MAKASSAR, BKM — Ketua DPD I Partai Golkar, Syahrul Yasin Limpo (SYL) semakin jelas menunjukkan sikap tak terima dengan perlakuan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar terhadapnya.
Kendati pada saat kedatangan Ketua umum DPP Golkar Setya Novanto (Setnov) SYL diiming-imingi posisi dewan pembina, namun Gubernur Sulsel dua periode ini bergeming. Baginya, saat ‘bagi-bagi kue’ kepengurusan Golkar Pusat dan namanya tidak dimasukkan, itu sudah menjadi penilaian tersendiri.
Alhasil, ketika dikonfirmasi seputar posisi yang diberikan Setnov padanya belum lama ini, SYL menanggapi dingin dan acuh tak acuh. Begitu juga ketika ditanyakan, apakah SK sebagai anggota Dewan Pembina Partai Golkar sudah dikantonginya.
“SK? Saya tidak terima. Mudah-mudahan saya tidak lihat,” ujarnya di sela-sela Soft Opening Hotel The Rinra, Rabu (20/7).
Saat ini, tegas SYL, pihaknya lebih baik mengurusi Sulawesi Selatan. Masih banyak program-program yang harus diselesaikan untuk kemajuan provinsi ini. Masih ada proyek-proyek penting dan prestise yang butuh perhatiannya.
Dia memberi contoh, dirinya harus konsentrasi menyelesaikan empat dam besar. Belum lagi proyek fisik, seperti underpass simpang lima, bypass Mamminasata, kereta api, dan masih banyak yang lainnya.
Belum lagi persoalan pendidikan dan kesehatan yang menjadi strong poin pemerintahannya harus dituntaskan. “Sekarang ini saya lebih fokus dan serius urus rakyat,” ungkapnya.
Disinggung isu yang menyebut-nyebut dirinya akan hengkang dalam waktu dekat ke Partai Nasdem, Syahrul ogah berkomentar. “Jammoko tanyakan itu. Bagaimana baru pulang Setnov, kau tanya lagi itu. Sakit lagi kepalaku,” jelas SYL yang juga Ketua Kosgoro Sulsel ini.
Informasi yang dikumpulkan koran ini, Ketua Umum DPP Partai Nasdem, Surya Paloh disebut-sebut sudah mempersiapkan seragam untuk Komandan. Namun, pengurus DPP Nasdem, Akbar Faisal yang dimintai tanggapannya soal seragam buat mantan Bupati Gowa dua periode itu, mengaku tidak tau.
“Nda tau, dak tau. Jangan saya tanya. Saya juga ndak ngerti,” ujar anggota DPR RI ini berkelit.
Jika SYL jadi hengkang ke Partai Nasdem, maka dapat dipastikan orang dekatnya atau kader Golkar yang selama ini menjadi loyalis juga akan ikut pindah. Hal tersebut disampaikan pakar politik yang juga Guru Besar Unhas Prof Dr Armin Arsyad, Rabu (20/7).
Menurut Armin, kalau Komandan pindah, maka dapat dipastikan orang-orang dekatnya atau loyalisnya juga ikut pindah. “Iya (akan pindah). Alasannya, karena saat ini orang bukan lagi menjadi loyalis partai politik, namun merupakan loyalis aktor atau figur,” ujar Armin.
Dia mencontohkan sejumlah kasus pindahnya tokoh yang dibarengi dengan ikut pindahnya loyalis mereka. Seperti saat Edy Sudrajat bertarung dengan Akbar Tanjung di Munas Golkar. “Karena kecewa, Edy Sudrajat akhirnya mendirikan Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) bersama Tri Sutrisno, Hayono Isman dan lainnya,” bebernya.
Selanjutnya, saat Aburizal Bakrie (ARB) mengalahkan Surya Paloh di Munas Riau, maka Paloh selanjutnya membentuk irmas yang dalam perkembangannya menjadi Partai Nasdem.
“Demikian pula saat Harry Tanoesudibjo bergabung dengan koalisi merah putih dan membentuk Partai Perindo lantaran Paloh mendukung Joko Widodo di Pilpres,” jelasnya.
Untuk itu, menurut Armin, dapat diasumsikan banyak politisi lebih loyal ke sosok aktor karena sudah tidak ada lagi pengkaderan yang terlalu berdampak, yang membuat kader mau mati untuk partainya.
“Namun yang mengkader adalah aktor yang membuat dia sejahtera. Itu yang dikenal dengan teori belah bambu. Kalau dipaksakan, maka pecahannya tidak akan belok sampai di ujung karena jaringan itu ikut semua,” ucapnya.
Dalam konteks lokal, Armin juga mencontohkan saat Ilham Arief Sirajuddin meninggalkan Golkar dan bergabung di Demokrat. Pada saat itu Ilham menjadi Wali Kota dari Golkar, partainya yang getol memperjuangkan tata ruang kota Makassar, legislator demokrat yang melawan.
“Saat Ilham menjadi Ketua Demokrat, politisi Golkar selanjutnya yang getol melawan. Di situ penjelasannya mengapa aktor berperan menentukan arah pilihan di partai atau loyalisnya,” pungkas Armin. (rhm/rus)
SYL: Mudah-mudahan Saya tidak Lihat SK di Golkar
×

