SELAMA dua hari, Kapolri Jenderal Tito Karnavian berada di Makassar. Berbagai agenda dilakukannya pada hari Senin dan Selasa (21-22/8). Ada pula ‘oleh-oleh’ khas yang diberikan kepadanya.
Laporan: Ishak Mappelawa
PAGI-PAGI sekali Kapolri bersama istri, Tri Suswati berada di Mapolda Sulsel, Selasa (23/8). Bersama pejabat dari Mabes Polri, orang nomor satu jajaran kepolisian di negeri ini disambut dengan tari Paduppa.
Prosesi adat kerajaan juga mewarnai penyambutan. Salah satunya dengan payung merah kerajaan, yang dilakukan saat Kapolres berada di halaman mapolda.
Tito yang pernah menjadi salah pejabat di Polda Sulsel mendapat gelar kehormatan dari dewan adat Bone. Pemberian gelar Lamakkasau Daeng Paliwang ini sebagai simbol persaudaraan Kerajaan Bone dan Kerajaan Sriwijaya, yang meliputi kampung halaman Tito di Palembang.
Tak henti-hentinya Tito menghaturkan ucapan terima kasihnya kepada warga Sulsel yang telah memberinya penghargaan dari kerajaan. Diapun kemudian mengakui bahwa dirinya sebagai warga Makassar.
Usai prosesi pemberian gelar, dilanjutkan dengan pengarahan kepada jajaran Polda Sulsel. Kapolda Sulsel, Irjen Pol Anton Charliyan hadir dalam acara ini. Termasuk seluruh perwira serta kapolres.
Dalam kesempatan itu, Kapolri meminta jajarannya untuk selalu berada di tengah masyarakat. ”Saat ini pencitraan polisi di masyarakat cukup baik. Meski begitu, ada juga yang memberi penilaian kurang baik terhadap polisi. Hal itu karena ulah oknum yang tidak bisa menjaga nama baik institusinya. Untuk itu, selaku polisi kita harus menghapus paradigma yang menilai polisi itu hama,” ujarnya.
Ia kemudian mencontohkan program yang tengah digalakkan Polda Sulsel untuk menjaga citra institusi. Personel polda di daerah ini dikerahkan untuk selalu berada di tengah masyarakat.
”Kita lihat sekarang ini di Sulsel. Di tempat-tempat keramaian kerap ada polisi. Seperti di masjid, lapangan ataupun jalan raya. Kapanpun mereka selalu standby. Ini membuktikan bahwa polisi selalu hadir di tengah masyarakat. Merekalah yang memperbaiki paradigma yang dinilai hama itu,” terangnya.
Di bagian lain sambutannya, Tito mengungkapkan jika dirinya hadir di Makassar bukan sebagai tamu. Namun keberadaannya di kota ini karena ia orang Makassar.
”Saya dan istri bukan tamu di sini. Makassar ini rumah kedua saya. Banyak kerabat, sahabat serta saudara-saudara saya di Kota Daeng ini. Karena itu, saya datang ke Makassar melihat rumah kedua saya. Alhamdulillah, saya disambut seperti ini di rumah. Ini tak bisa saya lupakan,” kata Kapolri.
Canda dan tawa juga mewarnai pertemuan. Di sela-sela sambutannya, Tito menyebut Kapolda Sulsel sebagai seniornya. ”Waktu Pak Kapolda menjabat sebagai kapolres, saya masih di bawahnya. Beliau itu senior saya,” katanya yang disambut dengan gerakan mirip sit up di atas kursi oleh Kapolda. Anton melipat tangannya di bagian belakang kepala sambil sesekali menunduk.
Sebelumnya, pada Senin (22/8), Jenderal Tito dijamu Gubernur Sulsel, H Syahrul Yasin Limpo di rumah jabatannya. Dalam pertemuan yang bernuansa kekeluargaan itu, Tito mendapatkan cinderamata berupa badik dari Syahrul.
Malam harinya, bertempat di Hotel Novotel, Kapolri bertemu dengan tokoh masyarakat. Salah satu yang menjadi isu menarik usai pertemuan adalah penanganan penyerangan polisi ke kantor Wali Kota Makassar beberapa waktu lalu.
Kepada wartawan, Tito menjelaskan perbuatan tersebut merupakan perilaku gaya-gayaan yang tidak bisa menahan ego masing-masing. Bukan antarinstitusi, melainkan oknum perseorangan.
”Bentrok Satpol PP dan polisi tak ada kaitannya dengan institusi. Mereka yang terlibat merupakan oknum polisi gaya-gayaan yang tak mampu menahan diri,” kata Kapolri usai malam ramah tamah di Balroom Barru Novotel Jalan Jendral Sudirman. (*/rus)

