MAKASSAR, BKM — Sukacita itu kini berselimut dukacita. Keberhasilan Kota Makassar meraih Piala Adipura Kirana tahun 2016, digelayuti awan duka.
Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan (DPK) Kota Makassar, Syahruddin AR secara tiba-tiba berpulang keharibaan Sang Maha Pencipta, Kamis (21/7) sekitar pukul 13.00 Wita. Padahal, Pemerintah Kota Makassar tengah bersiap-siap untuk menggelar arak-arakan penyambutan piala sebagai supresmasi tertinggi di bidang di lingkungan hidup itu.
Kepergian mantan Lurah Karunrung yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar itu, membuat keluarga, saudara, teman, sahabat serta para koleganya tersentak. Mereka tidak pernah menyangka kalau Syahruddin yang dilantik sebagai di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang sebelum bulan puasa lalu, akan berpulang secepat itu.
Syahruddin mengembuskan nafasnya yang terakhir di Rumah Sakit Grestelina dalam usia 54 tahun. Jenazah almarhum kemudian dibawa ke rumah duka di kompleks perumahan BTN Minasa Upa, Blok B5 nomor 11 untuk disemayamkan.
Sebelum dibawa ke RS Grestelina, pejabat yang dikenal memiliki loyalitas kerja yang tinggi, berintegritas namun santai ini, sempat mengontrol kegiatan pengecatan pohon di beberapa titik ruas jalan sekitar pukul 09.30 Wita. Salah satunya di Jalan AP Petta Rani.
Selanjutnya, Syahruddin bersama rombongan melanjutkan aktivitasnya memantau kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa. Rute yang dilalui dari Jalan AP Petta Rani, masuk ke Jalan Hertasning, berbelok ke Toddopuli lalu ke Jalan Borong.
Ketika melintas di Jalan Borong, di dalam mobil Syahruddin menghubungi petugas kebersihan yang sudah berada di TPA Antang sejak pagi hari. Syahruddin menanyakan makanan dan minuman mereka.
Paar petugas kebersihan itu mengaku sudah makan dan minum. Syahruddin kemudian berinisiatif untuk memberlikan mereka kue di langganannya.
Junaedi, salah seorang ajudan Syahruddin yang ditemui di rumah duka, kemarin menuturkan pada pagi hari pukul 07.30 Wita, kemarin, bosnya itu melaksanakan apel rutin bersama seluruh staf. Selanjutnya ia berkunjung ke kantor BPBD Makassar untuk bersilaturahmi dengan staf yang pernah dipimpinnya di tempat ini.
“Setelah di BPBD, Bapak langsung pergi mengontrol pohon di Jalan Petta Rani. Kemudian lanjut ke TPA Tamangapa. Bapak sempat singgah beli kue di langganannya untuk petugas sampah yang ada di TPA Tamangapa,” ujar Junaedi.
Setelah masuk ke dalam mobil, tambah Junaedi, Syahruddin meminta untuk dipijat punggung dan telapak tangannya. ”Setelah saya pijat, Bapak langsung tertidur. Saya merasa ada yang tidak beres,” kata Junaedi di rumah duka, kemarin sore.
Menyadari kondisi Syahruddin yang lain dari biasanya, Junaedi bersama sopir mobil, Iskandar bersepakat untuk membawa almarhum ke Puskesmas yang ada di Jalan Borong. Namun petugas puskesmas mengarahkan Junaeni membawa Syahruddin ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan dengan alat yang lebih lengkap.
Junaedi pun langsung memboyong kepala dinasnya ke RS Grestelina yang berasa di Jalan Hertasning sekitar pukul 12.56 Wita. Namun Tuhan berkata lain. Suami dari Abni itu berpulang untuk selama-lamanya pada pukul 13.00 Wita, setelah sempat mendapat pertolongan di ruang ICU.
“Saya kaget sekali. Karena bapak sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda akan meninggalkan kita semua. Saya hubungi pihak kekuarga setelah bapak dilarikan ke RS,” ujar Junaeni dengan nada sedih.
Syahruddin meninggalkan dua orang anak. Masing-masing Noor Rezki Ramdhani dan Noor Maulia Minsani. Keduanya telah menyelesaikan kuliah di perguruan tinggi. Rencananya almarhum akan dikebumikan di TPU Panaikang, Jumat (22/7) hari ini.
Wali Kota Makassar, Ramdhan Pomanto yang dihubungi melalui telepon selular saat berada di Surabaya, tak bisa menahan rasa sedihnya mendengar kadisnya itu meninggal dunia. Danny –sapaan akrabnya– yang rencananya hendak melanjutkan perjalanan ke Jambi untuk menerima Piala Adipura, memutuskan untuk kembali ke Makassar.
“Saya sedih. Saya sedih. Almarhum adalah salah satu pejabat saya yang begitu loyal dan pekerja keras. Saya sekarang akan kembali ke Makassar,” ujarnya dengan nada terbata-bata.
Diakui Danny, beberapa hari menjelang penyambutan Piala Adipura, almarhum rutin mengontrol kondisi TPA Antang, sehingga lupa waktu.
Hal yang sama disampaikan Wakil Wali Kota, Samsu Rizal. Saat berkunjung ke rumah duka, kemarin, Wawali yang biasa disapa Deng Ical ini mengaku tidak menyangka kalau Syahruddin akan pergi untuk selama-lamanya.
”Saya sangat berduka atas kepergian almarhum. Namun semua kita kembalikan ke Yang Maha Pencipta. Ajal dan takdir adalah rahasiaNya. Kita hanya bisa mendoakan semoga almarhum mendapat tempat yang layak di sisiNya,” kata Wawali yang datang melayat dengan mengenakan kemeja hitam.
Sekretaris Kota (Sekkot) Makassar, Ibrahim Saleh juga sangat kehilangan atas berpulangnya salah satu pejabat yang begitu sangat berperan membantu menjadikan Makassar lebih baik. Dia berharap, para keluarga serta sahabat-sahabat almarhum diberikan ketabahan serta kekuatan menerima apa yang terjadi.
Ketua Komisi D DPRD Makassar, Mudzakkir Ali Djamil juga merasakan kehilangan yang mendalam atas berpulangnya Syahruddin. Meski baru menjabat sebagai Kadis Pertamanan dan Kebersihan, Mudzakkir menilai Syahruddin sudah mampu memperlihatkan kinerja uang sangat bagus. Bahkan menjelang kepergiannya, ia masih menjalankan tugas sebagaimana mestinya.
”Kita sangat kehilangan. Di awal masa jabatannya ia sudah menunjukkan kinerjanya dengan keberhasilan Makassar meraih Piala Adipura,” kata Mudzakkir, kemarin.
Anggota Komisi A, Abdi Asmara mengakui, sebelum menjadi kepala dinas, Syahruddin sudah dikenal sebagai seorang pekerja keras. ”Kita sering bertemu. Apalagi dia mitra kami di komisi. Orangnya memang pekerja keras dan mau bekerja,” ujarnya.
Di saat mengetahui kepergian Syahruddin, Abdi Asmara yang juga legislator Fraksi Demokrat langsung menyampaikan belasungawak yang sedalam-dalamnya.
”Saya juga baru dengar tadi pas hujan turun. Semoga ini pertanda bahwa meninggal dalam keadaan khusnul khatimah,” imbuhnya. (arf-ita/rus)
Adipura Berselimut Duka
×

