji begitu. Kalau dia ada di rumah, biasa kalau sudah salat dia langsung main game atau balas-balas WA. Biasa juga kalau luang waktunya setelah salat biasa dia mengakses lagi internet atau main HP. Tapi saya tidak tahu apa yang dimainkan,” terang Khadijah. Airmata menetes dari kedua sudut matanya.
Ditanya apakah pernah melihat dan mengetahui seberapa ketertarikannya MAS terkait ideologi tertentu, Khadijah menjawab tidak pernah. Tapi, ia melanjutkan kalau anaknya itu kadang mengaku kasihan melihat Palestina diserang.

“Rasa kemanusiaannya. Dia selalu bersimpati pada hal yang terzalimi. Dia itu anak yang patuh. Kalau tidak disuruh, dia itu tidak keluar rumah. Dia keluar kalau biasa disuruh sama bapaknya atau saya. Ituji. Kemarin terakhir itu disuruh pergi mengecor rumah, pulangnya itu dia capek. Terus kemudian disuruh pergi beli air galon. Di situlah kemudian katanya orang anak saya itu ditangkap polisi. Bahkan anak saya atau adiknya bilang, Umi, kakaknya dicuri orang sama motornya dan tangannya diikat,” jelas Khadijah, masih tetap menangis.
Khadijah berharap ada yang bisa membantu membebaskan anaknya. “Semoga ada yang bisa bantu kodong. Kan tidak ada bukti yang kuat kalau dia itu begini begitu. Hanya karena media sosialji toh. Baru yang diakses itu dia tidak tahu kayaknya kalau anu dilarangka. Dia itu kodong kayak di pondoknya betul-betul Al-Qur’an ji seratus persen napelajari, sama tentang akidah begitu. Tauhid yang dia pelajari, ” ungkap Khadijah yang meyakini anaknya tidak tergabung di komunitas apapun.

Khadijah makin sedih karena gegara penangkapan putranya ini, dia dan suaminya diistirahatkan dari pekerjaannya, meski pekerjaan itu tak menghasilkan banyak upah. Kesedihan pun kian bertambah, karena setelah anaknya ditangkap, Khadijah dan suaminya harus kehilangan pekerjaan. Belum lagi menghadapi anggapan miring dari publik.
Namun, Khadijah mengkui bahwa sampai saat ini tetangga-tetangganya sangat baik. Mereka tak ada yang menjauhinya.
“Andai dikasih pilihan, saya mau kasihmi arahan dulu anakku kalau dimungkinkan binami dulu. Karena cita-citaku mauka kasih kuliah kodong anakku di universitas. Mudah-mudahan ini kasusnya cepat selesai. Mudah-mudahan ini Insyaallah tidak terbukti kodong,” ujarnya penuh harap. (sar)



×


Suara Hati Khadijah, Ibunda Remaja Terduga Anggota Jaringan Teroris

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link